"Berikan aku 1.000 orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia".
Kutipan dari Presiden Pertama Republik Indonesia Sukarno itu kerap digunakan untuk menggambarkan betapa kekuatan pemuda-pemuda Indonesia memiliki arti penting. Para pemudalah yang menentukan masa depan suatu bangsa.
Sebaliknya, ada pula ungkapan bahwa untuk menghancurkan suatu bangsa, maka cukup dengan merusak generasi mudanya, baik kesehatannya, moralnya maupun pemikirannya.
Karena itu, menjaga generasi muda dari pengaruh negatif yang berpotensi menimbulkan kerusakan bagi seluruh bangsa harus dilakukan. Salah satunya adalah dengan menjaga generasi bangsa dari candu tembakau.
Anggota Komisi Nasional Pengendalian Tembakau dr Hakim Sarimuda Pohan mengatakan nikotin yang terkandung pada tembakau merupakan "raja" di antara zat adiktif lainnya, seperti kopi, ganja, alkohol, heroin dan morfin.
"Dari banyak zat adiktif yang paling ringan adalah kopi, kemudian mariyuana, alkohol, heroin dan morfin. Tapi karena rokok yang mengandung nikotin, seseorang bisa terjebak dengan zat adiktif lainnya," katanya.
Zat adiktif adalah zat yang menimbulkan ketergantungan atau kecanduan. Bila sudah kecanduan, penggunaan zat adiktif itu akan menyebabkan seseorang uring-uringan atau sakau.
Contohnya terjadi pada pecandu kopi. Bila sehari saja dia tidak meminum kopi yang mengandung kafein, maka pecandu kopi akan uring-uringan atau sakau dalam skala ringan. Semakin tinggi tingkatan zat adiktifnya, maka tingkat sakau dan uring-uringannya juga semakin tinggi.
"Masalahnya, perokok seringkali merasa tidak lengkap kalau tidak merokok dengan ditemani kopi. Kalau sudah begitu, maka kecanduannya semakin banyak," tuturnya.
Dari kecanduan merokok pula, seseorang bisa mengenal ganja, kemudian mengonsumsi alkohol, heroin dan morfin. Namun, orang seringkali lupa bahwa rokok, yang mengandung 4.000 bahan kimia dan 69 di antaranya adalah zat karsinogenik yang mengakibatkan kanker, adalah candu yang paling kuat.
PEROKOK MUDA
Sementara itu, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Kementerian Kesehatan M Subuh mengatakan prevalensi perokok usia di bawah 18 tahun meningkat dari 7,2 persen menjadi 8,8 persen pada 2015.
"Target kami, prevalensi perokok usia di bawah 18 tahun menurun menjadi 6,4 persen pada 2016 dan 5,4 persen pada 2019. Namun, kenyataannya saat ini malah meningkat secara signifikan," kata Subuh di Yogyakarta.
Subuh mengatakan prevalensi merokok di Indonesia saat ini sudah mengkhawatirkan. Sepertiga masyarakat Indonesia saat ini adalah perokok. Bahkan perokok usia di bawah 15 tahun di Indonesia saat ini termasuk terbesar di dunia setelah China dan India.
Menurut Subuh, perilaku merokok berkontribusi besar menjadi faktor penyebab penyakit tidak menular dibanding faktor risiko yang lain. Seorang perokok memiliki risiko dua hingga empat kali lebih besar terkena penyakit jantung koroner.
"Sebagai upaya untuk mengendalikan penyakit tidak menular, kebijakan kawasan tanpa rokok menjadi intervensi utama. Kami mengapresiasi pemerintah daerah yang saat ini sudah menerbitkan aturan tentang kawasan tanpa rokok," tuturnya.
Subuh mengatakan pemerintah saat ini terus berupaya untuk mengurangi jumlah perokok, salah satunya dengan membuka layanan konseling untuk berhenti merokok di banyak layanan kesehatan.
Sejumlah survei yang dilakukan untuk melihat usia seseorang mulai merokok memang cukup mengkhawatirkan. Menurut Global Youth Tobacco Survey 2006 dan 2014, prevalensi perokok remaja usia 13 tahun hingga 15 tahun di Indonesia secara total meningkat dari 12,60 persen menjadi 20 persen.
Bila dibedakan menurut jenis kelamin, prevalensi merokok remaja laki-laki pada rentang usia tersebut mengalami peningkatan paling drastis, yaitu dari 24,50 persen menjadi 36 persen. Sedangkan prevalensi merokok remaja perempuan dari 2,30 persen meningkat menjadi 4 persen.
Sejak usia berapa seseorang biasanya mulai merokok? Menurut sejumlah survei yang dilakukan, kebanyakan seorang perokok mulai merokok pada usia 15 tahun hingga 19 tahun.
Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 1995 menunjukkan 54,6 persen perokok mulai merokok pada usia 15 tahun hingga 19 tahun. Angka tersebut meningkat berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001 yang menunjukkan 58,9 persen perokok mulai merokok pada rentang usia tersebut.
Angka tersebut kembali meningkat pada Susenas 2004 yang menunjukkan 63,7 persen perokok mulai merokok pada rentang usia 15 tahun hingga 19 tahun.
Survei berikutnya adalah Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan pada 2007, 2010 dan 2013. Menurut survei tersebut, perokok yang mulai merokok pada rentang usia 15 tahun hingga 19 tahun mengalami fluktuasi, yaitu dari 50,7 persen pada 2007; 43,3 persen pada 2010 dan 56,9 persen pada 2013.
Namun, yang paling mengkhawatirkan dari sejumlah survei itu adalah perokok yang mulai merokok pada rentang usia 10 tahun hingga 14 tahun yang terus mengalami peningkatan. Pada Susenas 1995, tren mulai merokok usia 10 tahun hingga 14 tahun ada pada angka sembilan persen.
Pelan tapi pasti, tren usia mulai merokok pada rentang usia tersebut mulai meningkat menjadi 9,5 persen (SKRT 2001); 12,6 persen (Susenas 2004); 16 persen (Riskesdas 2007); 17,5 persen (Riskesdas 2010) dan 17,3 persen (Riskesdas 2013).
Gerakan Muda Adalah Yayasan Lentera Anak yang kemudian menjadi salah satu organisasi yang peduli dengan paparan negatif rokok kemudian merekrut anak-anak muda usia 16 tahun hingga 24 tahun dari seluruh Indonesia untuk menjadi kader dalam kampanye pengendalian tembakau.
Ketua Lentera Anak Lisda Sundari mengatakan anak-anak yang mereka rekrut biasanya memiliki latar belakang komunitas. Sehingga, ketika mereka mengikuti pelatihan atau konferensi yang diadakan Lentera Anak, mereka sekaligus menjadi wakil komunitas mereka.
"Karena itu, setelah mereka selesai mengikuti pelatihan atau konferensi, mereka melakukan kampanye pengendalian tembakau bersama komunitas masing-masing," ujarnya.
Setidaknya, tercatat tiga kelompok kader-kader muda pengendalian tembakau yang berhasil Lentera Anak bentuk, yaitu Gerakan Muda FCTC, Pembaharu Muda FCTC dan FCTC Warrior.
Penggunaan kata FCTC merujuk pada Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (FCTC) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Indonesia sendiri terlibat dalam penyusunan FCTC, tetapi saat ini menjadi salah satu dari sedikit negara di dunia yang belum menerapkannya.
"Di daerah bersama komunitas mereka, para kader muda pengendalian tembakau itu melakukan sosialisasi, edukasi dan aksi. Ada yang melakukan sosialisasi di sekolah sampai melepas spanduk reklame rokok di sekitar sekolah," tuturnya.
Anak-anak muda binaan Lentera Anak itu bahkan berani melakukan audiensi ke pemerintah daerah untuk menyosialisasikan bahaya rokok terhadap generasi muda.
Yang paling membanggakan adalah saat anak-anak muda tersebut beraudiensi ke Kantor Staf Kepresidenan dan ditemui langsung oleh Deputi V Jaleswari Pramodhawardani. Begitu pula saat mereka melakukan aksi kreatif di Taman Aspirasi Monumen Nasional pada Rabu (10/5).
Jaleswari sendiri memberikan apresiasi terhadap gerakan anak-anak muda itu.
"Kalian telah mengubah gerakan sosial pengendalian tembakau menjadi gerakan politik dengan mendatangi instansi-instansi pemerintah untuk melakukan dialog dan audiensi," kata Jaleswari.
Jaleswari mengatakan gerakan sosial yang telah menjadi gerakan politik yang dilakukan anak-anak muda itu sangat strategis untuk membawa isu pengendalian tembakau didengar oleh para pemangku kepentingan dan pembuat kebijakan.
Menurut Jaleswari, anak-anak muda itu telah melakukan kerja luar biasa dengan mengedukasi masyarakat dan anak-anak muda lain tentang bahaya merokok.
"Saat ini, kita sebenarnya mudah mendapatkan informasi tentang bahaya rokok melalui berbagai media, termasuk pada kemasan rokok," tuturnya.
Jaleswari mengatakan Indonesia perlu semangat-semangat muda sebagaimana ditunjukkan anak-anak muda itu. Apalagi, anak-anak muda tersebut, dengan usia dan semangat muda, melakukan berbagai hal kreatif untuk menyosialisasikan pengendalian tembakau.
"Kita semua sepakat bahaya rokok saat ini menyasar anak-anak muda," ujarnya. (Ant/h)