Sejumlah survei menunjukkan bahwa jumlah wisatawan yang bepergian dari sejumlah negara berkembang di kawasan Asia-Pasifik pada beberapa tahun mendatang dinilai bakal melonjak lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
"Pertumbuhan kelas menengah mendorong pertumbuhan wisata di Asia Pasifik, bersamaan dengan tren lain seperti munculnya wisatawan milenial Asia dan wisatawan usia senior di sisi lainnya, serta perkembangan teknologi dan infrastruktur," kata Senior Vice President Asia Pasific Mastercard Advisors (perusahaan finansial), Eric Schneider, dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (14/2).
Berdasarkan laporan Mastercard bertajuk "Future of Outbound Travel in Asia Pasific 2016 to 2021", jumlah wisatawan yang bepergian dari negara-negara berkembang di Asia Pasifik (China, India, Malaysia, Thailand, Indonesia, Filipina, Vietnam, Bangladesh, Myanmar dan Sri Lanka) saat ini telah melampaui wisatawan outbound dari negara-negara maju di Asia Pasifik.
Selain itu, angka tersebut diperkirakan akan tumbuh dua kali lebih cepat dalam lima tahun ke depan (7,6 persen dibandingkan 3,3 persen).
Secara kolektif, negara-negara di Asia Pasifik diramalkan akan tumbuh sebesar enam persen setiap tahunnya mulai dari 2016 hingga 2021.
Data tersebut tidak mengejutkan, sebab China diprediksikan sebagai negara dengan wisata terbesar pada tahun 2021 dengan 103,4 juta kunjungan.
Jumlah itu berperan hingga sebesar 40 persen dari total keseluruhan wisata outbound di Asia Pasifik, hampir empat kali lipat dari negara terbesar ke-2 dan ke-3, yakni Korea Selatan (25,6 juta) dan India (21,5 juta).
"Wisatawan Asia Pasifik akan terus memicu pertumbuhan pariwisata global di tahun-tahun mendatang, menyediakan beragam kesempatan bagi perusahaan untuk mendapatkan keuntungan melalui pengembangan produk dan solusi yang senantiasa diupayakan untuk meningkatkan keseluruhan pengalaman perjalanan mereka," kata Eric Schneider.
Myanmar diproyeksikan akan menjadi negara asal wisatawan yang mengalami pertumbuhan tercepat dengan pertumbuhan sebesar 10,6 persen per tahun dalam jangka lima tahun ke depan, diikuti dengan Vietnam (9,5 persen), Indonesia (8,6 persen), China (8,5 persen), dan India (8,2 persen).
Di antara negara-negara maju di Asia Pasifik, pertumbuhan tercepat dialami oleh Korea Selatan (3,8 persen), diikuti oleh Singapura (3,5 persen), Australia (3,5 persen) dan Selandia Baru (3,4 persen).
Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata I Gede Pitana mengatakan Indonesia membutuhkan sedikitnya 2,5 juta tenaga kerja dalam lima tahun mendatang.
"Kita membutuhkan 2,5 juta tenaga kerja. Sekitar 70 persen diantaranya untuk tingkatan pekerja vokasi," ujar Pitana, Senin (13/2).
Dia mengatakan pariwisata merupakan salah satu sektor yang sangat cepat dan sangat tinggi menyerap tenaga kerja sehingga SDM untuk bidang pariwisata benar-benar disiapkan terutama sekali tenaga kerja profesional.
Pesona Indonesia Indonesia juga telah mengambil beragam langkah antisipasi, seperti Kementerian Pariwisata yang menyajikan berbagai program Pesona Indonesia dalam rangka merayu wisatawan asal Filipina dalam Travel Tour Expo (TTE) Philippines 2017.
"Kami memperkenalkan Indonesia ke pasar Filipina karena selama ini yang masih menjadi incaran mereka (wisatawan mancanegara/wisman) Filipina biasanya masih Bali," kata Deputi Direktur Pemasaran Wilayah Asia Tenggara Kementerian Pariwisata Dwi Ratih Siswarini dalam acara hari kedua TTE 2017 di Manila, Filipina, Sabtu (11/2).
Untuk itu, ujar dia dengan kehadiran Indonesia di acara Travel Tour Expo (TTE) 2017 maka diharapkan warga Filipina untuk dapat lebih mengenal berbagai lokasi destinasi sasaran lainnya di Tanah Air.
Dia juga menginginkan Indonesia jangan sampai kalah bersaing dengan sejumlah negara tetangga lainnya yang termasuk anggota ASEAN dan juga negara-negara di kawasan Asia-Pasifik seperti Jepang dan Korea Selatan memperebutkan potensi pasar wisatawan Filipina.
Menurut Dwi Ratih, hal tersebut juga penting agar sektor pariwisata di Tanah Air dapat tetap terus eksis dan berjaya di mata dunia.
Dalam anjungan Indonesia, ada sebanyak 20 pelaku usaha pariwisata Indonesia yang turut serta antara lain dari agen wisata, operator tour, 'hotelier', dan manajemen atraksi.
Para pelaku usaha itu menawarkan paket wisata kepada para pengunjung pameran antara lain dengan bermitra bersama agen wisata lokal dari Filipina.
Mereka umumnya menawarkan terkait pesona Indonesia yang telah dijabarkan Kemenpar melalui program Top 10 Branding Destination dan Top 10 New Bali.
Top 10 Branding Destination adalah Great Jakarta, Great Bali, Great Kepri, Joglosemar, Bunaken-Wakatobi-Raja Ampat, Medan, Lombok, Makassar, Bandung, dan Banyuwangi.
Sedangkan Top 10 New Bali adalah Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Borobudur, Bromo-Tengger-Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, dan Morotai.
Sejumlah biro wisata atau travel agent mengemukakan semakin banyak warga Filipina yang mengenali potensi pariwisata di berbagai daerah di Indonesia dan tidak hanya terbatas dengan Pulau Bali.
"Semakin banyak orang Filipina yang mengetahui destinasi wisata di Indonesia selain Bali," kata Product and Sales Manager Biro Wisata MG Destinations (travel agent asal Indonesia), Jackson Kho.
Menurut dia, sejumlah daerah lainnya selain Bali yang dikenali warga Filipina antara lain Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.
Hal tersebut, lanjutnya, karena biasanya ada paket wisata yang menggabungkan rute Jakarta-Bandung-Yogyakarta-Bali, atau sebaliknya.
Jackson juga mengemukakan bahwa salah satu aktivitas yang gemar dilakukan oleh wisatawan Filipina ketika berkunjung ke sejumlah daerah tujuan wisata di Indonesia, ialah berbelanja.
"Orang Filipina biasanya suka 'shopping'," katanya dan menambahkan, tujuan mereka datang ke lokasi wisata di Tanah Air biasanya untuk berbelanja serta untuk keperluan bisnis, dan ada pula yang ingin mengenali budaya atau wisata kultur seperti di Bali.
Sementara itu, Budi dari travel agent AB Bali juga menyebutkan, kenapa sejumlah daerah wisata menjadi sasaran berbelanja adalah karena harganya nisbi murah dibandingkan sejumlah sasaran tradisional lokasi pariwisata lainnya di Asia.
Berdayakan branding Dalam rangka meningkatkan pariwisata di Indonesia, berbagai pihak juga dinilai perlu untuk memanfaatkan sebesar-besarnya kebesaran "branding" berbagai hal seperti komoditas kopi Indonesia yang sudah sangat terkemuka di berbagai belahan dunia, tetapi lebih banyak diberdayakan nilai tambahnya oleh pihak asing.
"Branding kopi Indonesia di tingkat internasional sudah sangat terkenal," kata barista atau pakar peracik kopi Petrus Matheos P, yang turut serta dalam eksibisi "Wonderful Indonesia" dalam ajang Travel Tour Expo (TTE) 2017 di Manila, Filipina.
Petrus telah beberapa kali mengikuti even mengikuti delegasi asal Indonesia sebagai barista di sejumlah pameran ekspo internasional, seperti di Vietnam dan Finlandia.
Di Finlandia, dia mengaku kaget bahwa ditemukan produk kopi yang menjadi pihak distributornya adalah perusahaan dari Swedia, padahal bisa saja biji kopi tersebut berasal dari Indonesia.
Untuk itu, sangat disayangkan bila pihak yang mendapatkan nilai tambah adalah dari luar, tetapi bukannya dari Indonesia yang dikenal sebagai salah satu negara penghasil bijih kopi di tingkat global.
Apalagi, kopi pada saat ini juga telah melalui tahap sosialisasi yang cukup bagus di nusantara, dengan gerai kopi tersebar di mana-mana, mulai dari berbagai kota besar hingga ke pelosok daerah kecil.
Pada tahun 2016, lembaga Specialty Coffee Association of America menetapkan Indonesia sebagai 2016 Official Portrait Country dalam pameran SCAA 2016 yang berlangsung di Atlanta, Georgia, AS, 14-17 April 2016.
Penetapan tersebut dinilai mampu meningkatkan national branding atau citra Indonesia di tingkat internasional sebagai penghasil kopi terbaik dunia.
Apalagi, pameran SCAA 2016 di negara Paman Sam tersebut juga dilaporkan dikunjungi oleh lebih dari 12 ribu orang.
Sedangkan Paviliun Indonesia ketika itu juga menampilkan specialty coffee terbaik dari seluruh daerah penghasil kopi Indonesia, mulai dari Aceh sampai Papua.
Indonesia juga dikenal memiliki varian kopi terbanyak dengan jumlah hampir 100 jenis varian kopi arabika yang diciptakan sejak 1699. Beberapa jenis diantaranya yang terkenal adalah Sumatera Lintong, Sumatera Solok Minang, Java Preanger, Java Estate, Sulawesi Toraja, Papua Wamena, dan lain sebagainya.
Tentu saja tidak hanya kopi, tetapi ada banyak hal yang bisa di-"branding"-kan dalam rangka menarik wisatawan Asia-Pasifik untuk menikmati pesona Indonesia. (Ant/l)