Persoalan yang kerap menimpa sektor transportasi seperti beragam insiden di sejumlah moda transportasi dinilai sedikit banyak terkait pula dengan kemampuan atau kapasitas dari SDM transportasi yang terdapat di negeri ini.
Misalnya untuk moda transportasi udara, terdapat persoalan kekurangan pilot seperti yang dinyatakan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti bahwa dunia penerbangan di Indonesia membutuhkan hingga sekitar 800 pilot per tahun.
"Kebutuhan pilot secara totalitas hingga 800 pilot per tahun," katanya dalam konferensi pers tentang Angkasa Aviation Academy di Tangerang, Senin (17/3).
Herry Bakti memaparkan bahwa pada saat ini telah terdapat hingga sebanyak 22 sekolah penerbang di berbagai wilayah di Tanah Air. Ia mengutarakan harapannya sekolah penerbangan itu mampu untuk memenuhi kebutuhan pilot apalagi mengingat pada 2015 diberlakukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Berdasarkan data Kemenhub, berbagai sekolah penerbangan hanya dapat menghasilkan sekitar 400 pilot per tahun atau hanya sekitar separuh dari kebutuhan yang sebenarnya diperlukan dunia penerbangan nasional.
Sementara di sektor kelautan, Menteri Perhubungan Evert Erenst Mangindaan bahwa pertumbuhan industri pelayaran baik nasional maupun di dunia mengakibatkan semakin banyak dibutuhkannya tenaga awak kapal.
Menurut Mangindaan, Indonesia masih kekurangan sekitar 7.000 SDM pelaut dan jumlah tersebut dinilai hanya untuk kebutuhan dalam negeri dan belum memperhitungkan kebutuhan luar negeri.
Berdasarkan data Kemenhub pada tahun 2013, industri transportasi laut kekurangan lebih dari 18.000 tenaga pelaut tingkat perwira dan kekurangan sekitar 25.000 tenaga pelaut tingkat rating.
Untuk itu, Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono dalam sejumlah kesempatan juga minta Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan agar segera melakukan langkah-langkah yang tepat guna mengantisipasi persoalan itu.
"Kami perlu memadatkan kurikulum pendidikan dengan melakukan akselerasi atau percepatan untuk kelulusan dari para pelaut," ujar Wamenhub.
Namun, dia mengingatkan bahwa akselerasi tersebut juga jangan sampai mengabaikan kualitas lulusan pendidikan SDM di bidang transportasi tersebut.
Jangan hanya teori
EE Mangindaan mengatakan sumber daya manusia di sektor transportasi jangan hanya menguasai teori tetapi juga harus menguasai standar kecakapan dan keterampilan yang dibutuhkan.
"Dalam melaksanakan tugas dibutuhkan kompetensi bukan sekadar pandai dan menguasai teori," kata Mangindaan dalam acara pelantikan Kepala Badan SAR Nasional dan Pejabat Eselon II di Kementerian Perhubungan, Jakarta, Senin (14/4).
Untuk itu, ujar dia, SDM transportasi harus dapat menyesuaikan dengan perkembangan keadaan karena perubahan lingkungan strategis telah membawa pengaruh tidak hanya dalam lingkup ekonomi tetapi juga menyangkut politik.
Menhub berpendapat, itu semua disebabkan karena majunya teknologi informasi dan komunikasi yang menyebarkan informasi dengan cepat ke seluruh penjuru dunia bahkan tidak jarang tanpa adanya tenggang waktu.
"Saya sampaikan pula bahwa paradigma berpikir dan bertindak kita harus berubah agar tidak menjadi tertinggal dengan perkembangan lingkungan yang berubah pesat tersebut," katanya.
Menhub juga mengingatkan perusahaan pelayanan transportasi mesti peka terhadap kritik guna meningkatkan kepuasan dari para pengguna jasa transportasi.
"Karakteristik pelayanan jasa transportasi yang begitu peka terhadap kritik masyarakat menuntut setiap pejabat untuk lebih peka dan membuka diri dan pada saat yang sama siap menerima kritikan, saran dan masukan dari masyarakat," kata Mangindaan.
Menurut Menhub, berbagai kebijakan yang akan ditempuh harus mampu menampilkan sosok transportasi yang andal, bersih dan bebas dari inefisiensi serta mampu meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
"Haruslah menjadi perhatian kita mengenai pentingnya penanganan keselamatan, baik dari unsur sarana dan prasarana maupun dari unsur manusia dan sistem operasional serta pengaturannya," katanya.
Kementerian Perhubungan bertekad guna meningkatkan kompetensi sumber daya manusia aparat transportasi yang dinilai masih lemah karena masih belum memadainya pendidikan dan pelatihan sektor transportasi.
"Kami ingin meningkatkan kualitas dan kuantitas lulusan diklat transportasi," kata Kepala Badan Pengembangan SDM Kemenhub Santoso Edy Wibowo dalam acara diskusi Forum Wartawan Perhubungan di Jakarta, Jumat (4/4).
Lemahnya Budaya SDMMenurut Santoso Edy Wibowo, permasalahan SDM transportasi antara lain masih lemahnya budaya SDM aparatur perhubungan baik di pusat maupun di daerah, serta masih rendahnya SDM Kemenhub berlatar belakang transportasi.
Ia mengungkapkan, hanya sekitar 12 persen SDM Kemenhub yang berlatar belakang pendidikan di bidang transportasi dan belum semua SDM operator sarana dan prasarana transportasi bersertifikat.
Selain itu, lanjutnya, baru sekitar 55 persen SDM Dinas Perhubungan yang mempunyai kompetensi di bidang transportasi, serta terbatasnya SDM pengatur dan pengawas (inspektur/auditor).
Ia juga mengemukakan, pengelolaan SDM Perhubungan dinilai masih belum terarah khususnya terkait kebutuhan kompetensi pegawai, pola karier, pola mutasi dan pola pelaksanaan diklat.
"Kami sedang menyusun grand design sampai 20 tahun ke depan agar semua mendapat kesempatan dan akses kepada pendidikan transportasi," katanya.
Santoso memaparkan, pihaknya akan berupaya mewujudkan SDM Perhubungan yang prima, profesional dan beretika dalam menyelenggarakan transportasi yang handal serta berorientasi "zero accident".
Sedangkan Sekjen Kemenhub Leon Muhammad mengingatkan mengenai perlunya pembentukan badan untuk memberikan sertifikasi beragam moda transportasi yang akan beroperasi di negara-negara ASEAN atau Asia Tenggara.
"Setiap negara anggota ASEAN disyaratkan untuk membentuk badan nasional kompeten, yaitu sebuah badan yang berwenang untuk memberikan sertifikat registrasi bagi operator transportasi multimoda yang akan beroperasi di kawasan ASEAN," kata Leon.
Menurut dia, hal itu karena integrasi sistem logistik ASEAN menyiratkan adanya liberalisasi di bidang jasa angkutan multimoda di kawasan ASEAN dan menuju liberalisasi jasa pada tataran global.
Ia juga mengingatkan bahwa Rencana Strategis Transportasi Nasional ke depan adalah terwujudnya layanan transportasi multimoda.
Transportasi multimoda, lanjutnya, berperan sebagai penggerak utama angkutan barang di Indonesia sehingga mampu meningkatkan daya saing produk nasional baik di pasar domestik, regional maupun internasional.
(Ant/d)Simak berita selengkapnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 21 April 2014. Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap pukul 13.00 WIB.