Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 10 Maret 2026

Medan Masih Banjir

* Oleh Ramen Antonov Purba
- Senin, 08 Mei 2017 15:56 WIB
703 view
Medan Masih Banjir
Janji kampanye Wali Kota Dzulmi Eldin memperbaiki serta membebaskan kota Medan dari banjir ternyata isapan jempol. Hujan turun kota Medan masih banjir.
Perbaikan drainase yang dilakukan beberapa waktu lalu belum memberikan dampak signifikan. Banjir hampir rata di semua wilayah Kota Medan. Kita mempertanyakan sistem perbaikan drainase yang dilakukan. Mengapa drainase yang diperbaiki belum mampu menampung debit air hujan. Jika diperhatikan, guyuran hujan tak lama, namun terjadi banjir. Harus ada evaluasi yang sistematik terkait dengan perbaikan drainase. Walikota harus langsung turun ke lapangan untuk memastikan drainase bekerja dengan baik atau tidak. Jangan hanya menanti laporan, tanpa pernah tahu yang dilaporkan sesuai atau tidak dengan kenyataan. Pemerintah provinsi juga perlu melakukan audit pembangunan drainase. Jangan sampai dana begitu besar dipergunakan hasilnya tak sesuai dengan harapan.

Banjir bukan masalah baru di Kota Medan. Ketika Wali Kota Rahudman Harahap MM, juga pernah berjanji akan membebaskan Kota Medan dari banjir.
Kenyataannya kota Medan belum bebas dari banjir. Yang menjadi wakil dari Rahudman Harahap adalah Wali Kota sekarang Dzulmi Eldin. Idealnya ada pelajaran yang dapat diambil setelah periodesasi kepemimpinan. Dengan masa periodesasi yang cukup panjang, namun banjir belum juga terselesaikan, terlihat jika ada hal yang belum tepat. Hal tersebut penting untuk diperhatikan dan segera dicari strategi untuk menyelesaikannya. Ada beberapa hal menurut pengamatan penulis, seperti 1) Drainase menjadi tempat sampah. Drainase merupakan tempat mengalirnya air. Jika banyak sampah maka sirkulasi tak akan lancar. Di sini diharapkan pemerintah dapat melakukan pengawasan dan memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Libatkan kelurahan dan kecamatan. 2) Drainase lebih tinggi dari aspal. Di beberapa wilayah yang telah mendapatkan perbaikan drainase, ada beberapa yang drainasenya malah lebih tinggi dari pasar/aspal. Bagaimana air hujan bisa mengalir jika lebih tinggi. Ujung-ujungnya akan menggenang dan membanjiri pasar/aspal tersebut.

Berikutnya, 3) Sistem Akhir Drainase. Jika diamati, drainase yang dibangun oleh pemerintah kota Medan, ada yang tak jelas kemana akan bermuara. Integrasi yang tak jelas ini tentu sangat beresiko. Belum selesai air terserap, kemudian hujan turun, drainase kelebihan beban, dan akhirnya meluap. Hal-hal yang penulis ungkapkan ini hanya sebagian poin yang menyebabkan Medan masih banjir. Karenanya pemerintah kota Medan harus segera melakukan pembenahan. Jangan lakukan pembangunan asal bangun. Sangat disayangkan uang rakyat dipergunakan tak tepat sasaran. Ujung-ujungnya yang terjadi, produk bangunan sudah rusak karena memang dibangun tak sesuai dengan spesifikasi. Banjir harus segera dihilangkan dari kota Medan. Air hujan yang merupakan anugrah dari Tuhan harus benar-benar disalurkan ke tempat-tempat yang benar-benar ditangani dengan profesional. Karenanya, Dzulmi Eldin harus benar-benar tepat dalam menentukan strategi. Jika tidak yang tejadi kelak habisnya anggaran, namun banjir masih juga terjadi. Jika terus demikian, maka rakyat akan menilai kinerja yang tak memuaskan tersebut dan tentu akan sangat berpengaruh dengan elektabilitas kedepan.

Menjadikan Prioritas
Jika ingin membebaskan Kota Medan dari banjir, maka wali kota harus menjadikan penyelesaian banjir sebagai program prioritas. Dengan demikian, akan ada fokus dana, fokus Sumber Daya Manusia, dan fokus strategi untuk penyelesaiannya. Harus dipahami jika banjir merupakan permasalahan luar biasa yang harus segera diselesaikan. Luar biasa karena banjir akan menghambat banyak substansi. Masyarakat akan terganggu aktivitasnya karena banjir. Masyarakat akan terhambat bekerja karena air menggenang di sana-sini. Pemerintah juga akan kelimpungan karena operasionalnya juga pasti terganggu karena banjir. Dengan demikian, semua pihak akan memperhatikan yang namanya banjir. Sinergi ini akan lebih menjadikan banjir sebagai prioritas, bukan hanya oleh pemerintah kota, namun juga oleh masyarakat.

Pemerintah kota Medan harus belajar dari kota-kota besar yang berhasil meminimkan bahkan membebaskan banjir dari daerahnya. Wali Kota perlu melakukan studi banding guna mendapatkan formulasi yang tepat untuk mengatasi banjir. Hasilnya tinggal diimplementasikan untuk mengatasi banjir di kota Medan. Kota Surabaya dan DKI Jakarta dapat dijadikan parameter bagaimana kepala daerahnya mampu untuk meminimalkan banjir. Nilai positif ini dapat dijadikan pelajaran. Selain itu, pemerintah kota Medan juga perlu melakukan kerjasama dengan perangkat dibawahnya seperti Camat dan lurah. Dengan sinergi yang ada, maka semua pihak akan konsentrasi penuh terhadap persoalan banjir. Masyarakat juga memegang peran yang sangat penting untuk sadar akan pentingnya bersahabat dengan lingkungan.

Peran Masyarakat
Dalam banyak kasus di daerah, banyak proyek yang progresnya tidak meningkat atau lamban hanya gara-gara masyarakat yang tidak siap dengan perubahan dan kemajuan yang ada di depan mata mereka. Terbukti dengan terbengkalainya infrastruktur di beberapa tempat di Indonesia. Sementara uang negara yang dikucurkan untuk pembangunan infrastruktur tersebut tidak sedikit. Ini yang kita takutkan akan terjadi jika pemerintah kota tidak tanggap. Salah satu langkah yang dirasa cukup tepat yakni melibatkan masyarakat dalam melakukan pembangunan infrastruktur. Dengan demikian, masyarakat akan paham akan tujuan dilakukannya pembangunan. Jika sudah mengetahui maka secara tidak langsung rasa memiliki sudah tertanam dalam dirinya. Diharapkan dia juga akan menularkan rasa tersebut kepada rekan-rekan maupun keluarganya.

Untuk mengubah pola dan paradigma berpikir tentu tidak dapat dilakukan dengan cepat. Disini pemerintah kota harus dapat melakukan pendekatan kepada masyarakat tentang langkah-langkah pembangunan yang dilakukan dan apa tujuannya. Agar masyarakat dapat memahami jika pembangunan dilakukan untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Perlu juga diingatkan kepada masyarakat bahwa kini mereka harus meningkatkan potensi dirinya, khususnya tekait banjir. Untuk kota Medan yang bebas banjir. Untuk kota Medan yang metropolitan. Untuk Kota Medan yang lebih baik dan bermartabat. (Penulis tenaga pengajar di Politeknik Unggul LP3M Medan. pemerhati masalah sosial, lingkungan dan kemasyarakatan/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru