Gagal Curi Kabel Tower Telkomsel, Seorang Pemuda di Siantar Ditangkap Polisi
Pematangsiantar(harianSIB.com)Seorang pemuda berinisial MWH (19) ditangkap aparat Polsek Siantar Marihat saat hendak mencuri kabel tower jar
Medan(harianSIB.com)
Akademisi yang juga pengamat kebijakan publik, Shohibul Anshor Siregar mengatakan, fenomena mundurnya sejumlah Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) secara beruntun, memang menjadi anomali dalam budaya birokrasi. Sebab, dari yang biasanya jabatan eselon II dikejar dan dipertahankan habis-habisan, di Sumatera Utara belakangan ini trennya justru berbalik.
Hal itu dikatakan Shohibul Anshor Siregar menjawab Jurnalis SIB News Network (SNN) di Medan, Kamis (12/2/2026).
"Secara administratif, mundurnya satu atau dua orang mungkin dianggap dinamika biasa. Namun, jika jumlahnya mencapai enam orang dalam waktu singkat, dan belum dapat diprediksi apakah masih akan ada yang menyusul ke depan, ini menjadi indicator tentang adanya yang harus ditelisik, setidaknya sumbatan komunikasi atau ketidakcocokan sistemik," kata dosen yang aktif mengajar di UMSU Medan itu.
Shohibul menduga, ada beberapa poin krusial sehingga fenomena ini perlu divalidasi. Pertama, standar vs realitas lapangan. "Jika alasannya adalah "standar tinggi" yang dipatok pimpinan (Gubsu), pertanyaannya adalah apakah standar tersebut realistis dengan dukungan anggaran dan regulasi yang ada? Tanpa sinkronisasi, standar tinggi hanya akan berubah menjadi tekanan psikologis," katanya.
Baca Juga:Kedua, kehilangan SDM berpengalaman. "Mereka (para OPD-red) lolos seleksi dan kalau tidak kompeten tidak akan diamanahi tugas itu. Mundurnya mereka berarti hilangnya institutional memory (pengalaman kolektif) yang penting bagi keberlanjutan program pembangunan," katanya.
Ketiga, efek domino pada pelayanan publik. Menurut Shohibul, birokrasi yang diisi Pelaksana Tugas (Plt) biasanya tidak memiliki kewenangan penuh dalam pengambilan kebijakan strategis, sehingga bisa memperlambat serapan anggaran dan eksekusi program.
MORAL DAN KENYAMANAN
Maka dalam hal mundurnya para Kepala OPD itu, kata Shohibul, setidaknya dua pertimbangan utama yang perlu diperiksa dari sudut pandang manajemen pemerintahan.
Pertama, pertimbangan moral. Jika mundur karena merasa gagal atau melakukan kesalahan, ini adalah preseden positif yang jarang terjadi di Indonesia (budaya malu). Namun, jika mundur karena "dipaksa" melakukan sesuatu yang melanggar integritas, atau yang berada di luar kemampuannya, ini adalah alarm bahaya.
Kedua, rasa tidak nyaman (psikologis). Lingkungan kerja yang transaksional atau penuh tekanan "instruksi instan" tanpa prosedur yang jelas, seringkali membuat birokrat karier merasa terancam secara hukum di masa depan, sehingga lebih memilih mundur daripada berakhir di meja hijau.
CAMPUR TABGAN KEMENDAGRI
Menurut Shohibul, dalam kaitan Kemendagri memiliki fungsi pembinaan dan pengawasan (Binwas), masukan dari mereka yang mundur sangat berharga, karena mereka yang sudah mundur dan berada di luar sistem, biasanya lebih berani bicara jujur (tanpa beban jabatan) mengenai apa yang sebenarnya terjadi di dapur pemerintahan daerah.
Hasilnya bisa menjadi bahan untuk memperbaiki pola kepemimpinan atau regulasi internal agar tidak terjadi "bedol desa" pejabat di daerah lain.
"Untuk hal ini, ada catatan khusus saya, yakni kepemimpinan yang kuat memang dibutuhkan untuk mendobrak kekakuan birokrasi, namun kepemimpinan yang efektif harus mampu merangkul eksekutornya agar visi besar bisa mendarat dengan selamat di masyarakat," kata Shohibul.
Begitupun, lanjutnya, khusus untuk kasus yang terjadi di Sumut ini, ada sejumlah hal yang perlu dipertimbangkan sebagai masukan. Di antaranya, evaluasi keselarasan gaya kepemimpinan dengan regulasi (leadership alignment). Investigasi faktor psikologis dan keamanan kerja (psychological safety). Audit integritas melalui "exit interview" formal. Analisis efektivitas sistem seleksi terbuka (open bidding).
Kemudian dampak terhadap stabilitas dan kelanjutan orogram (continuity audit) serta rekomendasi mitigasi dan dendampingan.
"Kesimpulan untuk Pengawas, mundurnya satu pejabat adalah dinamika, namun mundurnya enam pejabat secara beruntun adalah sinyalemen kegagalan sistemik dalam pembinaan kepegawaian atau adanya pola komunikasi kepemimpinan yang perlu dikoreksi demi menjaga integritas pemerintahan daerah," kata Shohibul. (**)
Pematangsiantar(harianSIB.com)Seorang pemuda berinisial MWH (19) ditangkap aparat Polsek Siantar Marihat saat hendak mencuri kabel tower jar
Humbahas(harianSIB.com)Bupati Humbang Hasundutan (Humbahas), Dr. Oloan P. Nababan SH MH menyerahkan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD
Karo(harianSIB.com)Ratusan massa yang tergabung Elemen Masyarakat Karo menggelar aksi unjuk rasa damai di depan Kantor DPRD dan Kejaksaan Ne
Medan(harianSIB.com)Kunjungan pasien di RS Adam Malik selama libur Lebaran 2026 hingga hari pertama kerja pasca libur terpantau relatif stab
Simalungun(harianSIB.com)Bupati Simalungun, Anton Achmad Saragih minta para Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk meningkatkan pelayanan ke masy
Medan(harianSIB.com)PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Sumut menambah pasokan daya listrik sebesar 49,99 MVA melalui penandatangan
Taput(harianSIB.com)Sebuah baliho berukuran besar masih terpampang mencolok di depan Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Tapanuli Utara (Taput
Medan(harianSIB.com)Personel Subdit II Subdit Fismondev Ditreskrimsus Polda Sumut menangkap Andi Hakim Febriansyah, mantan kepala Kas Bank B
Medan(harianSIB.com)Mengawali hari pertama kerja setelah cuti bersama Idul Fitri, Kanwil Kemenkum Sumut menggelar Apel Pagi yang dipimpin la
Pematangsiantar(harianSIB.com)Sebuah truk bermuatan pupuk menabrak gapura di Jalan Bahagia, Simpang Jalan Gereja, Kelurahan Kristen, Kecamat
Simalungun(harianSIB.com)Pengemudi truk yang gagal nanjak di jalan alternatif KM 0607 Simpang Palang menuju Simpang SitahoanParapat, di Du
Jakarta(harianSIB.com)Seorang anggota TNI yang menjadi pasukan Perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon tewas akibat serangan. Selain itu ada angg