Menjadikan Danau Toba destinasi wisata kelas dunia ternyata tidak mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Sebelumnya terkendala dengan penetapan rencana tata ruang dan wilayah (RTRW), kini beredar berita hoax adanya lintah atau kutu yang mewabah di kawasan Danau Toba. Ada berita wisatawan yang diserang lintah. Ketika ditelusuri ternyata berita tersebut tidak benar (hoax). Berita hoax seharusnya tidak perlu beredar. Danau Toba menjadi destinasi wisata dunia merupakan keinginan kita bersama. Kita meminta kepada pemerintah khususnya bidang komunikasi dan informatika untuk menelusuri siapa penyebar berita hoax tersebut. Kita juga meminta devisi cybercrime kepolisian untuk mengusut dan menyelidiki pihak-pihak yang tak ingin Danau Toba maju. Siapa pelakunya dan apa motifnya harus diketahui. Tindakan tegas harus diberikan.
Danau Toba menjadi perhatian nasional sejak Presiden Joko Widodo dan Menteri Pariwisata Arief Yahya ingin membangun kawasan Danau Toba agar sama seperti Bali. Keinginan Presiden ditindaklanjuti dengan dibentuknya Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba tanggal 1 Juni 2016. Presiden juga menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 49 Tahun 2016, tentang Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba. Pekerjaan Badan Otorita sudah mulai terlihat. Keramba yang dulu menjadi pemandangan di Danau Toba sudah hilang. Air Danau Toba terlihat semakin bercahaya. Infrastruktur khususnya jalan sudah dikerjakan dibeberapa lokasi. Bangunan dan lokasi berdagang sudah ditertibkan. Hebatnya, lokasi-lokasi wisata baru di sekitar Danau Toba mulai dikembangkan oleh masyarakat. Bukti keseriusan pemerintah dan masyarakat untuk Danau Toba baru.
Kita meyakini pekerjaan akan terus dilakukan. Kita terus mendukung pekerjaan tersebut. Berita hoax mengganggu pekerjaan yang dilakukan. Idealnya berita tersebut jangan lagi beredar. Semua pihak harus bersinergi untuk mewujudkan "Monaco Asia" baru. Gubernur, Bupati, dan pihak yang berkompeten harus bersinergi dan saling mendukung. Berita hoax hanya akan merusak penilaian masyarakat. Jangan karena berita hoax, Danau Toba menjadi layu sebelum berkembang. Tugas kita semua untuk mengawal pemberitaan dan penyebaran informasi terkait dengan Danau Toba. Berita positiflah yang idealnya dikumandangkan. Berita yang bernuansa negatif, ada baiknya dipastikan dulu kebenarannya. Pihak yang dengan sengaja menyebar berita tidak benar harus diselidiki dan ditindak tegas.
Danau Toba akan menjadi ikon destinasi yang layak dikunjungi, baik dari wisatawan lokal maupun mancanegara. Keyakinan tersebut tentu harus didukung dengan keseriusan dan komitmen. Semua harus berkomitmen penuh terhadap kemajuan dan terwujudnya Danau Toba menjadi destinasi wisata dunia. Ke depan berita hoax jangan lagi beredar. Menjadi tugas penting semua pihak mencegahnya. Kenyamanan wilayah dan informasi Danau Toba harus terus dijaga. Kita harus bergandeng tangan menyamakan persepsi dalam memajukan destinasi pariwisata Danau Toba. Kembali menegaskan pihak yang ingin merusak semangat pengerjaan dan pengembangan Danau Toba harus ditindak. Aspek-aspek yang menjadi poin utama harus terus dikerjakan dan dikembangkan. Dengan demikian, Danau Toba "Monaco Asia" akan segera terwujud dan siap untuk menjadi destinasi wisata kelas dunia.
Membentuk Ruang Publik
David Held dalam bukunya Models of Democracy, menawarkan konsep demokrasi yang tidak lagi berdasarkan keterwakilan, akan tetapi lebih pada partisipasi masyarakat secara langsung. Media sosial menjadi implementasi dari konsep David Held tersebut. Media sosial memampukan masyarakat secara langsung mengungkapkan aspirasi dan pendapatnya. Habermas pada tahun 1962 juga mendukung terminologi ruang publik. Ruang publik dalam uraian Habermas merujuk pada realitas kehidupan sosial, yang memungkinkan masyarakat untuk bertukar pikiran, berdiskusi serta membangun opini publik secara bersama. Berarti ruang publik tidak hanya diasosiasikan pada keberadaan ruang sosial secara fisik, namun juga menyangkut institusi sosial yang memungkinkan publik untuk dapat menyalurkan opini atau pendapatnya secara bebas tanpa tekanan dari negara.
Betapa luas makna dari sebuah ruang publik. Tetapi semuanya kembali berpola kepada hal-hal yang sifatnya positif. Setiap warga di Indonesia diberikan kebebasan untuk menyampaikan pendapat dan opini, tetapi tetap harus dalam koridor-koridor yang telah ditentukan. Kristisme masyarakat silahkan saja, tetapi jadikanlah media sosial sebagai ruang publik yang terhormat. Untuk berita hoax tentang Danau Toba juga demikian. Idealnya yang diberitakan melalui media sosial, hal yang sifatnya baik dan positif. Media sosial seharusnya menjadi ruang publik yang mengacu kepada aturan ideal seperti : memiliki makna, mengakomodir kebutuhan pengguna dan melakukan kegiatan, serta menerima berbagai kegiatan masyarakat tanpa diskriminasi. Media sosial akan menjadi ancaman serius jika tak dipergunakan dengan baik.
Menjaga Kesejukan
Menjaga kesejukan di media sosial sangatlah penting. Indonesia merupakan pengguna media sosial paling aktif di dunia. Antonny Liem, CEO PT Merah Cipta Media mengatakan, 93% dari pengguna internet di Indonesia, aktif mengakses Facebook. Jakarta tercatat sebagai pengguna Twitter terbanyak, hingga disebut sebagai ibukota media sosial. Global Web Index Survei menegaskan, Indonesia negara yang warganya tergila-gila dengan media sosial. Persentase aktivitas jejaring sosial Indonesia mencapai 79,72 %, tertinggi di Asia, mengalahkan Filipina (78 %), Malaysia (72 %), China (67 %). Sebagai pengguna media sosial tertinggi tidaklah salah asal media sosial benar-benar dimanfaatkan untuk menjaga kesejukan, termasuk dalam memberikan informasi terkait dengan perkembangan dan kemajuan pembangunan Danau Toba.
Dengan kesejukan, tak akan ada lagi ujaran-ujaran, ejekan-ejekan, sindiran-sindiran, dan berita hoax. Sehingga media sosial akan kembali sebagai fungsinya untuk menjadi ruang publik. Ini merupakan tugas semua pihak untuk mewujudkannya. Masyarakat sebagai pengguna aktif media sosial harus saling menghargai dan menghormati. Saatnya melakukan perubahan. Manfaatkanlah media sosial untuk kebaikan. Mulailah dari diri sendiri. Ajak orang terdekat. Penting pula menjaga media sosial secara bersama dari muatan atau konten yang mengarah pada segala hal yang negatif dengan cara saling mengingatkan antara sesama pengguna. Laporkan kepada aparat keamanan (Polisi) jika ditemukan unsur pidana. Laporan anda akan memberikan pembelajaran pada yang lain untuk tidak menyalahgunakan media sosial. Danau Toba harus bersih dari pemberitaan negatif. Demi pembangunan Danau Toba menjadi destinasi wisata kelas dunia "Monaco Of Asia". (Penulis Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan dan Media. Staf UPT Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat di Politeknik Unggul LP3M Medan/c).