Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Maret 2026

Pemukiman Warga dan Ratusan Hektare Persawahan di Sergai Terendam Banjir

- Jumat, 27 November 2015 10:51 WIB
461 view
Pemukiman Warga dan Ratusan Hektare Persawahan di Sergai Terendam Banjir
SIB/Dok
Naik di atas Ban: Untuk menghindari banjir, seorang bocah terpaksa naik di atas ban dengan pengayuhnya, di Dusun III, Desa Sei Rampah, Sergai. Di belakangnya tampak rumah warga yang tergenang air.
Sergai (SIB)- Hujan deras yang mengguyur semalaman mengakibatkan ratusan rumah penduduk dan areal pertanian di sejumlah desa di Kecamatan Sei Rampah dan Sei Bamban, Kabupaten Serdangbedagai (Sergai) dihantam banjir, Kamis (26/11).

Pantauan SIB, ketinggian air di beberapa lokasi seperti di Dusun 3 Desa Sei Rampah dan Desa Pematangganjang serta di beberapa dusun di Desa Sei Bamban mencapai setengah meter bahkan lebih. Selain pemukiman penduduk, air juga merendam areal tanaman padi yang baru ditanam.

Akibat peristiwa ini,  beberapa warga terpaksa mengungsi ke tempat yang aman karena air sudah masuk ke dalam rumah. Namun, masih ada juga sebagian warga yang tetap bertahan di dalam rumah. Sedang para pelajar terpaksa menenteng sepatunya saat berangkat ke sekolah. “Dalam setahun, daerah kami ini terkena banjir sampai beberapa kali. Tapi, Pemkab Sergai selama ini terkesan tidak peduli bagaimana mengatasinya”, tegas warga yang pemukimannya dekat dengan bantaran Sungai Rampah, saat ditemui wartawan di Dusun 3 Sei Rampah.

Warga berharap pemerintah melakukan pengerukan alur Sungai Rampah yang saat ini dipenuhi banyak sendimen dan sampah. Kalau tidak, ribuan pemukiman warga bakal menjadi sasaran banjir. “Kami berharap, alur Sungai Rampah ini segera dilakukan pengorekan, sehingga mampu menampung air di saat musim penghujan”, tegas warga.

Warga Desa Sei Rampah dan Sei Bamban juga mengawatirkan bibit padi yang baru ditanam bakal terganggu pertumbuhannya. Setidaknya, terdapat ratusan hektar areal pertanian di daerah ini yang terendam  air. Kejadian seperti ini terus terjadi setiap tahunnya, bahkan bisa lebih dari 2 kali setahun. “Parahnya, solusi dari pemerintah tidak pernah ada”, keluh warga sembari berharap ada bantuan pemerintah. (A-26/l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru