Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 03 Maret 2026

Prof DR Ir Abdul Rauf Bimbing Masyarakat Buat Pupuk Kompos dari Sampah Organik di Sunggal

- Senin, 07 September 2015 10:12 WIB
915 view
Prof DR Ir Abdul Rauf Bimbing Masyarakat Buat Pupuk Kompos dari Sampah Organik di Sunggal
SIB/Sahat Pasaribu
Prof Dr Ir Abdul Rauf MP (baju kaos liris) bersama kelompok swadaya Miri Asri sedang mengamat proses pembusukan sampah yang diolah menjadi kompos di Desa Sei Semayang Kec Sunggal Deli Serdang.
Medan (SIB)- Sampah merupakan masalah yang dihadapi hampir di seluruh kota di Indonesia. Rata-rata setiap harinya kota-kota besar di Indonesia menghasilkan puluhan ton sampah. Tumpukan sampah terjadi dimana-mana, karena tidak ada upaya mengolahnya sehingga mengganggu penduduk. Selain baunya yang tidak sedap, sampah menjadi sumber wabah penyakit. Sampah juga dapat diubah menjadi barang yang bermanfaat dengan cara di daur ulang dengan terlebih dulu harus dipilah hingga tiap bagian dapat dikomposkan atau di daur ulang.

Menurut Prof Dr Ir Abdul Rauf MP, sampah dapat dikelompokan menjadi sampah organik dan sampah anorganik (non organik). Sampah organik atau sering disebut sampah basah merupakan sampah yang dapat terurai secara alami, artinya bahan sampah tersebut dapat membusuk tanpa harus di daur ulang.
Sampah organik dihasilkan dari kegiatan rumah tangga seperti proses memasak, pertanian, kotoran hewan, dan sebagainya. Sampah ini lebih ramah terhadap lingkungan karena secara alami akan terurasi oleh bakteri.

Sedangkan sampah non organik merupakan sampah hasil industri maupun hasil pengolahan bahan mineral dan minyak bumi. Sampah yang sering disebut juga dengan sampah kering ini sangat susah terurai oleh alam,sehingga kalau sampai jumlah sampah tersebut menumpuk dalam tanah maka akan mengakibatkan pencemaran tanah dan lingkungan.

Ditemui di lokasi pengolahan pupuk kompos yang berasal dari tumpukan sampah di Kampung/Pondok Miri Asri Desa Sei Semayang Kecamatan Sunggal Kabupaten Deliserdang, Prof Dr Ir Abdul Rauf MP,Sabtu (5/9) mengungkapkan, tempat pengolahan sampah  yang baru hampir berjalan lebih kurang sebulan itu terbentuk atas inisiatif dari kelompok swadaya masyarakat Miri Asri. Dimana kelompok itu terdiri dari anggota TNI Koramil Sunggal dan warga sekitar.
“ Kelompok masyarakat ini sangat peduli terhadap lingkungan. Mereka saya bimbing, sedangkan bahan baku untuk pupuk kompos dimanfaatkan dari pembuangan sampah rumah tangga dan diperoleh dari sampah yang ada di pasar-pasar,” ujar guru besar USU tersebut .

Sampah yang dimanfaatkan untuk kompos ini adalah sampah organik . Sisa sampah terlebih dahulu dipilah dan kemudian digiling mempergunakan mesin giling. Setelah itu dibusukan di dalam bak hingga berhari-hari. Manfaat sampah organik adalah untuk meningkatkan kesuburan pada tanah, karena bahannya organik dapat diurai oleh bakteri yang kemudian menjadi nutrisi yang sangat baik untuk pertumbuhan tanaman. Tanah menjadi lebih subur dan pohonnya bisa tambah bagus tumbuhnya.

“ Pada tahap pembusukan, belatung-belatung (ulat) akan bermunculan ditumpukan sampah dan belatung-belatung ini juga dapat bermanfaat untuk makanan ikan,” tambahnya.

Prof Rauf yang baru saja menjadi pembicara pada kegiatan peduli Danau Toba ini menuturkan, dengan adanya kreatifitas masyarakat ini,otomatis akan mengurangi volume sampah di TPA . Bahkan pemerintah dapat terbantu .

“Ke depan kita akan menyediakan tong-tong sampah di rumah-rumah penduduk. Tong sampah ini akan kita buat dua yaitu tong sampah organik dan non organik,” pungkasnya .

Menyinggung tentang pemasaran kompos hasil olahan tersebut, dirinya belum memikirkan hal itu dan untuk sementara akan dipergunakan oleh masayarakat sendiri. Bahkan katanya  ada beberapa daerah yang rencananya akan memesan pupuk kompos tersebut. “ Ya... kalau ada permintaan akan kita pikirkan ke depan ,” ujarnya tersenyum. (A13/c)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru