Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 05 Maret 2026

Sekber Tagih Janji Bobby Nasution Tutup TPL

Tumpal Manik - Senin, 17 November 2025 21:03 WIB
1.340 view
Sekber Tagih Janji Bobby Nasution Tutup TPL
Foto: harianSIB.com/Tumpal Manik
Sekber Gerakan Oikumenis untuk Keadilan Ekologis foto bersama usai konferensi pers, di Kantor JPIC, Jalan Mongonsidi Medan, Senin (17/11/2025).

Medan (harianSIB.com)

Sekber Gerakan Oikumenis untuk Keadilan Ekologis Sumut menggelar konferensi pers di Kantor JPIC, Jalan Mongonsidi Medan Polonia, Senin (17/11/2025). Konferensi digelar untuk menyoroti belum adanya tanggapan dari Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, meski sudah satu minggu berlalu sejak aksi damai yang mendesak penutupan PT Toba Pulp Lestari (TPL).

"Kami menindaklanjuti aksi damai pada 10 November 2025 lalu. Sampai sekarang, kami belum melihat tindakan serius dari Gubernur Sumut Bobby Nasution menanggapi aksi yang dilakukan berbagai daerah, elemen masyarakat dan para rohaniwan," ujar Pastor Walden Sitanggang, OFM.Cap, membuka pertemuan tersebut.

Pastor Walden menegaskan, mereka akan menggelar aksi lanjutan jika dalam satu minggu ke depan tidak ada juga respons dari Gubernur Sumut.

Senada dengan itu, Rocky Pasaribu, Direktur Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), kembali mendesak Bobby Nasution agar menepati janji yang telah disampaikan melalui perwakilannya saat aksi demonstrasi berlangsung.

Baca Juga:
"Tuntutan kami jelas. Kami meminta Gubernur Sumut, sesuai kapasitas dan kewenangannya, menyampaikan rekomendasi kepada pemerintah pusat agar izin PT TPL dicabut. Namun sampai hari ini, kami belum mendapatkan informasi ataupun konfirmasi dari Gubernur," katanya.

Rocky menegaskan, jika rekomendasi penutupan tidak segera dikeluarkan, aksi lanjutan akan kembali dilakukan. Ia menyebut alasan-alasan kuat di balik tuntutan tersebut.

"Permintaan kami untuk menutup PT TPL sangat jelas. Ini merupakan akumulasi kemarahan dan emosi kami selama puluhan tahun, di mana terjadi kekerasan dengan korban mencapai 500 orang akibat aktivitas perusahaan ini. Ada yang meninggal, luka fisik, dipenjara dan lainnya. Kami khawatir akan semakin banyak masyarakat adat dan mahasiswa mengalami hal serupa jika perusahaan ini terus diberi akses beroperasi," jelasnya.

Rocky menambahkan, wilayah operasi TPL sangat tidak layak dijadikan konsesi.

"Daerahnya berbukit sehingga sangat rentan terhadap bencana ekologis. Hampir setiap tahun, wilayah Toba mengalami bencana parah, sekitar 13 kejadian," ungkapnya.

Ia juga mengingatkan, sebelum perusahaan ini beroperasi, kehidupan petani menggantungkan kesejahteraan pada tanaman seperti kemenyan dan lainnya.

"Sekarang, kemenyan yang menjadi kebanggaan masyarakat hilang. Secara ekonomi sangat merugikan. Banyak warga mengeluhkan adanya perampasan agraria. Perusahaan selalu berlindung pada aspek legal, mengabaikan keberadaan masyarakat yang telah lama tinggal di wilayah itu," katanya.

Ia menegaskan, jika kondisi ini terus dibiarkan, penderitaan masyarakat akan semakin dalam. Karena itu, tuntutan penutupan PT TPL akan terus disuarakan melalui aksi lanjutan.

Hal senada disampaikan Jhontoni Tarihoran, Ketua Harian Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Ia meminta Gubernur segera mengeluarkan rekomendasi kepada pemerintah pusat untuk menutup PT TPL.

"Hingga hari ini, belum ada tindakan, bahkan janji-janji sebelumnya pun belum direalisasikan. Dengan berbagai upaya yang sudah dilakukan masyarakat, sangat wajar jika Gubernur segera mengeluarkan rekomendasi tersebut," tegasnya.

Jhontoni juga menyebut warga Sihaporas masih mengalami intimidasi dan ancaman hingga menimbulkan korban baru.

Sementara itu, Lamsiang Sitompul, Ketua Umum Horas Bangso Batak (HBB), mengingatkan janji Gubernur untuk meninjau daerah konflik, bertemu dengan Sekber dan mengeluarkan rekomendasi penutupan PT TPL belum juga dilaksanakan.

Ia juga menyampaikan Komnas HAM saat ini sedang membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) untuk mengusut dugaan pelanggaran di wilayah konflik.

"Karena itu, sebaiknya PT TPL diberi garis polisi sehingga operasinya dihentikan sementara. Jika dalam minggu ini tidak ada tanggapan, kami akan melakukan aksi lanjutan," tandasnya.

Usai memberikan keterangan, empat narasumber Pastor Walden Sitanggang, Rocky Pasaribu, Jhontoni Tarihoran dan Lamsiang Sitompul bersama para peserta kembali menyerukan yel-yel: "Tutup TPL!" yang langsung disambut lantang oleh seluruh peserta. (*)

Editor
: Donna Hutagalung
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Erry Nuradi dan Bobby Nasution Ramaikan Gerakan #2019 Kita Tetap Bersaudara dan Selamanya
Parfi Hadirkan Relawan Berbusana Etnik Sumut Jadi Among Tamu di Resepsi Nikah Kahiyang - Bobby Nasution
Beri Hadiah untuk Kahiyang Ayu - Bobby Nasution, Dorce Gamalama Yakin Tak Menyuap
Ucapan Selamat Artis Asia untuk Kahiyang - Bobby Nasution
Kahiyang Ayu - Bobby Nasution Jadi u2018Bintangu2019 di Resepsi Pernikahan Vicky Shu
 Bobby Nasution Persunting Putri Presiden, Nikahnya November 2017
komentar
beritaTerbaru