Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 15 Februari 2026

Dr RE Nainggolan Dua Kali Tolak Tawaran Menjadi Komisaris TPL

Danres Saragih - Selasa, 25 November 2025 12:05 WIB
638 view
Dr RE Nainggolan Dua Kali Tolak Tawaran Menjadi Komisaris TPL
Ist/SNN
Dr RE Nainggolan MM

Medan(harianSIB.com)

Buku biografi "RE Nainggolan, The Untold Stories" yang diluncurkan, Jumat (21/11/2025) lalu mengungkap banyak fakta menarik.

Salah satunya tentang keputusannya menolak tawaran menjadi Komisaris PT Toba Pulp Lestari (TPL), perusahaan publik yang bergerak di bidang industri pulp dan kertas serta memiliki konsesi hutan tanaman industri di Sumatera Utara.

Salah satu bagian yang mencuri perhatian dalam buku itu adalah prinsipnya dalam memandang jabatan tidak sekadar kekuasaan, melainkan amanah yang hanya pantas diemban bila ia benar-benar yakin mampu menunaikannya dengan penuh tanggung jawab.

Selama puluhan tahun kariernya, RE memang dipercaya memegang berbagai posisi strategis, mulai dari birokrasi pemerintahan, lembaga pendidikan, hingga organisasi sosial. Namun, berbeda dari banyak tokoh publik lain, ia dikenal tidak pernah mengejar jabatan.

Baca Juga:
Dalam biografi itu terungkap bahwa ia berkali-kali menolak posisi yang secara kasat mata menggiurkan, baik dari segi prestise maupun kompensasi ekonomi. Baginya, jabatan tidak boleh diambil hanya demi kebanggaan atau penampilan di atas kertas.

"Kalau tidak yakin, jangan diterima," tegas RE dalam buku tersebut sebuah prinsip yang sepanjang hidupnya terbukti ia pegang teguh.

Salah satu kisah yang diangkat adalah penolakan halus RE terhadap tawaran menjadi Komisaris PT TPL. Tawaran itu datang tak lama setelah ia memasuki masa purnabakti. Bahkan ketika jajaran Direksi TPL kembali mendekatinya saat ia berada di Jakarta, RE tetap menolak baik-baik.

Ia merasa tidak akan memiliki waktu yang cukup untuk mengemban tanggung jawab tersebut, terlebih saat itu ia masih menerima sejumlah amanah lain.

Penolakan serupa terjadi pada beberapa tawaran jabatan lain. Buku itu menggambarkan bagaimana RE selalu menimbang dengan cermat apakah dirinya benar-benar orang yang tepat untuk tugas tersebut bukan hanya dari sisi kompetensi, tetapi juga kesiapan hati dan waktu.

Sebaliknya, ketika menerima satu tugas, sekecil apa pun, ia memberikan dirinya sepenuhnya. Bahkan ketika "hanya" diminta menjadi penasihat Serikat Tolong Menolong (STM) di komunitas tempat tinggalnya, ia menjalankan amanah itu dengan kesungguhan yang sama seperti ketika menduduki jabatan publik.

Integritas RE tidak hanya terlihat dalam sikapnya terhadap jabatan, tetapi juga dalam memandang penghargaan. Buku itu mengungkap bahwa ia pernah menolak tawaran gelar Profesor Kehormatan dari sebuah perguruan tinggi terkemuka. Alasannya sederhana namun mencerminkan kerendahan hati ia merasa penghargaan tersebut belum layak diberikan.

Sikap konsisten menempatkan makna dan tanggung jawab di atas ambisi pribadi menjadi benang merah dalam perjalanan hidup RE Nainggolan.

Melalui buku "The Untold Stories", pembaca diajak melihat sosok yang mengukur keberhasilan bukan dari panjangnya daftar jabatan, tetapi dari kemampuan menghadirkan perubahan dan meninggalkan jejak yang bermanfaat. Buku itu sekaligus menjadi pengingat bahwa integritas masih memiliki tempat terhormat dalam kepemimpinan Indonesia. (*)

Editor
: Wilfred Manullang
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Dr RE Nainggolan MM: N4J Lahir karena Prihatin akan Maraknya Upaya Perlawanan kepada Pemerintah
Ketua Umum DPP N4J Dr RE Nainggolan MM Gelar Rapat
KH Ma ruf Amin Sambut Gembira Kedatangan RE Nainggolan dan Dukungan Relawan N4J-MA
RE Nainggolan dan Bupati se-Kawasan Danau Toba Temui Menteri PPN/Bappenas
Dr RE Nainggolan: Kaum Muda Diminta Teladani Nasionalisme Pendiri Bangsa
Dr RE Nainggolan, Uskup Agung Medan dan Pimpinan Pomparan Raja Lontung Isi Doa Akbar di Danau Toba
komentar
beritaTerbaru