Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 25 Maret 2026

Rosmalinda Dorong Transformasi Pengelolaan Sampah Lewat Program Bank Sampah Berbasis GEDSI di Bandar Khalipah

Rickson Pardosi - Selasa, 09 Desember 2025 13:24 WIB
531 view
Rosmalinda Dorong Transformasi Pengelolaan Sampah Lewat Program Bank Sampah Berbasis GEDSI di Bandar Khalipah
Foto: Dok/Tasya Hapsari
Rosmalinda foto bersama warga Desa Bandar Khalipah, kawasan Jalan Mansyurdin Gang Anggrek Merah, beberapa waktu lalu.

Medan(harianSIB.com)

Revitalisasi lingkungan di Desa Bandar Khalipah, kembali digencarkan melalui Proyek Desa Binaan Universitas Sumatera Utara (USU). Program yang mulai berjalan sejak Juli 2025 itu dipimpin Rosmalinda, Dosen Fakultas Hukum USU, yang kali ini mengambil langkah lebih berani dengan mengusung pendekatan Bank Sampah Berbasis GEDSI (Gender, Disabilitas dan Inklusi Sosial).

Dalam proyek itu, Rosmalinda bermitra dengan Fakultas Teknik Lingkungan dan Fasilkom-TI, menghadirkan pola kerja lintas disiplin yang tidak hanya mengolah sampah, tetapi sekaligus menantang cara pandang masyarakat terhadap inklusivitas sosial.

Program tersebut didanai sepenuhnya oleh USU, tanpa dukungan anggaran langsung dari pemerintah daerah, sebuah fakta yang menjadi salah satu titik sorotan dalam kegiatan tersebut.

Desa Bandar Khalipah, khususnya kawasan Jalan Mansyurdin Gang Anggrek Merah 3 No. 3, Dusun 17, yang selama bertahun-tahun menghadapi krisis sampah yang membebani kesehatan dan kenyamanan warga. Tumpukan sampah yang tidak tertangani menjadi pemandangan sehari-hari.

Baca Juga:
Namun, hingga kini, sarana dasar seperti Tempat Pembuangan Sementara (TPS) belum tersedia.

Kondisi itu menjadi salah satu alasan utama Rosmalinda turun tangan. Ia menilai krisis sampah di desa bukan hanya akibat perilaku masyarakat, tetapi juga akibat minimnya intervensi struktural.

Dengan membawa pendekatan GEDSI, Rosmalinda mencoba memastikan program itu tidak hanya sekadar mengumpulkan sampah dan mengubahnya menjadi nilai ekonomi, tetapi juga menciptakan ruang yang benar-benar adil bagi seluruh warga.

Ia menegaskan, prinsip "no one left behind" harus hadir di tingkat paling bawah, di mana perempuan harus terlibat, penyandang disabilitas harus diberi akses, kelompok rentan harus diikutsertakan dan anak-anak harus mendapat manfaat tidak langsung dari lingkungan yang lebih sehat.

Melalui kerja sama dengan Dosen Teknik Lingkungan Hafizhul Khair dan Dosen Fasilkom TI Ade Candra, serta dukungan mahasiswa dari tiga fakultas, program tersebut dibangun dengan pendekatan teknis dan sosial yang terintegrasi.

Bank Sampah tidak hanya mengumpulkan dan menukar sampah menjadi uang, tetapi juga menjadi sumber pembiayaan bagi kegiatan edukasi informal seperti mengaji dan calistung yang dipandu oleh tokoh masyarakat Sony Suciati.

Dalam menjalankan program ini. Ia memegang teguh prinsip Theory of Change. Baginya, perubahan tidak perlu besar di awal, satu langkah kecil pun adalah pemicu transformasi. "Never think too much, one change is a change," tegasnya.

Di tengah keterbatasan fasilitas dan seringnya warga merasa diabaikan oleh pemerintah, Rosmalinda berupaya mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa perubahan tetap mungkin terjadi jika ada komitmen dan konsistensi. Meski program ini menunjukkan dampak yang mulai tampak, Rosmalinda menilai bahwa tanpa keterlibatan pemerintah, upaya ini akan terhambat.

Dalam wawancara saat kegiatan penimbangan sampah di Bandar Khalipah Sabtu, 8 November 2025, ia secara lugas menyerukan agar Pemerintah Kabupaten Deliserdang tidak menutup mata terhadap persoalan nyata di Bandar Khalipah. Menurutnya, pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab masyarakat atau kampus, tetapi juga tugas negara yang harus menyediakan fasilitas dasar.

"Harapan saya bisa berlanjut, itu saja. Tapi pemerintah Kabupaten Deli Serdang harus mau bekerjasama dengan kecamatan dan Desa Bandar Khalipah. Tanpa itu, bagaimana masyarakat bisa sejahtera?" ujarnya.

Program Bank Sampah berbasis GEDSI itu bukan hanya proyek pengabdian, tetapi juga bentuk kritik terhadap sistem pengelolaan lingkungan yang belum berjalan efektif. Sementara USU terus berupaya mengisi kekosongan peran negara melalui kegiatan pemberdayaan, masyarakat masih menunggu solusi struktural yang lebih komprehensif.

Melalui kepemimpinan Rosmalinda, proyek tersebut menjadi contoh bahwa perubahan bisa dimulai dari komunitas kecil, namun tanpa dukungan pemerintah, perubahan itu terancam berhenti di tengah jalan.(**)

Editor
: Donna Hutagalung
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Wabup Labusel Berharap KLHK Buat Bank Sampah
Bank Sampah Pegadaian Efektif Kurangi Sampah dan Sejahterakan Warga
Umar Minta Bank Sampah dan Kreativitas Daur Ulang Ditingkatkan
u201cBank Sampahu201d Jadikan Sampah Bukan Momok Lagi
Relawan Antinarkoba Dirikan Bank Sampah Jaga Kebersihan Medan
Ketua FP Golkar DPRD Medan Ingatkan Camat Galakkan Program Bank Sampah
komentar
beritaTerbaru