Kondisi bangsa saat ini sungguh dalam kondisi mengkhawatirkan. Sering terlihat upaya-upaya untuk mengadu domba anak bangsa. Sayangnya, di antara dalang adu domba adalah pihak yang harusnya bertanggung jawab untuk menciptakan keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat.
Ummat Islam adalah ummat yang toleran. Fakta sejarah membuktikan hal tersebut. Hal itu disebabkan ajaran Islam sendiri yng menyerukan toleransi. Adalah QS Al-Kafirun menjadi salah satu ayat suci yang mengajarkan toleransi hakiki.
Toleransi dijadikan ruh dalam kehidupan sosial ummat bagi bangsa ini. Kendati mayoritas, kaum muslimin tetap menghormati agama dan kepercayaan minoritas. Tidak pernah di dalam sejarah bangsa ini, ummat Islam memulai membuat keributan dan kekacauan ataupun sikap intoleran.
Ketegangan yang terjadi akhir- akhir ini antar anak bangsa yang melibatkan kaum muslimin, seyogianya tidak terjadi. Kondisi ini dipastikan terjadi karena ada pihak-pihak yang memprovokasi. Provokator ini dalam Islam disebut juga namimah atau pengadu domba. Pengadu domba dalam Islam termasuk dalam dosa besar.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa Namimah adalah merekayasa omongan untuk menghancurkan manusia. Sedangkan Imam Baghawi mengartikan namimah adalah mengutip suatu perkataan dengan tujuan mengadu domba antara seseorang dengan pembicara pertama.
Jadi sebenarnya provokator itu tidak hanya berarti menyebar berita bohong (hoax) saja akan tetapi berintikan bagaiman ia memancing masalah dan memanas-manasi situasi. Inilah sang penebar fitnah yang termaktub dalam ayat "Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah." (QS al-Qalam : 10-11)
Sebagaimana dijelaskan bahwa provokator termasuk dosa besar. Dalam beberapa keterangan, dijelaskan balasan buruk bagi pelaku provokasi ini. Pertama, tidak akan masuk surga. Rasulullah Saw bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba." (HR Muslim). Dalam riwayat lain, "Tidak akan masuk surga orang yang suka menyebar fitnah." (HR Bukhari)
Kedua, dicap manusia paling jahat. Suatu ketika Nabi berpesan pada para sahabat, "Engkau akan menemukan manusia paling jahat adalah orang yang bermuka dua, yaitu orang yang datang kepada mereka dengan satu wajah dan kepada mereka dengan wajah lain." (HR Bukhari Muslim).
Selanjutnya juga dicap sebagai orang yang paling buruk. Rasulullah Saw bersabda, "Maukah kalian kuberitahukan tentang orang-orang yang paling buruk di antara kalian. Yaitu orang-orang yang suka berjalan kesana kemari untuk menyebar fitnah (mengadu domba), yang suka memisahkan orang-orang yang saling mencintai, yang suka mencari kekurangan pada orang-orang yang tidak berdosa." (HR Bukhari).
Demikianlah beberapa gambaran betapa buruknya perbuatan provokasi. Bahkan termasuk dosa besar. Pelaku akan disiksa dengan pedih. Rasulullah Saw pernah melewati dua kuburan lalu bersabda bahwa keduanya sedang disiksa yang salah satunya karena ketika di dunia suka mengadu domba.
Sesungguhnya penyakit mengadu domba ataupun sikap provokatif timbul dari lemahnya iman. Sehingga menyebabkan kotornya hati dan lidah yang tak terkendali. Mereka kerap menyebarkan berita dan informasi hoax maupun benar tetapi sedikit dipelintir hingga membuat marah penerima informasi.
Merekalah pemutus tali persaudaraan sebab fitnah yang mereka gencarkan. Lantas bagaimana sikap seorang mukmin menyikapi provokator? Imam al-Ghazali menyebutkan beberapa poin penting. Ia menyebutkan jika seorang didatangi provokator maka pegangteguhlah enam hal.
Pertama, tidak sepenuhnya mempercayai ucapannya. Provokator itu orang fasik. Sedangkan fasik itu tidak dapat diterima begitu saja informasi darinya. Pesan al-Quran dalam QS Al-Hujurat ayat 6. " Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."
Imam Syaukani mengatakan tentang ayat ini, "Hendakya meneliti setiap berita yang datang kepadamu sebelum kamu beritakan, kerjakan dan sebelum kamu menghukumi orang lain atasnya." Oleh karena itu, dalam Islam ada tabayyun atau klarifikasi. Meneliti dengan cermat, teliti, sehingga menimbulkan kesimpulan yang benar.
Kedua,mencegah provokator itu melakukan aksinya, menasehatinya serta memberikan teguran. Umar bin Abdul Aziz pernah didatangi seorang yang melaporkan orang lain. Lalu Umar berkata, "Hai Bung! Kalau kami mau, kami bisa meneliti laporanmu. Lalu jika kamu berdusta kamu akan termasuk golongan yang dimaksud di dalam ayat, " Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti " (QS Al-Hujurat ayat 6). Jika kamu benar, kamu akan termasuk golongan yang dimaksud dalam ayat , "Yang banyak mencela, yang ke sana kemari menyebar fitnah." (QS Al-Qalam : 11). Dan kalau kamu mau, kami bisa mengampunimu. Lalu kamu tidak boleh mengulangi perbuatanmu? " Laki-laki itu langsung berkata, "Ampunilah aku, ya Amirul Mukminin! Aku tidak akan mengulanginya lagi."
Ketiga, membenci provokator itu karena Allah. sebab, orang semacam ini dibenci oleh Allah. Keempat, tidak berburuk sangka kepada saudaranya yang difitnah. Allah Ta'ala berfirman, "Jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan) karena sebagian dari prasangka itu dosa." (QS Al-Hujurat : 12). Umar bin Khattab pernah berpesan, "Jangan pernah berburuk sangka terhadap kata-kata yang keluar dari mulut seorang muslim, sementara kamu dapat memahaminya dengan makna yang baik."
Kelima, apa yang diceritakan itu, tidak boleh mendorongnya memata-matai dan mencari-cari kesalahan saudaranya. Keenam, tidak meniru perbuatan provokator itu dan tidak menceritakan provokasinya kepada orang lain.
Penutup
Sikap provokatif adalah dosa besar dalam Islam. Hendaknya kita menghindari bersikap memanas-manasi situasi yang dapat menimbulkan perpecahan. Imam al-Ghazali memberikan beberapa sikap bijaksana jika menerima berita yang provokatif dan begitulah sejatinya yang harus dilakukan seorang muslim. Mewaspadai Provokator. Wallahua'lam.
(r)