Pemilu legislatif 2014 baru saja selesai dilaksanakan dengan peserta12 partai politik nasional dan 3 partai lokal. Berdasarkan data stastistik pencalonan, sekitar 200 ribu Caleg memperebutkan 19 ribu kursi DPR RI, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD kab/kota baik seluruh Indonesia .Berarti hampir 181 ribu caleg yang akan gagal melaju menjadi anggota dewan. Ini berarti hanya sekitar 10 persen yang berhasil menduduki kursi parlemen.Di Sumatera Utara sendiri,ada puluhan ribu caleg yang bertarung memperebutkan sekitar seribuan kursi yang tersedia baik tingkat DPRD kabupaten/kota sampai tingkat pusat..
Meskipun KPU sedang melakukakan rekapitulasi perolehan suara setiap partai untuk DPRI, DPD/DPR RI dan DPRD, dipastikan dalam akhir bulan ini akan ditetapkan calon-calon terpilih yang jumlahnya sangat kecil dibandingkan dengan jumlah yang gagal. Besarnya angka caleg yang gagal diperkirakan akan membawa dampak yang cukup significan secara individual dan sosial, mengingat mulai dari masa pencalonan, kampanye, dan pemungutan suara, setiap calon telah mengeluarkan energi yang besar.
Tulisan ini akan mencoba mendeskripsikan efek sosio psikologis bagi caleg yang gagal dan solusi yang dapat dilakukan. Dukungan keluarga dan masyarakat sekitar akan dapat meminimalisir jumlah individu yang depresi/stres pasca Pemilu yang pada gilirannya dapat memproduser tingkah laku devian dalam masyarakat
Efek Sosio Psikologi Caleg yang gagalBanyaknya Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di berbagai daerah yang sudah menyiapkan tempat untuk para caleg yang gagal merupakan suatu fenomena yang sangat menarik. Mungkin menilik dari pengalaman 5 tahun yang lalu tercatat ada sebanyak 7.736 caleg yang gagal mengalami gangguan jiwa membuat pihak Rumah Sakit Jiwa lebih mengantisipasi pada Pemilu kali ini. Seperti di salah satu Rumah Sakit Jiwa di Makassar, mereka menyiapkan 200 tempat khusus bagi caleg yang gagal melaju menjadi anggota dewan. Fenomena ini memang sungguh sangat menarik.
Berikut beberapa alasan mengapa caleg frustasi atau depresi ketika tidak terpilih.
"Siap menang siap kalah " adalah kata yang terucap dari mulut calon legislatif yang bertarung. Namun faktanya, masih banyak caleg yang belum siap untuk kalah. Harapan yang besar terpilih menjadi anggota dewan membuat para calon anggota legislatif ini sangat ambisius duduk menjadi anggota dewan. Berbagai cara dilakukan mulai dari memasang baliho ,kampanye besar besaran bahkan ada yang melakukan money politics.
Tidak bisa kita pungkiri juga bahwa biaya yang dikeluarkan untuk maju sebagai calon anggota dewan cukup besar. Seperti yang terpublikasi ke media massa, seorang caleg yang bertarung di tingkat provinsi diyakini mengeluarkan dana sekitar Rp 400-500 juta sebagai modal menjadi wakil rakyat.
Untukcalon DPR RI,, dana yang disiapkan minimal 1 miliar rupiah. Dana sebesar itu untuk sebagian kalangan, mungkin tidak menjadi masalah, namun bagi caleg yang bermodal " pas -pasan " merupakan hal yang sulit. Untuk mendapatkan dana yang di butuhkan, ada caleg yangi nekad meminjam uang, menjual tanah,rumah yang mereka miliki menjadi ongkos politik mereka. Dengan harapan bila terpilih mereka kelak dapat mengembalikan modal yang telah mereka keluarkan. Hal inilah menjadi sumber stres paling umum penyebab caleg frustrasi dan depresi ketika ternyata gagal menjadi anggota dewan..
Karakter dan pengalaman dari caleg itu sendiri merupakan salah satu yang berpengaruh dalam pengelolaan stres yang mereka alami jika kemudian gagal terpilih. Kepribadian yang tidak siap kalah, secara psikologis menjadi penyebab stressor yang sangat ampuh. Kondisi stress bukan hanya rawan bagi caleg yang baru pertama kali calon dan gagal, tapi dapat juga terjadi pada calon incumbent. Misalnya, seorang yang sudah dua kali terpilih menjadi anggota dewan dan . pada pencalonan yang ketiga optimis terpilih kembali akibat dari 2 pengalaman sebelumnya. Ketika tidak terpilih kembali,Caleg tersebut kemungkinan akan sulit menerima kekalahannya. Sebaliknya caleg yang memiliki pengalaman gagal sebelumnya akan lebih mudah menerima kekalahan mereka.
Ketika gagal terpilih, akan sangat berpengaruh terhadap psikologis dan perilaku caleg. Rasa malu terhadap keluarga,kerabat mau pun teman - teman,memungkin para caleg ini menarik diri dari lingkungan dan kehilangan rasa percaya diri. Mereka menganggap sudah gagal dan mengecewakan semua pihak,apa lagi bagi caleg yang ketika mencalonkan diri, tidak didukung sepenuhnya oleh lingkungannya. Kegagalan menjadi pukulan yang berat sehingga rasa bersalah terhadap lingkungan dan kecewa akan diri sendiri akan menghampirinya. Rasa frustrasi juga dapat mengakibatkan caleg gagal ini melampiaskan dengan cara yang tidak baik seperti merokok,minum-minuman keras,bahkan memakai narkotika untuk menenangkan reaksi emosional mereka terhadap stress yang mereka alami.
Rasa tidak siap kalah juga membuat defense mechanisms atau pembelaan diri dari caleg tersebut menjadi sangat tinggi.Mereka akan merasa kalah karena dicurangi atau menyalahkan ,partai, tim sukses mereka atau membuat alasan - alasan lainnya mengapa tidak terpilih. Mereka akan berusaha membuat seakan akan mereka tidak terpilih bukan karena salah mereka,namun karena ada faktor - faktor lainnya. .Rasa frustrasi juga bisa meningkatkan agresifitas caleg gagal tersebut. Melakukan demo , melakukan perusakan terhadap Gedung KPU,atau hal lainnya dilakukan untuk pelampiasan rasa kecewa mereka karena gagal menjadi anggota dewan.
Solusi Bagi Caleg Yang Gagal Berikut beberapa yang dapat dilakukan untuk mengurangi rasa frustasi atau depresi Diantaranya mendekatkan diri secara rohaniah merupakan hal yang terpenting dalam menghindarkan dari frutrasi akumulatif. Dengan melakukan aktivitas kerohanian seperti berdoa atau melakukan aktivitas keagamaan lainnya. Caleg tersebut dapat lebih mengelola stress yang mereka alami. Dukungan lingkungan sosial juga penting. Dukungan dari keluarga,kerabat mau pun teman -teman untuk caleg tersebut akan sangat berarti bagi keadaan psikologinya. Dia akan merasa dipedulikan dan tidak sendirian, dan juga merasa kegagalannya ternyata tidak menjadi masalah bagi lingkungannya. Tentu ini sangat bagus untuk kondisi psikologis mereka.
Memanajemen dan menghilangkan sumber stress merupakan salah satu cara pengelolaan stress yang efektif .Ketika caleg gagal terpilih menjadi anggota dewan, untuk mengurangi tingkat frustrasi ,dapat melakukan hobi atau hal yang mereka sukai, seperti memancing,pergi bertamasya,atau pun banyak hal yang dapat membuat mereka lupa akan kegagalan mereka menjadi anggota dewan. Memanajemen sumber stress juga dapat dilakukan dengan hal yang bisa mereka dapat meraih kemenangan ,seperti berolahraga ,bermain game,sehingga merasa mereka dapat meraih kemenagan. Ini akan memberi dampak positif bagi psikologis mereka.
Terakhir,dengan cara melihat kegagalan terpilih sebagai anggota dewan secara positif. Tidak selalu kegagalan itu menjadi dampak negatif bagi yang mengalaminya. Seperti pepatah mengatakan; semua ada hikmahnya., Kegagalan terpilih menjadi anggota dewan bisa menjadi evaluasi dan motivasi untuk caleg itu sendiri. Pengalaman yang didapat dari partisipasi pada Pemilu kali ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga. Mungkin saja menjadi anggota dewan bukan jalan terbaik untuk anda, bangun sikap optimis bahwa masih ada hal yang lebih baik yang nantinya dapat anda lakukan. Karena Tuhan pasti punya rencana indah buat anda ,dan semua akan indah pada waktunya. Semua langkah menghindari stres tersebut akan efektif kalau keluarga dekat (istri- suami dan anak-anak) bagi yang sudah menikah atau ayah ibu dan saudara-saudari bagi calon yang belum menikah memberi dukungan semangat. Semua sudah terjadi, sikap menyalahkan caleg yang sudah menghabiskan materi justru akan menjadi penyebab lahirnya individu anti sosial dan dapat mengarah kepada perbuatan nekad. Mari kita cegah, yang lalu biarlah berlalu sebagai pembelajaran kepada masyarakat, bahwa terjun ke panggung politik harus dengan pertimbangan matang.
(c)