Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Maret 2026

BMKG Prakirakan Puncak Hujan di Medan Sampai Akhir November

- Sabtu, 28 November 2015 10:16 WIB
347 view
BMKG Prakirakan Puncak Hujan di Medan Sampai Akhir November
Medan (SIB)- Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah I Medan memprakirakan puncak hujan di Sumut khususnya Kota Medan sampai akhir  November  2015.

"Hujan sampai akhir November dengan intensitas ringan sampai lebat. Di bulan Desember, Kota Medan masih mengalami hujan walaupun frekuensinya sudah mulai berkurang," kata Kabid Data dan Informasi BMKG Wilayah I Medan Sunardi kepada SIB di Medan, Kamis (26/11).

Sunardi mengatakan, Medan mengalami banjir bukan karena kiriman air hujan dari pegunungan maupun dari daerah lain. "Bukan kiriman  dari daerah lain. Kemarin itu Medan juga memang hujan lebat dengan volume air hujan tercatat mencapai 107 milimeter," ujarnya.

Sedangkan laporan dari kantor BMKG di Jalan Sampali Medan, lanjut Sunardi, tercatat 90 mili meter. "Batas maksimum volume air hujan hanya 50 mili meter. Artinya, volume air hujan diatas 50 mili meter sudah kategori hujan lebat dan bisa terjadi potensi banjir," ungkapnya.

Sunardi menambahkan, kecepatan angin di Kota Medan dan sekitarnya mencapai 15 knot. "Angin kencang memang masih terjadi di daerah lokal seperti  Medan. Begitu juga dengan hujan lebat tidak setiap hari terjadi," tuturnya.

BMKG juga menginformasikan longsor kecil sudah terjadi di daerah pegunungan. Saat ini, kata Sunardi, sudah terjadi longsor kecil di daerah Salak, Kabupaten Papakbarat. "BMKG Salak sudah melaporkan longsor kecil di daerahnya," katanya.

Hindari Bakteri Leptospira

Terpisah, dr Franciscus Ginting SpPD mengatakan warga yang tinggal atau yang terkena banjir diimbau untuk berhati-hati saat membersihkan rumah dari sisa lumpur atau air. "Disarankan saat kontak dengan air harus gunakan sepatu panjang dan sarung tangan untuk menghindari bakteri leptospira yang dapat menyebabkan leptospirosis," ujar dokter yang bekerja di RS Adam Malik ini.

Kuman leptospira atau bakteri leptospira itu, lanjut Franciscus, banyak dan hidup di dalam hewan seperti tikus, lembu, dan kambing. Pada hewan tersebut tidak menimbulkan gejala. Namun kumannya memperbanyak diri, terutama di saluran ginjal. Sehingga kuman tersebut pada saat hewan mengeluarkan urine atau air kencing, urinnya mengandung leptospira yang dapat bertahan beberapa hari di dalam tanah ataupun di dalam air.

"Leptospira ini bila masuk ke dalam tubuh manusia menimbulkan penyakit yang disebut dengan leptospirosis. Masuknya bakteri ini melalui kulit yang terluka atau pun melalui saluran selaput pada mata atau pun saluran nafas, meskipun jarang," tuturnya.

Dia mengatakan, Leptospirosis perlu diwaspadai saat banjir karena hewan-hewan yang menyebabkan penyakit tersebut banyak muncul saat banjir tiba. "Kita sekarang membicarakan leptospirosis kaitannya dengan banjir, karena tikus, hewan-hewan selokan ini membuang urinnya di tempat-tempat seperti itu, yang jorok di sampah dan sebagainya. Otomatis konsentrasi atau kandungan leptospira itu tinggi pada selokan, pada tempat sampah, pada air-air yang tergenang," jelasnya. (A21/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru