Dalam Manggala Sutta, kerendahan hati merupakan salah satu praktek yang dapat kita lakukan untuk mendapat berkah mulia di dunia ini. Namun dalam praktek kita untuk rendah hati, sering sekali banyak di antara kita berpikir bahwa dengan membantu atau menghargai orang lain, maka secara alami kita seolah kurang memikirkan kebahagiaan kita sendiri. Hal ini tampaknya seakan merendahkan harga diri, tapi bukan itu yang dimaksudkan dengan rendah hati. Yang dimaksud dengan mengembangkan kerendahan hati adalah mengatasi kesombongan dan menjadikan kita lebih menghargai bekerja sama dengan orang lain.
Ketika kita bersama orang lain, jika kita hanya memikirkan dan menghargai diri sendiri, maka tentu saja kita memupuk kebiasaan hanya mempertimbangkan sudut pandang kita sendiri: "Apa manfaatnya bagiku? Apa yang saya inginkan? " Kita cenderung berbicara tentang diri kita sendiri dan hanya memikirkan kenyamanan kita sendiri. Hal ini tentu saja akan menimbulkan berbagai masalah dan penderitaan. Namun, jika kita bisa menghargai orang lain dan menganggap mereka lebih penting daripada diri kita, maka kita tidak akan begitu kecewa apalagi marah maupun menderita.
Tentu, kita perlu memiliki keseimbangan antara memenuhi kebutuhan kita sendiri dan kebutuhan orang lain. Tapi, seperti yang selalu diuraikan Sang Buddha, jika kita berpikir dalam bentuk angka, maka orang lain pasti jumlahnya hampir tidak terbatas dan kita hanya satu. Jika kita melihat untuk melihat apa yang adil, maka jelas bekerjasama dengan orang lain jauh lebih penting daripada hanya bekerja untuk tujuan ego kita. Namun, kita memang harus membedakan antara tujuan ego pribadi kita dan tujuan untuk memperbaiki diri sehingga kita memiliki kemampuan untuk dapat lebih banyak membantu orang lain, yang pada akhirnya bukanlah tujuan yang ego.
Taruhlah semua kesalahan pada satu hal yaitu dikarenakan diri kita 'merasa ingin dihargai', hal ini akan sangat membantu saat kita merasa kesal dan terganggu dalam berbagai hal. Tidak hanya saat berhubungan dengan orang lain, namun juga saat diri kita sendiri menyalahkan satu hal. Dengan kata lain, lihat berulang, "Mengapa saya begitu kesal?" dan kita akan menemukan bahwa itu karena harga diri. "Saya ingin menjadi seperti ini dan ternyata tidak."
Mulailah berlatih menerapkan banyak hal yang menguji harga diri kita, pahami betapa tidak realistisnya mengharapkan segala sesuatu selalu berjalan sesuai keinginan kita. Itu benar-benar tidak masuk akal. Berlatih rendah hati sangat membantu, ketika kita sedang kesal, untuk tidak hanya berdiam diri dan merasa semakin buruk. Sebaliknya, kita harus berusaha mengurangi perasaan harga diri kita yang tinggi.
Pahamilah bahwa menyakiti orang lain untuk tujuan kita sendiri, akan mengakibatkan diri kita tersiksa di alam ini tanpa kegembiraan dan sejenisnya; tetapi jika kita berjuang untuk diri sendiri untuk tujuan orang lain, maka kita akan memperoleh semua kemuliaan. Jika hanya berpikir untuk memenuhi keinginan kita agar diri kita yang maju, maka disanalah akan datang kondisi kelahiran kembali yang lebih buruk, status rendah, dan diliputi kebodohan. Namun jika kita dapat mentransfer keinginan kita untuk orang lain maka hal tersebut akan membawa pada keadaan kelahiran kembali yang lebih baik, kehormatan, dan diliputi kecerdasan.
Berlatih menghargai orang lain dalam kehidupan sehari-hari dapat kita mulai dengan memahami nasehat Sang Buddha tentang timbulnya kerugian dari terlalu ingin menghargai diri sendiri dan berkah dari menghargai orang lain. Oleh karena itu, kita dapat mencoba mempraktekkannya dalam meditasi, misalnya ketika kita mengalami masalah atau tidak berhasil dalam suatu hal dalam hidup kita, dan kita benar-benar sangat kesal dan tidak bahagia. Pada saat seperti itu, kita perlu mengidentifikasi sumber masalah kita, "Oh, itu karena saya hanya memikirkannya dari sudut pandang saya sendiri. Saya menginginkannya seperti ini, dan saya tidak memahami dengan baik. Kasihanlah aku. "
Selanjutnya, berpikirlah kembali, "Apa hasil dengan menjadi kesal dan berpikir seperti itu? Itu hanya membuatku semakin sengsara. Itu hanya menempatkan saya berpikir dengan tipe neraka, membuat saya tidak bisa membantu orang lain, dan seterusnya. Sedangkan jika saya memikirkan orang lain, dari sudut pandang mereka, mencoba memahami cara berpikir mereka, dan jika saya mempertimbangkan ruang lingkup yang lebih luas dari orang lain secara umum, itu akan memperluas pikiran saya, membuat saya lebih bahagia, saya bisa mengerti lebih banyak dan seterusnya. "
Kita biasanya mudah memiliki pemahaman intelektual, tetapi secara emosional kita biasanya mendapatkan banyak kesulitan untuk menerima bahwa pengacau sebenarnya diri kita adalah sikap keinginan lebih dihargai dan membuat kita kesal. Jika kita memeriksa keseluruhan proses lebih dekat, kita menemukan bahwa masalah yang timbul adalah karena "Saya tidak ingin menerima bahwa sudut pandang orang lain lebih penting daripada sudut pandang saya,". Meskipun kita mungkin bisa bertindak dengan tepat, tidak mengatakan sesuatu yang buruk kepada orang lain, dan secara lahiriah tampak memaafkan, namun pada dasarnya masih banyak secara emosional di dalam hati kita tetap kesal.
Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan memikirkan analogi kuda liar atau anjing, atau semacamnya. Ketika kita mengikat kuda atau anjing di pagar dan keduanya akan menjadi meronta. Mereka tidak ingin diikat. Kuda atau anjing itu mencoba melepaskan diri, menggonggong dan sebagainya. Seperti itulah pikiran kita. Ketika kita mencoba untuk tetap fokus pada manfaat dari menghargai orang lain dan memikirkan orang lain, memahami bahwa itu benar-benar perjuangan yang sia-sia jika hanya memikirkan diri kita sendiri, kita tidak dapat benar-benar menerima kenyataaan tersebut. Kita merasa sangat tidak nyaman.
Satu-satunya cara untuk benar-benar mulai merasakannya pada tingkat emosional, di luar hanya pemahaman intelektual, adalah dengan memaksa diri kita untuk tetap pada pikiran kita. Semakin lama kita bisa tinggal bersama pikiran kita, semakin cepat pikiran yang didukung ego akhirnya menyerah dan rileks. Saat kita bisa rileks, kita bisa mulai merasakannya secara emosional. Inilah satu-satunya cara agar kita dapat menembus penghalang antara pemahaman intelektual dan emosional. (c)