Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 10 Maret 2026

ASEAN dan Ironi Tuan Rumah Filipina

* Oleh GM Nur Lintang Muhammad
- Sabtu, 29 April 2017 14:19 WIB
1.028 view
Filipina mungkin adalah negara dengan kultur yang menyukai kontradiksi dalam setiap aspek dari kehidupan pribadi sampai urusan administrasi negara.

Di sini Anda bisa menemukan keramahan manusia yang diibaratkan bercampur kehausan terhadap darah. Ada juga pemerintah yang terobsesi dengan keamanan warga dari narkoba di suatu daerah namun membiarkan wilayah lain berjalan tanpa hukum.

Keramahan warga Filipina memang tidak bisa begitu saja diabaikan. Pada Selasa (25/4) pagi, ada seorang wartawan harian dari Indonesia, yang meliput kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (KTT ASEAN) di Manila, kehilangan telepon pintar di perjalanan.

Dia akhirnya bisa mengetahui keberadaan gawainya, yang ternyata tertinggal di mobil taksi daring/aplikasi, setelah dibantu oleh seorang satpam di lokasi KTT ASEAN. Sopir taksi tersebut kemudian dengan senang hati mengantar telepon pintar tersebut ke hotel sang wartawan-bukan sebaliknya.

Banyak situs-situs perjalanan yang akan menyampaikan kesaksian serupa akan keramahan warga Filipina terhadap orang asing.

"Jika Anda mengunjungi rumah orang Filipiina, mereka tidak akan membiarkan Anda tidur di sofa, tapi justru memaksa sang tamu untuk tidur di kamar utama," kata seorang pengguna forum perjalanan Tourist Board.

Namun keramahan tersebut dibarengi kecenderungan lain yang ironis. Warga Filipina kini tengah bersuka ria atas kepemimpinan Presiden Rodrigo Duterte, seorang pribadi dengan kesantunan verbal.

Duterte bukan hanya merupakan definisi dari kekasaran. Lebih dari itu, dia adalah pemimpin yang membiarkan ribuan pembunuhan ekstra judisial terhadap ribuan warganya yang diduga merupakan pengguna obat-obatan terlarang.

Pembunuhan itu seringkali dilakukan di tempat umum seperti pasar atau di rumah di depan anggota keluarga lainnya, sebagaimana digambarkan laporan The New York Times akhir tahun lalu. Mayat kemudian dibiarkan semalaman berada di jalanan untuk menciptakan teror bagi para pengguna narkoba lainnya.

"Jika kamu korupsi, saya akan menerbangkan kamu dengan helikopter lalu melempar kamu dari atas. Saya sudah melakukan ini dan bisa saja akan melakukannya lagi," kata Duterte Desember lalu.

Warga Filipina yang sangat ramah terhadap orang asing itu, ternyata juga menyukai pemimpin yang mengaku pernah melempar orang dari helikopter hidup-hidup. Tingkat kepuasan masyarakat terhadap Duterte hingga kini masih sangat tinggi dengan prosentase mencapai 76 persen, atau termasuk salah satu yang tertinggi di dunia.

Contoh lain dari ironi di Filipina adalah keamanan. Ini adalah negeri yang sangat terobsesi dengan keamanan. Lihat saja jumlah personel keamanan yang diturunkan untuk mengamankan KTT ASEAN di Manila yang mencapai lebih dari 40.000 orang dan 26.000 di antaranya adalah polisi dan tentara berpakaian preman.

Kampanye brutal Duterte untuk memerangi narkoba juga merupakan bagian dari obsesi pribadinya untuk menciptakan suasana aman di negaranya. Namun cobalah melawat Filipina ke bagian selatan dan kenyataan sebaliknya akan telanjang di depan mata.

Pada September 2016 di kota yang pernah dipimpin Duterte selama lebih dari 10 tahun, Davao, sebuah bom meledak sehingga menewaskan sedikitnya 14 orang. Kelompok radikal Maute menjadi pihak yang bertanggung jawab.

Namun beberapa pekan setelah insiden serangan teror tersebut, Omar Maute, pemimpin kelompok Maute yang fasih berbahasa Indonesia tersebut muncul dengan santai di media sosial Facebook untuk bertutur sapa dengan perajin ukir asal Jepara yang selama ini menyuplai bisnis jual beli perabotan rumah tangga sang tokoh.

Omar Maute tidak takut komunikasi tersebut bisa digunakan pihak keamanan untuk melacak di mana keberadaannya.

Menurut keterangan peneliti terorisme lembaga Institute for Policy Analysis for Conflict, Navhat Nuraniya, orang tua Omar, yang diduga terlibat dalam pendanaan aktivitas terorisme anaknya, bahkan terlihat bebas berkeliaran di masjid salah satu kampus di Provinsi Lanao.

"Mereka seperti dibiarkan bebas," kata Navhar saat dihubungi Antara, Selasa (25/4).

Inilah Duterte, presiden yang terobsesi dengan keamanan namun membiarkan kelompok teroris yang meledakkan bom di kota kelahirannya.

Masih banyak kontradiksi-kontradiki lain yang bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari para Filipinos, seperti bagaimana angkutan umum butut berjalan lurus tertib tanpa berganti-ganti jalur, sementara sopir Uber ataupun Grab mengendarai mobil layaknya kopaja di Jakarta.

Namun ironi yang bisa membuat semua orang tertawa kecut mungkin adalah bagaimana Filipina menjelaskan posisi mereka sebagai ketua ASEAN dan bagaimana mereka memilih prioritas isu utama bagi organisasi regional itu dalam laman resminya.

Untuk menegaskan peran penting mereka, Filipina mengatakan bahwa meski "kepemimpinan ASEAN berbasis rotasi dua tahunuan, menjadi Ketua ASEAN juga disertai dengan tanggung jawab khusus dari perhimpunan." Lalu tema kepemimpinan yang diangkat, Filipina menempatkan "orientasi kemanusiaan" (a people-oriented ASEAN) sebagai prioritas utama.

"Orientasi kemanusiaan berarti menempatkan Anda sebagai yang pertama. ASEAN 2017 akan memprioritaskan perlindungan hak asasi manusia," tulis laman resmi ASEAN 2017 Filipina tanpa ada satu pun tanda-tanda ironi.

Inilah negara yang menyoraki ribuan pembunuhan ekstra-judisial dan menganggapnya sebagai kebijakan heroik, yang kemudian memilih prioritas "perlindungan hak asasi manusia" sebagai beban "tanggung jawab khusus dari perhimpunan" sebagai pemimpin negara-negara Asia Tenggara. (Ant/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru