Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 03 Maret 2026

Kondisi Ekonomi Indonesia yang Galau, Pers Harus Cari Arah Sebagai Penunjuk Jalan

- Kamis, 10 September 2015 14:51 WIB
659 view
Kondisi Ekonomi Indonesia yang Galau, Pers Harus Cari Arah Sebagai Penunjuk Jalan
SIB/Dok
Narasumber dan peserta sarasehan yang digelar Dewan Pers, foto bersama usai acara di Hotel Santika Medan, Rabu (9/9). Dilatar di depan terlihat mantan Ketua Dewan Pers Leo Batubara.
Medan (SIB)- Ketua Dewan Pers Prof Bagir Manan menyebut, di tengah kondisi perekonomian Indonesia yang lagi galau ini  termasuk dengan nilai rupiah melemah di atas Rp14.000 lebih per dolar AS (Amerika Serikat), apa yang dilakukan pers dengan  kondisi  seperti ini apakah mengkritik, kontrol atau keduanya.
”Jadi  kondisi ekonomi Indonesia yang tumbuh melambat, namun pers penentu itu  tidak boleh masuk dalam bagian itu, melainkan harus menjadi bagian dari mencari arah atau penunjuk jalan,” ungkap Bagir Manan  yang tampil sebagai pembicara  sarasehan Dewan Pers  digelar Dewan Pers bertajuk "Pers Bangkitkan Optimisme Hadapi Krisis Ekonomi" di Hotel Santika Medan, Rabu (9/9).

Pembicara lain yang tampil di sarasehan tersebut yakni  Ketua Komisi Hukum Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo dikenal sebagai Stanley "Peran pers menyikapi kondisi perekonomian saat ini". Dr Gun Gun Haryanto MSi selaku Direktur Ekesekutif The Political Literacy Institute dan Lektor Kepala UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengetengahkan "Sinergi pers dan masyarakat dalam menghadapi krisis ekonomi" dengan moderator  Imam Wahyudi, anggota Dewan Pers.

Selanjutnya Bagir mengatakan, dalam keadaan serba galau  di negeri ini dimana pimpinan nasional sedikit sekali mendapat dukungan kuat maka diperlukan kejujuran pers yang  memberitakan fakta sebenarnya kalau negara kita sulit dan jangan mengkambinghitamkan siapapun.

 "Apapun sikap pers semata-mata bertanggung jawab terhadap bangsa dan negara," katanya.

Namun apakah tatanan politik kita sekarang ini menjadi tumpangan kuat sesuai dengan tujuan negara  namun Bagir justru menyebut tatanan kita tidak jelas.
Dia bahkan optimis pers sebagai penentu kalau ada tiga komponen yakni pertama, kaum intelektual baik di kampus maupun di luar kampus. Tapi sekarang orang kampus kok diam saja melihat ini, apakah kondisinya tiarap atau sudah bangkrut.

Kedua, pers tidak boleh menjadi bagian dari masalah itu tapi paling tidak pers dapat berfungsi menjadi penunjuk arah. Sama seperti Sudomo yang masa orde baru Pangkopkamtib menyebut “kritik saya  dan harus dengan solusi".

Ketiga adanya masyarakat yang ideal, independen untuk membangun negara ini.imbuhnya.

Tidak bersuara
Sementara itu, mantan Ketua Dewan Pers Leo Batubara sependapat dengan Bagir Manan agar media di Sumut menjadi panggung bagi dosen.Artinya dapat menggandeng akademis kampus yang berbobot  mau bersuara membangun  negara  ini.Dahulu banyak putra Sumut yang bersuara di pusat.Malah sekarang ini  berbeda yang bersuara  banyak dari propinsi lain  di luar Sumut.

Pers   ajak para akademis kampus dan dorong mereka  membangun optmisme tidak pesimis. Dan  pers atau media dapat menghadirkan halaman tajuk membangun optimisme dan halaman opini yang disajikan akademis yang berbobot membangun optimism,pintanya.

Di kesempatan itu Bagir memaparkan   saat  Bung Karno  berpidato kalau Proklamasi itu 70 tahun lalu merupakan jembatan emas dan  di seberang jembatan emas itulah kita tata dan isi. “Kenyataannya kita masih berada di atas jembatan emas tersebut, belum menyeberang. Kalau lama-lama di atas jembatan, bisa saja  jembatan itu ambruk," jelas Bagir.

Menurut Bagir,salah satu hal yang dihadapi pers kadang-kadang tidak  dilihat sebagai faktor penolong tapi faktor prasangka dan juga sebagai faktor pemicu yang tidak diinginkan.(A2/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru