Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 08 Maret 2026

Memperhitungkan Pemilih Pemula Pada Pemilu

Oleh Fadmin Prihatin Malau
- Jumat, 04 April 2014 19:36 WIB
721 view
Memperhitungkan Pemilih Pemula Pada Pemilu
Sib/ist
Fadmin Prihatin Malau
Pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2014 tinggal menghitung hari. Agaknya kehadiran para pemilih pemula perlu diperhitungkan karena data fakta yang ada bahwa pemilih pemula sangat besar jumlahnya yakni menurut data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU)  pada Pemilu 2014 ini, ada sebanyak lebih kurang 22 juta orang yakni pemilih pemula atau mereka yang buat pertama sekali mengikuti Pemilu. Data berdasarkan kelompok usia 17-23 tahun lebih kurang sebanyak 30 juta orang sehingga bila dijumlahkan pemilih pemula dan pemilih usia muda atau yang tercatat sebagai pelajar SMA, mahasiswa dan orang berusia muda lebih kurang sebanyak 52 juta orang.

Banyaknya jumlah pemilih pemula berkorelasi dengan tingkat partisipasi pemilih untuk memilih di dalam bilik suara yang masih sangat rendah. Berdasarkan data fakta untuk dua kali pelaksanaan Pemilu yaksi tahun 1999 tingkat partisipasi pemilih sebesar 92,7 persen. Tahun 2004 sebesar 84,07 persen dan pada Pemilu tahun 2009 lalu sebesar 71 persen. Bagaimana dengan Pemilu 2014 ini? Boleh jadi akan semakin tinggi tingkat partisipasi pemilih dan boleh jadi juga akan semakin rendah tingkat partisipasi pemilih.

Rendahnya partisipasi masyarakat pemilih untuk melaksanakan haknya untuk memilih sangat dipengaruhi oleh pemilih pemula karena secara psikologis para pemilih pemula memiliki harapan besar, punya kekuatan yang luar biasa para pemilih pemula menentukan tinggi atau rendahnya partisipasi pemilih.
Pemilih pemula jumlahnya lebih kurang 52 juta orang ini harus diperhitungkan buat semua Partai Politik (Parpol) dan para calon legeslatif dan calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD) karena secara psikologis berbeda antara pemilih berusia tua dengan pemilih pemula. Hal ini karena secara karakter ada perbedaan pemilih pemula dengan pemilih tua. Pemilih pemula tidak memiliki pengalaman memilih sebelumnya atau memilih pada era sebelumnya. Sementara pemilih tua atau yang telah berusia 45 tahun ke atas telah merasakan Pemilu pada era Orde Baru.

Kualitas Calon Jauh dari Keinginan Pemilih Pemula
Para pemilih pemula memiliki mimpi besar, cita-cita, harapan akan perubahan yang nyata, bukan sekadar kata-kata dari para calon pemimpin yang dipilih. Pemilih pemula lebih kritis, mandiri, independen, anti-status quo, suka kepada perubahan yang cepat, memiliki konsep yang jelas, terukur dan harus mampu diuji kebenarannya.

Sementara bagi pemilih berusia tua lebih statis dan cenderung apatis sehingga memilih calon pemimpin pada Pemilu sudah seperti rutinitas maka tidak menghadapi para pemilih pemula tidak mudah dan jawabannya harus mampu menampilkan sosok calon pemimpin yang berkualitas dalam segala hal.
 
Pemilih pemula akan lebih fokus kepada calon pemimpin yang minta dipilih.  Artinya, pemilih pemula tidak mudah untuk memengaruhi pilihannya karena langsung melihat sosok calon pemimpin itu. Pemilih pemula tidak saja melihat sosok calon pemimpin dengan sekadar dikenal akan tetapi menganalisis, mengevaluasi kredibilitas calon pemimpin itu sebab pemilih pemula tidak begitu tertarik dengan politik praktis.

Melihat kondisi pemikiran para pemilih pemula maka komunikasi searah yang dilakukan para calon pemimpin atau para Caleg dengan menggelar kampanye kurang diminati pemilih pemula, terutama kalangan mahasiswa. Para pemilih pemula lebih dinamis, polos dan mempunyai perhitungan yang matang dalam hal memilih calon pemimpinnya. Tawaran atau janji-janji biasanya dikategorikan para pemilih pemula sebagai mimpi besar di siang hari.
 
Karakteristik para pemilih pemula ini menjadi tantangan besar bagi para partai politik (Parpol) dan para calon yang mencalonkan dirinya untuk dipilih. Sementara jumlah pemilih pemula cukup besar sehingga dikhawatirkan banyak pihak akan memperbesar jumlah Golongan putih (Golput) pada Pemilu 2014 ini.

Para pemilih pemula yang sangat cerdas, memiliki pertimbangan dan perhitungan yang sangat rasional. Tidak mudah dipengaruhi atau digoda dengan janji-janji. Tegasnya tidak mudah mengajak para pemilih pemula untuk ikut memilih para calon pemimpin dari partai politik, atau para Caleg yang ada.

Sebaliknya pemilih pemula akan memilih seandainya para Caleg yang mencalon sebagai calon pemimpin pada Pemilu ini berkualitas maka ada kecenderungan pemilih pemula ini akan memilih meskipun tidak ada yang menyuruhnya untuk memilih calon pemimpin tertentu.

Hal ini sejalan dengan karakter pemilih pemula yang ingin langsung ada fakta, bukan sekadar katanya. Sangat realistis, sangat independen, narsis dan last minute. Penulis mengamati para pemilih pemula pada setiap diskusi di kampus tentang sosial politik di Indonesia dan dalam melihat calon para pemimpin yang akan dipilih menjadi calon pemimpin pada Pemilu 2014 ini.

Sikap realistis ini menjadikan sikap apatis karena melihat realita yang ada belum ideal, dimana melihat para wakil rakyat yang "terseret" korupsi dan juga sejumlah petinggi partai politik, para eksekutif Pemerintahan yang belum bekerja baik dan cenderung korupsi serta tingkat laku yang tidak sesuai dengan sosok seorang pemimpin.

Para pemilih pemula sangat aktif dalam segala hal, mulai dari diskusi, seminar sampai kepada aktivitas di facebook. Para pemilih pemula ini sangat getol berselancar di media sosial membuat status mereka dengan berbagai tuntutan dan keinginan akan sosok calon pemimpin yang ideal sehingga terlihat sifat yang cerdas, berwawasan dan bukan sekadar ikut-ikutan dengan slogan-slogan kosong yang ditampilkan para Caleg atau calon pemimpin.

Sebaliknya para pemilih pemula ini menampilkan ide-idenya, gagasan dan pemikirannya tentang sosok calon pemimpin bangsa masa depan. Hal itu tergambar dari status para pemilih pemula di jejaring sosial. Komunitas pemilih pemula ini sangat aktif berinteraktif di media sosial dan saling shere sesama komunitas para pemilih pemula.

Tidak bisa diremehkan sebab berdasarkan data penggunaa media social di Indonesia untuk facebook berada pada posisi ke lima di dunia, setelah Amerika Serikat, Brazil dan India. Begitu juga dengan jumlah akun twitter di Indonesia yang saat ini telah mencapai 19, 5 juta yang juga masuk nomor lima terbesar di dunia.

Pemilih pemula perlu diperhitungkan pada Pemilu 2014 ini sebab jumlahnya yang besar dan sikap atau karakteristik pemilih pemula yang memiliki ideologis kuat. Tidak mudah dipengaruhi dan pemilih pemula tidak akan mudah dipengarui oleh spanduk politik, umbul-umbul, billboard, stiker atau janji-janji para caleg.

Benar apa yang dikatakan August E Grant dalam pengantar bukunya berjudul, "Understanding Media Convergence; The State of the Field" (2009). Ada perubahan (change) yang terjadi dan tidak bisa dielakkan atau diabaikan begitu saja. Perubahan itu semakin besar karena terjadi perubahan generasi.

Lantas apa yang ada dalam pengantar buku August E Grant berjudul, "Understanding Media Convergence; The State of the Field" (2009) sesungguhnya sedang terjadi di Indonesia yakni dalam perilaku memilih calon pemimpin di Indonesia pada Pemilu 2014 ini dimana jumlah pemilih pemula cukup besar dan memiliki karakteristik yang khas sehingga akan terjadi perubahan yang sangat jelas dari generasi ke generasi.

Kelompok usia 17-23 tahun sangat menentukan pada Pemilu 2014 dan itu perlu diperhitungkan karena terjadi perbandingan jumlah dengan kelompok usia penduduk Indonesia produktif antara 48-54 tahun. Perbandingan ini memberikan pada pelaksanaan Pemilu tahun 2014 ini. Artinya harus memperhitungkan pemilih pemula pada Pemilu. (Penulis adalah Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Medan, pemerhati masalah sosial, ekonomi, budaya dan politik/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru