Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 07 Maret 2026

Hasil Otopsi Dibacakan Penyidik, Keluarga Temukan Dugaan Kejanggalan Kematian Pegawai Lapas di Labuhan Bilik

Rido Sitompul - Selasa, 06 Januari 2026 20:53 WIB
2.665 view
Hasil Otopsi Dibacakan Penyidik, Keluarga Temukan Dugaan Kejanggalan Kematian Pegawai Lapas di Labuhan Bilik
Foto: harianSIB.com/Dok
Mariama Gustiani disamping peti jenazah korban.

Medan (harianSIB.com)

Keluarga almarhum Samuel Alexander, pegawai Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Labuhan Bilik yang meninggal dalam peristiwa kebakaran rumah kos, mengungkap sejumlah temuan hasil otopsi yang dibacakan penyidik Polres Labuhanbatu.

Temuan tersebut dinilai keluarga mengandung kejanggalan dan memunculkan dugaan adanya kekerasan sebelum kebakaran terjadi.

Hal itu disampaikan Maya Pandiangan, kakak kandung korban, usai menghadiri pembacaan hasil otopsi oleh penyidik Polres Labuhanbatu pada Jumat, 2 Januari 2026.

Menurut Maya, dirinya bersama bapa uda (adik ayah mereka) berangkat dari Lubuk Pakam ke Polres Labuhanbatu untuk memenuhi undangan penyidik guna mendengarkan hasil otopsi yang dilakukan pihak rumah sakit.

Baca Juga:
"Sesampainya di Polres Labuhanbatu, penyidik membacakan hasil otopsi. Kami hanya mendengar dan mencatat karena penyidik menyampaikan bahwa yang berwenang menjelaskan hasil otopsi adalah dokter atau ahli forensik," ujar Maya kepada wartawan didampingi tim kuasa hukumnya di antaranya, Ridho Rejeki Pandiangan, Bintang Christine dan R Sitompul, di Medan, Selasa (6/1/2026).

Maya menjelaskan, hasil otopsi yang dibacakan penyidik terdiri dari dua lembar dan mencatat adanya patah tulang pada lutut kanan serta kaki kanan dan kiri korban.

Selain itu, dalam pemeriksaan bagian dalam tubuh, ditemukan sejumlah kondisi medis, di antaranya tidak dijumpainya kelenjar getah bening dan kelenjar gondok. Pada irisan paru ditemukan buih-buih halus yang sukar pecah, bintik kemerahan, serta bercak hitam di seluruh lapang paru. Limpa berwarna pucat dengan permukaan keriput, kelenjar liur perut berwarna pucat dan permukaan berbatu, usus dua belas jari berisi lendir kekuningan, lambung masih berisi sisa makanan yang sedang dicerna. Lalu ginjal kanan berwarna ungu pucat, kandung kemih berisi cairan encer berwarna kuning keruh.

Dalam hasil tersebut juga disebutkan pemeriksaan laboratorium dan histologi forensik tidak dilakukan, namun terdapat pengambilan sampel darah dan cairan lambung.

"Yang membuat kami mempertanyakan adalah adanya patah tulang di kedua kaki. Menurut kami, itu mengindikasikan kemungkinan adanya kekerasan sebelum kebakaran terjadi," kata Maya.

Sementara itu, ibu korban, Mariama Gustiani, mengungkap kronologi yang mereka peroleh berdasarkan keterangan rekan-rekan almarhum. Mariama mengatakan, ia pertama kali menerima kabar duka pada Minggu malam, sekitar pukul 22.00 WIB, setelah mendapat telepon dari Kepala Lapas Labuhan Bilik, Leo Panjaitan, yang menyampaikan Samuel meninggal dunia akibat kebakaran rumah kos sekitar pukul 20.00 WIB.

"Anak saya bekerja di Lapas Labuhan Bilik sejak April 2022 sebagai sipir tahanan. pada pertengahan Oktober 2025, diangkat sebagai ajudan Kalapas," ujar Mariama.

Setelah menerima kabar tersebut, Mariama bersama beberapa tetangga langsung menuju RSUD Rantauprapat. Pihak rumah sakit menyampaikan jenazah Samuel harus diotopsi karena kondisi jasad sudah hangus terbakar dan tidak dapat dikenali secara kasat mata.

"Setelah otopsi, kami hanya menerima dokumen serah terima jenazah. Hasil otopsi hanya diijinkan dibacakan di Polres tanpa diberikan salinan dan pemeriksaan DNA tidak dilakukan," katanya.

Jenazah Samuel kemudian dimakamkan di Lubuk Pakam pada 23 Desember 2025.

Usai pemakaman, keluarga memperoleh informasi dari rekan-rekan kerja korban. Berdasarkan keterangan tersebut, pada Minggu dini hari, sekitar pukul 03.00 WIB, Samuel baru kembali ke kos setelah mengikuti latihan Natal di kantor.

Samuel kemudian beristirahat dan baru bangun sekitar pukul 13.00 WIB,, setelah dibangunkan rekan sekamarnya, Samuel Agripa. Sekitar pukul 14.00 WIB, Samuel mandi dan bersiap pergi.

"Kepada dua rekannya, Samuel hanya mengatakan ada 'undangan', tanpa menjelaskan lebih lanjut. Ini tidak biasa karena anak saya dikenal terbuka," ujar Mariama.

Sekitar pukul 14.30 WIB–15.00 WIB, Samuel keluar untuk makan siang dan bertemu rekannya bernama Fadli, kepada siapa ia menyebut undangan tersebut berasal dari PLN. Setelah itu, Samuel pergi dan tidak lagi memberi kabar.

Menjelang magrib sekitar pukul 18.00 WIB, seorang warga melihat beberapa orang berkumpul di teras rumah kos yang kemudian terbakar. Saksi juga mendengar suara musik keras dari dalam kos.

Berdasarkan bukti percakapan WhatsApp yang dimiliki keluarga, Samuel masih aktif berkomunikasi sekitar pukul 19.30 WIB. Sekitar 30 menit kemudian, kebakaran hebat terjadi dan menghanguskan bangunan kos.

Dalam peristiwa itu, Samuel Alexander dan James Markus Purba ditemukan meninggal dunia, sementara tiga orang lainnya selamat.

Keluarga juga menilai kondisi fisik korban yang memiliki latar belakang bela diri karate seharusnya memungkinkan untuk menyelamatkan diri.

"Kami hanya ingin kebenaran terungkap. Kami ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada anak kami," ujar Mariama. (*)

Editor
: Donna Hutagalung
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Ribuan Kendaraan Dipaksa Masuk Markas Polres Labuhanbatu
Kapolres Frido Sarankan Keluarga Otopsi Jenazah Suheri
Wasops Polri Tinjau Kesiapan Polres Labuhanbatu Amankan Pileg dan Pilpres
Kasat Resnarkoba Polres Labuhanbatu Ajak Pers Ikut Berantas Narkoba
Dua Anggota Polres Labuhanbatu Dipecat
KPK Periksa 8 Saksi Terkait OTT Pangonal Harahap di Polres Labuhanbatu
komentar
beritaTerbaru
BBM Mulai Langka di Saribudolok

BBM Mulai Langka di Saribudolok

Simalungun(harianSIB.com)Bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite dan solar mulai langka di daerah Saribudolok, Kecamatan Silimakuta, Kabupa