Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 28 Januari 2026

Para Pendeta, Guru Huria dan Sintua Ngadu ke DPRD SU Tidak Lagi Pake Jubah di Kebaktian Minggu

Firdaus Peranginangin - Senin, 26 Januari 2026 18:58 WIB
637 view
Para Pendeta, Guru Huria dan Sintua Ngadu ke DPRD SU Tidak Lagi Pake Jubah di Kebaktian Minggu
Foto/harianSIB.com/Firdaus
Viktor Silaen SE MM dan Ebenejer Sitorus SE MM

Medan(harianSIB.com)

Para pendeta, guru huria, dan sintua dari sejumlah gereja di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) menyampaikan keluhan mendalam kepada anggota DPRD Sumut Viktor Silaen SE MM dan Ebenejer Sitorus SE MM, terkait dampak banjir dan longsor yang melanda daerah mereka.

Para pelayan gereja tersebut mengaku tidak lagi mengenakan jubah dan jas saat kebaktian Minggu maupun ibadah lainnya, karena perlengkapan ibadah mereka hanyut terbawa banjir dan longsor yang terjadi beberapa waktu lalu.

Keluhan itu disampaikan langsung saat kedua anggota DPRD Sumut tersebut melakukan kunjungan kerja ke Sibolga dan Tapteng, Senin (25/1/2026) guna mendengar aspirasi maupun jeritan hati para pelayan Tuhan yang terdampak langsung bencana alam di kedua daerah tersebut.

"Jubah pendeta, jas sintua, serta pakaian resmi kebaktian lainnya tidak dapat diselamatkan, ketika air bah dan material longsor menerjang pemukiman warga di Sibolga dan Tapteng, sehingga meninggalkan duka dan keprihatinan mendalam," tambah Viktor dan Ebenejer.

Baca Juga:
Namun demikian, ujar Ebenejer, meski dalam kondisi serba kekurangan, para pendeta, guru huria, dan sintua tetap setia melayani jemaat. Mereka kini memimpin ibadah hanya dengan pakaian seadanya, tanpa jubah dan jas yang selama ini menjadi simbol pelayanan mereka.

"Kita benar-benar sangat miris mendengar keluhan para pendeta, guru huria, dan sintua ini. Akibat banjir dan longsor, jubah dan jas mereka hanyut, sehingga terpaksa beribadah dengan pakaian biasa," ujar Ebenejer Sitorus.

Menurut kedua legislator tersebut, para pelayan gereja merupakan bagian dari masyarakat yang juga menjadi korban bencana dan membutuhkan perhatian, empati, serta uluran tangan dari berbagai pihak.

"Mereka berharap kondisi ini dapat mengetuk hati jemaat, gereja, dan masyarakat luas untuk tergerak membantu, agar para pendeta, guru huria, dan sintua kembali memiliki jubah dan jas sebagai perlengkapan pelayanan pasca bencana banjir dan longsor di Sibolga dan Tapteng," ujar Viktor.

Ebenejer dan Viktor Silaen bahkan mengimbau kepada Pemprov Sumut, Pemkab/Pemko di Sumut, hendaknya ikut berempati meringankan beban penderitaan para pendeta, sintua dan guru huria ini, dengan menyisihkan anggaran dari APBD Sumut maupun kabupaten/kota yang ikut terdampak, untuk segera dilaksanakan.(*).

Editor
: Robert Banjarnahor
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Ibadah Tahun Baru 2026 di HKBP Teladan Berlangsung Khidmat
Jemaat GKPI Hutanabolon Rayakan Natal dalam Tenda Pengungsian
Natal Pemkab Sergai Meriah dan Penuh Sukacita, Diwarnai Penyerahan Insentif kepada Guru Sekolah Minggu
RS Adam Malik Gelar Natal Bersama Pasien, Hadirkan Kehangatan dan Pengharapan
Perkuat Iman dan Integritas, Polres Tanjungbalai Gelar Binrohtal Rutin
RPH HKBP : Ketika Bertemu dengan  Kritik dan  Sudut Pandang (Sebuah Catatan Konstruktif Jemaat)
komentar
beritaTerbaru