Sebuah daerah atau provinsi yang bisa mandiri harus memiliki pangan yang cukup bagi rakyatnya. Tanpa didukung pangan yang cukup mustahil sebuah provinsi bisa mandiri dan maju dengan menggali sumber-sumber pendapatan asli daerah (PAD) lainnya diluar pajak daerah.
Hal itu juga ditegaskan pengamat Ekonomi Sumut Dr Polin Pospos, kalau pangan provinsi tidak kuat dan kemudian memaksa diri mencari PAD diluar pajak tentu akan membuat rakyat semakin menderita. Maka perlu ada rencana pembangunan ketahanan pangan yang terarah kedepan sebelum mencari PAD diluar pajak.
Tahun 1980-han Indonesia telah membuktikannya, dengan kekuatan pangannya keberadaan negara Indonesia disegani di Asia Tenggara bahkan di dunia. Dengan kekuatan pangan itu Indonesia mampu mandiri, perekonomiannya meningkat sehingga mampu maju membangunan di sektor-sektor perekonomian lainnya, terutama di bidang investasi seperti pembangunan industri pesawat terbang di Bandung dan lainnya.
Namun pembangunan itu membuat Presiden Republik Indonesia HM Soeharto saat itu mulai melupakan sektor pertanian dan beralih ke industri secara menyeluruh. Tapi ketika krisis ekonomi melanda Indonesia tahun 1998 perekonomian Indonesia pun terpuruk. Jika sektor pertanian kuat dan tidak dilupakan saat itu tentu perekonomian Indonesia akan mampu bertahan dari gelombang krisis ekonomi tersebut.
Menurut Dr Polin Pospos, berdasarkan peristiwa tersebut jika ingin Sumatera Utara mau mandiri dan maju dengan menggali potensi PAD diluar pajak daerah seharusnya terlebih dulu membangun sektor pertanian agar ketahanan pangannya terjamin.
Pendapat Dr Polin Pospos tersebut bersinergi langsung dengan visi dan misi Gubernur Sumut H Gatot Pujo Nugroho dan Wakil Gubernur Sumut H Tengku Erry Nuradi. Gatot Pujo Nugroho dan Tengku Erry Nuradi menawarkan lima parameter sebagai fokus pembangunan Sumatera Utara. Dengan lima parameter ini, Sumatera Utara dalam lima tahun ke depan akan menjadi provinsi yang memiliki daya saing di Indonesia bagian Barat. Pertama adalah pengelolaan sumber daya alam (SDA), kedua keragaman budaya, ketiga letak geografis, keempat jumlah penduduk dan yang kelima transformasi peningkatan ekonomi. Bagi Gatot Pujo Nugroho dan Tengku Erry Nuradi Sumatera Utara memiliki potensi yang luar biasa. Dari lima parameter yang telah dijelaskan tadi, akan membuat perekenomian Sumatera Utara bisa bersaing dengan daerah lainnya di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Potensi-potensi itu harus digali dan dimanfaatkan dengan maksimal.
Kemudian untuk mempertahankan ataupun meningkatkan ketahanan pangan pemerintah perlu meningkatkan produktivitas pertanian dengan sumberdaya manusia yang baik. Makanya saat Gubernur Sumatera Utara H Gatot Pujo Nugroho masih menjabat Plt Gubernur Sumut tahun 2012 lalu, langsung menggaungkan program Manggadong dalam acara yang bertemakan Akselerasi Pemantapan Pangan Melalui sinergi pemerdayaan potensi eksisting dan budaya lokal menuju kemandirian dan kedaulatan bangsa. Saat itu Gatot Pujo Nugroho mengajak kepada masyarakat Sumut untuk lebih jauh menghayati pentingnya ketahanan pangan dengan berbagai jenis pangan, seperti Gadong (ubi) guna mengantisipasi kekurangan pangan dari beras.
Dalam bahasa batak, "gadong" berarti ubi, sedangkan "manggadong" adalah tradisi mengonsumsi ubi, baik sebagai makanan utama maupun panganan untuk kegiatan tertentu. Hampir semua warga batak mengetahui istilah manggadong. "Sebagai mana diketahui Indonesia adalah konsumsi beras paling besar, jadi dengan manggodang yang menjadi suara kearipan lokal dari Sumut ini mudah-mudahan masyarakat bisa mengkonsumsi ubi-ubian selain nasi yang berasal dari beras,†ujar Gatot saat itu.
Bahkan program Gatot Pujo Nugroho tersebut langsung mendapat mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Melalui acara Expo Pangan Gebyar Kuliner Nusantara itu juga telah menggaungkan program manggadong di seluruh Indonesia. Program Manggadong tersebut juga mendapat dukungan dari DPRDSU saat itu. Manggadong adalah kebiasaan etnis Batak dalam mengonsumsi ubi atau ketela yang dinikmati secara bersama-sama dengan anggota keluarga lainnya.
Namun, kebiasaan manggadong itu sering dilakukan ketika masa krisis perekonomian keluarga sehingga sulit mendapatkan beras untuk dimakan. Lalu, apa kaitan manggadong dengan upaya memperkuat ketahanan pangan di Sumatera Utara.
Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Sumut, Setyo Purwadi, mengatakan bahwa pemerintah telah berupaya semaksimal mungkin dalam meningkatkan produksi pertanian guna memperkuat ketahanan pangan.
Dalam skala nasional, ada tiga program yang diterapkan untuk memperkuat ketahanan pangan itu yakni peningkatan produksi pertanian, pengendalian alih fungsi lahan pertanian, dan mengurangi konsumsi beras. Hanya saja, dalam realitanya hasil yang didapatkan sering belum memuaskan meski pemerintah selalu mengeluarkan anggaran besar, termasuk pemberian pupuk untuk meningkatkan produksi pertanian masyarakat.
Dengan adanya alih fungsi lahan yang terus terjadi dan meningkatnya jumlah pertumbuhan penduduk, maka produksi pertanian masyarakat, khususnya beras terkadang belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Karena itu, perlu diciptakan sebuah program yang dapat mengurangi konsumsi beras dan memperkuat ketahanan pangan, termasuk dengan memanfaatkan kearifan lokal yakni “Manggadongâ€.
Dari ketiga program skala nasional itu, konsep pengurangan konsumsi beras diperkirakan paling efektif untuk memperkuat ketahanan pangan, khususnya di Sumut. Hal itu dilakukan agar beras yang menjadi makanan utama masyarakat dapat diperhemat dan digunakan pada masa sulit.
Program itu diperkirakan dapat diterapkan di Sumut karena pernah dilakukan sebelumnya, khususnya oleh masyarakat etnis batak yang berasal dari daerah Tapanuli. Konsepnya adalah Manggadong, budaya konsumsi yang telah diterapkan leluhur etnis Batak. Manggadong adalah budaya etnis Batak yang mengonsumsi ketela sebagai makanan pembuka sebelum menikmati nasi.
Dengan menikmati ketela terlebih dulu, masyarakat Batak tidak perlu mengonsumsi nasi terlalu banyak karena perutnya telah terisi dengan makanan tersebut. Dari sisi asupan, kandungan gizi ketela juga cukup banyak dan mampu menggantikan zat yang dibutuhkan tubuh dari nasi. Jika dalam sesuap nasi terkandung 150 karbohidrat, maka ketela mengandung 100 karbohidrat dalam takaran yang sama. Demikian juga kandungan kalori dengan 100 untuk ketela dan 250 untuk nasi dalam takaran yang juga sama. Jadi, asupan gizinya hampir sama tetapi beras dapat dihemat.
Bahkan BKP Sumut akan mengampanyekan konsep "Manggadong" itu bersama Pusat Ketahanan Pangan dan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU). Diharapkan konsep Manggadong itu dapat menjadi program nasional sehingga konsumsi rakyat terhadap beras dapat dikurangi.
Mendapat dukungan dari semua pihak, Gatot Pujo Nugroho yang menjadi sebagai Plt Gubernur Sumatera Utara itu langsung melakukan pembenahan dalam membangun sektor pertanian di Sumut. Paling pertama dilakukan Gatot Pujo Nugroho adalah dengan meningkatkan peran penyuluh, seperti yang pernah dilakukan Presiden RI Soeharto. Sebab penyuluh adalah garda terdepan yang harus dibenahi dalam membangunan dan memperkuat pertanian.
Dengan langkah yang dilakukan Gatot Pujo Nugroho itu ketahanan pangan di Sumut tetap terjaga, dan mampu mandiri tanpa mengimpor beras atau pangan dari luar provinsi lainnya.
Namun Gatot Pujo Nugroho mengakui provinsi Sumut masih kekurangan tenaga penyuluh. Hingga saat ini Sumut baru memiliki 3.298 penyuluh yang berada di 5.876 desa/kelurahan. Hal ini membuat program 1 penyuluh 1 desa sampai saat ini belum tercapai. Walaupun jumlah penyuluh kurang tapi berkat pembenahan yang dilakukan Gatot Pujo Nugroho selama ini, peran penyuluh langsung menunjukan hasilnya dalam setahun ini.
"Walau jumlah penyuluh masih sangat kurang. Namun dengan kerja keras punyuluh selama ini, Pertanian Sumut telah memberikan kontribusi 21 persen terhadap PDRB. Dari sektor pertanian ini membuat pertumbuhan ekonomi Sumut tumbuh menjadi 6,01 persen di atas pertumbuhan ekonomi nasional 5,78 persen," kata Gubsu H Gatot Pujo Nugroho dalam sambutannya pada acara Apel Siaga Penyuluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan, serta Penyerahan Kontrak Kerja THL TB PP 2014 di Lapangan Bola Sejati Pangkalan Manshur Medan, Senin (7/4) yang dihadiri Wakil Menteri Pertanian, Rusman Heriawan.
Kebijakan Gatot Pujo Nugroho itu mendapat apresiasi dari Wamen Pertanian, dimana Gubsu telah melakukan beberapa kebijakan dalam membangun pertaniannya. Seperti merekrut 143 orang tenaga penyuluh melalui outsourching, menyelenggarakan jambore yang dihadiri 2.700 orang petani belum lama ini di Sumut. Kemudian pembangunan saung tani yang berguna sebagai wadah untuk petani dan penyuluh untuk bercengkrama dan berdiskusi di sejumlah kabupaten/kota di Sumut.
Sebagai bentuk keseriusan Gubsu dalam mendukung peran penyuluh kedepan, dalam acara itu Gubsu juga menyampaikan kepada Wamen Pertanian, penyuluh Tenaga Harian Lepas (THL) bisa jadikan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) kelak.
Dia menjelaskan penyuluh merupakan ujung tombak dan garda di depan, tenaga yang langsung berhubungan dengan petani, pekebun, peternak, nelayan, petambak termasuk masyarakat di sekitar hutan. "Penyuluh yang mengetahui persoalan petani dan kelompok tani di lapangan. Karenanya perlu dilakukan penguatan tekad dan kemampuan para penyuluh kita," katanya.
Program Manggadong yang diajukan Gubsu itu tampaknya akan bisa berhasil kedepan dan provinsi Sumatera Utara dapat mandiri terhadap ketahanan pangan di masa mendatang. Sehingga Provinsi Sumatera Utara pun akan lebih mudah maju dan fokus menggali atau mencari PAD diluar pajak, terutama melalui investasi di berbagai bidang, seperti pertaninan, perikanan, perkebunan, tambang dan pariwisata ke depan.
Apalagi didukung dengan keberadaan Bandara Kuala Namu yang sudah beroperasi dan resmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono belum lama ini. Tentunya, melalui Bandara Kuala Namu ini investor dari negara-negara lain akan banyak yang datang untuk menanamkan modalnya di Sumut, baik di bidang pertanian, perkebunan, pertambangan, jasa, pariwisata dan lain-lain.
Peresmian itu juga membuat negara Indonesia kini resmi memiliki Bandara Kuala Namu, yang merupakan pintu gerbang kawasan Indonesia bagian Barat. Bandara ini secara langsung akan mendukung Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangke di Kabupaten Simalungun yang menjadi salah satu wujud nyata pengembangan program MP3EI. Selama beroperasi bandara secara signifikan memberi pengaruh positif terhadap mobilitas dan pengembangan ekonomi wilayah. Sebagai gambaran berdasarkan data PT. angkasa pura II pada lima tahun terakhir (2008-2012) tercatat peningkatan pertumbuhan penumpang rata-rata mencapai 8,37% , sedangkan pertumbuhan pesawat sebesar 3,86% pertahunnya. Bahkan data tahun 2013 tercatat jumlah penumpang mencapai 8,3 juta penumpang atau melebihi kapasitas terminal yang ada saat ini sebesar 8 juta penumpang pertahun. Angka ini diprediksi akan terus meningkat seiring dengan perkembangan kebutuhan mobilitas masyarakat dan kebijakan low cost carrier di sektor penerbangan.
Gubsu berharap penyelesaian tahapan lanjutan dari pembangunan bandara dapat dilanjutkan sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Termasuk pembangunan infrastruktur transportasi lainnya, seperti kawasan ekonomi khusus Sei Mangkei, pelabuhan internasional Kuala Tanjung, pembangunan Tol Kuala Namu - Tebing Tinggi, Tol Medan–Binjai dan lain sebagainya.
Memang di tengah keterbatasan energi dan infrastruktur saja, provinsi Sumut sepanjang 2013 ternyata masih menjadi idola para investor. Total realisasi investasi Sumut hingga Triwulan III 2013 sudah mencapai Rp 10,4 Triliun. Angka ini melampaui target Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Pusat sebesar Rp. 9 Triliun. Dari angka di atas modal asing (PMA) mendominasi dengan 155 proyek senilai Rp 6,7 triliun, disusul modal dalam negeri (PMDN) dengan 81 proyek senilai Rp 3,7 triliun.
Berbagai prestasi yang diraih Sumatera Utara di tahun 2013, di antaranya mendapat penghargaan Regional Champion Tahun 2013 dari BKPM RI yaitu sebagai Nominasi 10 Besar Provinsi Terbaik di Bidang Investasi Tahun 2013. Tak hanya itu, di tengah masih adanya keterbatasan baik energi dan infrastruktur Provinsi Sumatera Utara dipercaya sebagai provinsi terpilih yang difasilitasi penuh oleh BKPM RI untuk mengikuti Investment Promotion Forum Regional Potential Investment Opportunities di Roma, Italia.
Dengan program Manggadong, capaian 2013 membuat Pemerintah Prrovinsi Sumatera Utara tetap optimistis memasuki tahun 2014. Itu juga ditegaskan Gubsu sebagai tahun kerja keras. Karena melalui ketahanan pangan dengan didukung berbagai bidang usaha tentu akan mempercepat proses pembangunan, penyediaan lapangan kerja/mengurangi pengangguran yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan rakyat Sumatera Utara. Sehingga dengan selesainya pembangunan infastruktur diatas maka moda transfortasi hasil-hasil peratanian, perkebunan, tambang dan komoditi lainnya akan bisa membuat provinsi Sumut berdaya saing, maju, mandiri dan sejahtera, seperti visi dan misi Gubernur Sumut H Gatot Pujo Nugroho dan Wakil Gubsu H Tengku Erry Nuradi. (Tulisan Ini diikutkan dalam lomba karya tulis HUT Provinsi Sumut ke-66).
(r)