Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 03 Maret 2026
Menristek Dikti Prof Dr Mohammad Nasir di Medan

Daya Saing Sarjana Indonesia Tertinggal Jauh di Level Internasional

- Jumat, 18 September 2015 09:54 WIB
360 view
 Daya Saing Sarjana Indonesia Tertinggal Jauh di Level Internasional
Menristek Dikti Prof Dr Mohammad Nasir foto bersama dengan Plt Gubsu Ir H Tengku Erry Nuradi MSi dan Pj Rektor USU Prof Subhilhar serta yang lainnya di USU, Kamis (17/9).
Medan (SIB)- Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristek Dikti) Prof Dr Mohammad Nasir mengatakan, di level internasional bahkan di tingkat ASEAN, kualitas pendidikan dan  daya saing lulusan perguruan tinggi Indonesia masih jauh tertinggal.

“Kualitas kita  masih  tertinggal dibanding negara tetangga,  seperti Thailand, Malaysia dan Singapura,” kata Mohammad Nasir pada acara Simposium Nasional Akuntasi (SNA) XVIII di USU, Medan, Kamis (17/9).

Hadir dalam acara itu, Plt Gubsu Ir H Tengku Erry Nuradi MSi, Pj Rektor USU Prof Subhilhar, Dewan Pimpinan Nasional Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Prof Ainun Naim  dan 820 peserta SNA. Tema SNA XVIII: “Peluang dan Tantangan ASEAN Economic Community (AEC) terhadap Akuntansi Indonesia”.

Dikatakan menteri, kondisi yang tertinggal ini harus menjadi perhatian serius. Salah satu indikator kualitas kita masih tertinggal adalah publikasi ilmiah di jurnal internasional masih bisa dihitung jari.

Karena mutu pendidikan kondisinya akut, maka prioritas pendidikan tinggi difokuskan  meningkatkan mutu dan relevansi. Peningkatan mutu harus serius. Harapan masyarakat terhadap pendidikan tinggi tidak lagi cukup sebagai agen pendidikan ataupun riset. Pendidikan tinggi kini diharapkan jadi agen pembangunan ekonomi. Untuk itu, perguruan tinggi tidak cukup menghasilkan lulusan dan riset yang baik, tetapi juga menghasilkan sarjana yang hebat berinovasi.

Dikatakannya, kegiatan SNA ini menjadi momentum peningkatan kualitas pendidikan Indonesia. Profesi akuntan harus menjadi garda terdepan peningkatan kualitas  SDM dan  pembangunan ekonomi bangsa.

Tema SNA XVIII ini sangat strategis dalam menghadapi pasar bebas MEA 2015. Dengan AEC, perguruan tinggi nasional secara kelembagaan harus siap bersaing bebas dengan perguruan tinggi di negara-negara ASEAN yang akan lebih bebas keluar masuk Indonesia. Demikian juga lulusan perguruan tinggi, seperti tenaga pariwisata, kesehatan, keperawatan, akuntansi, teknik, survei, arsitektur dan perawatan gigi, tidak ada waktu lagi untuk main-main. Hanya lulusan yang sudah memiliki sertifikat kompetensi yang nanti bisa bertebaran dalam bursa kerja ASEAN. Pasar tenaga kerja kita akan semakin luas dan lulusan bidang-bidang tersebut akan mudah masuk ke ASEAN. Namun, hal ini tidak akan mudah kalau kualitas lulusan kita hanya seperti ini,” katanya.

Kunci memenangkan persaingan itu adalah peningkatan kualitas kelembagaan dan sumber daya manusia (SDM) sehingga bisa melahirkan karya-karya yang bermanfaat bagi masyarakat, terus melakukan pengembangan ilmu pengetahuan, serta menghasilkan lulusan yang berdaya saing tinggi.

“Kalau berbicara dalam forum global, maka harus diakui peringkat kualitas pendidikan kita masih tertinggal, bahkan dalam level ASEAN sekalipun,” katanya.
Belum baiknya peringkat perguruan tinggi nasional ini dapat dipastikan terutama dikarenakan unsur SDM di perguruan tinggi yang relatif terbatas kuantitas maupun kualitasnya.

Menurut Menteri, lembaga pendidikan tinggi tidak bisa lagi hanya mengeluarkan ijazah tanpa melihat sejauh mana kompetensi di balik ijazah tersebut, serta kemampuan keterampilan yang melekat, hingga kemampuan lulusannya untuk memperoleh sertifikasi sesuai keahliannya. Tanpa adanya ketiga hal itu, maka lulusan PT kita akan sulit masuk ke bursa kerja ASEAN. Betapa pentingnya meningkatkan mutu perguruan tinggi, riset dan inovasi untuk meningkatkan daya saing bangsa," katanya.

Nasir menegaskan, Kemristekdikti bertanggung jawab mendorong peningkatan mutu pendidikan perguruan tinggi. Saat ini, perguruan tinggi Indonesia masih kalah bersaing dengan negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. (A01/q)



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru