Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 28 Juni 2026

Ukir Sejarah di Bulutangkis Indonesia, Tontowi/Liliyana Masih Haus Gelar Juara

*Target Ahsan/Hendra Berikutnya Piala Thomas dan Asian Games
- Selasa, 11 Maret 2014 17:28 WIB
476 view
 Ukir Sejarah di Bulutangkis Indonesia, Tontowi/Liliyana Masih Haus Gelar Juara
Birmingham (SIB)- Keberhasilan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir merangkai tiga gelar juara secara beruntun di nomor ganda campuran All England menjadi rekor tersendiri di dunia bulutangkis Indonesia, meski keduanya tak lekas puas begitu saja.

Dalam perjalanan sejarah All England, tidak banyak pasangan ganda campuran yang mampu mencatatkan hat-trick. Di antaranya ada di era 1930-an, seiring dengan munculnya pasangan Herbert Uber/Betty Uber (1930-1932) dan kemudian Donald C. Hume/Betty Uber (1933-1936)--sebagai catatan, Betty Uber adalah sosok legendaris pencetus Piala Uber.

Di era kekinian, "pasangan emas" seperti itu kian langka. Maka keberhasilan pasangan Korea Park Joo-bong/Chung Myung-hee, yang merangkai tiga gelar juara ganda campuran All England pada periode 1989-1991, menjadi cukup menonjol bahkan sampai saat ini.

"Tentunya kami bersyukur dan bangga bisa hattrick di All England hingga menyamai rekor Park Joo Bong yang merupakan mantan pemain top dunia. Siapa sih yang tidak kenal Park? Di eranya dulu, Park sangat terkenal," kata Liliyana kepada Badmintonindonesia.org.

"Semoga di era sekarang kami bisa melebihi prestasi Park, makanya kami tidak mau cepat puas dan selalu haus akan gelar juara," tambahnya.

Tepat sebelum dominasi Owi/Liliyana saat ini sebenarnya ada pula sosok Gao Ling dari China yang meraih tiga gelar juara di nomor ini meski dengan pasangan berbeda--Zhang Jun di 2006 dan Zheng Bo di 2007 dan 2008.

Apapun, torehan Owi/Liliyana secara khusus amat menonjol di kancah perbulutangkisan Indonesia mengingat inilah hat-trick perdana di nomor ganda campuran All England, setelah sebelumnya cuma ada pasangan legendaris Christian Hadinata/Imelda Wiguna yang berhasil menjadi juara pada gelaran tahun 1979 lampau.

Target Ahsan/Hendra Berikutnya: Piala Thomas & Asian Games

Meski baru saja menjuarai turnamen bergengsi All England, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan tak lantas puas. Ahsan/Hendra masih haus akan gelar juara dan membidik dua ajang besar tahun ini.

Meski pada akhirnya keluar sebagai pemenang, Ahsan/Hendra tidak melalui pertandingan dengan mudah. Ganda putra rangking satu dunia itu sempat beberapa kali direpotkan oleh permainan cerdik Endo/Hayakawa.

Hal ini membuat Ahsan/Hendra mesti memperbaiki penampilannya lagi. Terlebih keduanya membidik gelar juara di ajang Piala Thomas, Mei mendatang dan Asian games empat bulan berselang.

“Alhamdulillah satu demi satu gelar bergengsi sudah berhasil kami raih, semoga kami dapat terus berprestasi dan mengharumkan nama Indonesia,” ujar Ahsan kepada Badmintonindonesia.org.

“Masih banyak pekerjaan rumah yang harus kami kerjakan. Penampilan kami juga harus ditingkatkan lagi, kami tidak mau berpuas diri,” tambah mantan tandem daripada Bona Septano itu.

“Target selanjutnya adalah Piala Thomas dan Asian Games, jadi kami bersiap untuk kedua turnamen penting ini. Kami ingin sekali bisa menjadi juara lagi,” timpal Hendra.

Liliyana Ungkap Kunci Kemenangan atas Zhang/Zhao


Ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir mengalahkan wakil China Zhang Nan/Zhao Yunlei untuk merebut juara All England. Tontowi/Liliyana tampil oke sejak awal laga.

Setelah sempat diimbangi lawan, Tontowi/Liliyana sukses membalikkan keadaan di masa interval gim pertama. Setelah jeda, Tontowi/Liliyana tak terkejar oleh Zhang/Zhao.

Gim kedua berjalan lebih mudah bagi Tontowi/Liliyana. Sejak awal, keduanya mampu unggul dari lawan sebelum mengakhiri pertandingan.

Sekadar informasi, duel melawan Zhang/Zhao merupakan final ulangan tahun lalu. Di 2013, Tontowi/Liliyana juga berhasil menang dengan skor yang sama persis dan durasi waktu yang sama persis pula.

"Kami langsung in dari awal game pertama. Sehingga lawan tidak bisa mengembangkan permainan. Biasanya kami kalau bertemu Zhang/Zhao sering berakhir rubber game, tetapi dua kali bertemu di final All England bisa menang straight game," kata Liliyana dalam rilis PBSI.

Kemenangan ini membawa Tontowi/Liliyana menyeimbangkan catatan pertemuannya dengan Zhang/Zhao menjadi 5-5. Sedangkan dalam lima duel terakhir, Tontowi/Liliyana sukses menang empat kali. (detiksport/h)

Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru