Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 22 Februari 2026

Balai Bahasa Sumut Gelar Seminar Bahasa dan Sepeda Bangsa "Dari Barus ke Barus"

Redaksi - Jumat, 21 Februari 2020 20:37 WIB
285 view
Balai Bahasa Sumut Gelar Seminar Bahasa dan Sepeda Bangsa "Dari Barus ke Barus"
Foto SIB/Evy Daeli
Seminar:Jajaran dan staf pegawai BBSU berfoto bersama, usai seminar di Le Polonia Hotel Medan, Kamis (20/2). 
Medan (SIB)
Balai Bahasa Sumatera Utara (BBSU) menggelar seminar nasional Bahasa dan Sepeda Bangsa dengan tema 'Dari Barus ke Barus : Pemusatan Kebudayaan Melayu di Sumatera Utara Menangkal Gelombang "Tsunami" Keabsahan di Le Polonia Hotel Medan, Kamis (20/2).

Seminar itu dilaksanakan untuk membicarakan bagaimana sejarah pergerakan lahirnya bahasa persatuan Indonesia dari Barus dimana tujuan utama yang hendak disampaikan dalam tema besar itu ialah dari Barus ke Barus yang maksudnya untuk menyambungkan mata rantai kebahasaan yang terputus.

Menurut Kepala BBSU Dr Maryanto MHum, Bahasa dan Sepeda Bangsa dipilih menjadi tema ini yaitu sebagai tamsil. Jika dipahami, sepeda tidak akan bergerak maju kalau ada mata rantai rodanya yang terputus.

“Barus pun menjadi titik nol untuk kembali mengayuh sepeda bangsa. Demikian pula bahasa kebangsaan Indonesia akan terputus perjalanannya jika sejarah identitas ke-Indonesiaan ini tehenti, misalnya hanya di seputar titik Melayu Selat Malaka. Maka seminar inilah membicarakan fakta-fakta empiris tentang apa yang terjadi terhadap perkembangan bahasa Indonesia," kata Maryanto.
Maryanto berharap, seminar itu mampu menyambungkan kembali mata rantai bahasa Indonesia yang terputus.

"Selama ini jika kita ditanya bahasa Indonesia itu dari mana, jarang sekali menjawab bahwa peran Sumut ini melahirkan bahasa Indonesia. Nah inilah konteks menyambung mata rantai bahasa yang terputus itu.

Padahal kalau dipahami sebenarnya bahwa di Sumut, bahasa Indonesia sekarang tetap kukuh memerjumpakan lima pemilik bahasa daerah di antaranya Melayu, Batak, Minang, Nias dan Jawa dimana tanpa dampak yang berarti dari gelombang isu kemelayuan. Yang berbahasa ibu Minang tetaplah Minang dan tidak mengklaim sebagai penutur Melayu. Intinya sih masyarakat Melayu di Sumut boleh jadi patron nasional yang mana sangat sejalan dengan visi Sumatera Utara Bermarbat," ujarnya.

Ditambahkannya, seminar ini juga bertujuan mengangkat ketokohan Sanusi Pane dimana sebagai penggerak yang melahirkan bahasa Indonesia untuk menghela persatuan bangsa Indonesia, tetapi juga pendiri lembaga kebahasaan pada tahun 1938 yang dinamakan "Institut Bahasa Indonesia". Dan gagasan kelembagaan bahasa itu sekarang salah satunya terwujudnya unit kerja BBSU sebagai UPT Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Bangkitlah batang yang terendam di dalam air, perairan yang berpotensi terjadinya gelombang tsunami pelemahan identitas keindonesiaan," pungkasnya.

Sementara itu, Plt Wali Kota Medan Akhyar dalam sambutannya berharap masyarakat Medan harus terus mengembangkan kebanggaan terhadap kota ini, termasuk bangga menggunakan bahasa Indonesia berlogat Medan.

“Pemerintah Kota Medan mendukung sepenuhnya seminar ini, karena materi yang dibahas terkait penelusuran sejarah bahasa Indonesia. Banggalah menggunakan bahasa Indonesia sebab dengan bahasa juga menguatkan identitas yang merupakan faktor penting dalam mencapai kemajuan. Identitas dan kebanggaan pada daerah ini akan menjadi spirit dalam meraih prestasi gemilang," katanya.

Hadir pada seminar itu Wakil Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof Dr Haryono, para peneliti, serta budayawan. (M20/q)

SHARE:
komentar
beritaTerbaru