Medan
(harianSIB.com)Ketua Assosiation of Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Sumatera Utara (Sumut),
Surya Salim, mengatakan, diskon
harga tiket rute dalam negeri (DN) masih belum menyamai murahnya
harga tiket di negara tetangga.
"Unik ya, orang Sumatera mau ke Jawa atau destinasi lain di Tanah Air, putar dan mampir dulu di Malaysia dengan cost lebih rendah dibanding direct, misalnya Medan - Jakarta, apalagi Medan - Batam serta kota tujuan lain di Sumatera, Jawa hingga ke Bali," katanya usai menekan tombol dimulainya road show Visit Malaysia (VM) 2026 di Indonesia, Jumat (11/4/2025), di JW Marriott Hotel Medan.
VM 2026 di Indonesia yang dimulai di Medan dibuka Timbalan Pengerusi Tourism
Malaysia YBhg Dato' Yeoh Soon Hin bersama Konsul Jenderal
Malaysia di Medan Shahril Nizam bin Abdul Malek, didampingi Deputi Direktur Tourism
Malaysia Medan Nor Hasni Saidin, General Manager Tourism
Malaysia Medan TW Harsono Pane dan Natasya Andriani, termasuk Direktur Tourism
Malaysia Jakarta Hairi Mohd Yakzan.
Surya Salim tak dapat mengonklusi kenapa penerbangan DN lebih mahal dibanding perjalanan ke luar negeri padahal lebih jauh dengan estimasi (sesungguhnya pasti) lebih mahal tapi dapat ditangani hingga lebih murah. Harga selangit terjadi saat libur bersama seperti Libur Nyepi dan Libur Idul Fitri serta hari ibadah Cheng Beng bagi warga Tionghoa.
"ASITA bersama pemangku kepentingan di industri kepariwisataan terus membahas hal tersebut agar industri pariwisata Indonesia lebih bergairah, tapi masih tidak didapatkan rumusnya," paparnya.
"Bahkan pembicaraan seperti itu sudah melibatkan lintas departemen dan Jakarta, tapi belum juga terselesaikan. Kondisi ini sudah lama berlangsung lho," ujar pria yang terpilih sebagai ketua DPD Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia - Sumut itu melalui Musda XII DPD ASITA Sumut pada Ferbuari 2025 tersebut.
Menurutnya, industri pariwisata di Tanah Air dapat mencontoh bagaimana pihak lain memenej industri perpelancongannya. Hal itu, lanjutnya, harus melibatkan seluruh instansi dan pihak bahkan kelompok di luar pariwisata.
"Industri pariwisata itu terkait banyak instansi dan departemen. Itulah diperlukannya koordinasi," tegas Surya Halim.
Mengenai VM 2026 di Indonesia atau apapun kegiatan terkait kepariwisataan, lanjutnya, ASITA Sumut berterima kasih pada semua pihak khususnya penyelenggara sebab langsung atau tidak langung ikut menggairahkan industri pariwisata dalam negeri.
"ASITA sih inginnya ada kegiatan sejenis yang rutin dilakukan hingga promosi terarah benar-benar terhubung dengan pelaku kepariwisataan did alam negeri," tambahnya.
Sebagaimana diketahui, Tourism
Malaysia rutin mengadakan kegiatan kepariwisataan di sejumlah kota di Tanah Air. Di Sumatera diadakan mulai dari Banda Aceh menyusuri destinasi wisatanya seperti Takengon dan wilayah eksotik lainnya, termasuk Medan serta Tanjungbalai dan kota-kota penting lainnya hingga ke Padang, Palembang, Lampung dan Jambi termasuk Pekanbaru plus Batam.
Road show VM 2026 di Indonesia menyasar kota utama pengekspor wisatawan Indonesia yakni Yogyakarta, Jakarta dan Surabaya yang diadakan hingga Jumat (18/4). Di Kota Medan, bertujuan semakin mengeratkan hubungan antara pelaku industri wisata dan pengelola. Kegiatan di Medan melibatkan 36 pelaku industri yang terdiri dari syarikat pengendali pelancongan (pariwisata), pengusaha produk pelancongan, MM2H, maskapai penerbangan dan pengusaha hotel dari
Malaysia yang akan dipertemukan dengan pegiat industri pariwisata dari Indonesia.
"Semua pihak dilibatkan Tourism Malaysia termasuk airlines seperti Batik Air, AirAsia dan lainnya termasuk pihak hotel dan kelompok UMKM. Itu artinya, banyak pihak terkait di industri pariwisata," simpul Surya Halim.
YBhg. Dato' Yeoh Soon Hin berterimakasih pada pegiat pariwisata Indonesia. Mulai dari ASITA, Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Sumut yang dihadiri ketuanya Erwin Lopolisa serta puluhan anggota, Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Sumut Mitha Hayati Tanjung, termasuk biro perjalanan di sejumlah kota kabupaten di Sumut termasuk pegiat pariwisata Labuhanbajo Irna Karina Kaban asal Berastagi - Karo dan Sales & Marketing Representative Sidney Chua dari Singapura serta Rudy Wijaya. (*)