Kita masih ingat pada akhir tahun 2016 masyarakat berdemo ke Kantor Bupati Tapanuli Utara yang di antaranya hadir mantan Ketua KPK Tumpak Hatorangan Panggabean dan para perantau lainnya, kafe-kafe di kawasan Pancur Napitu sekitarnya akhirnya ditutup. Tetapi kemudian kafe-kafe tersebut kembali buka. Ini yang membuat saya dan saudara saya seantero nusantara lainnya kecewa. Bagi kami dan juga masyarakat di sana, peristiwa ini mempermainkan perasaan masyarakat di sana yang menghendaki kafe-kafe tersebut ditutup selamanya.
Untuk diketahui, selain mempermainkan perasaan masyarakat di sana, saya dan juga masyarakat umum jadi bertanya, adakah sesuatu di balik pemberian ijin pendirian kembali kafe-kafe tersebut?
Apakah kepentingan sekelompok kecil orang yang membuka usaha kafe yang disinyalir bernuansa negatif lebih penting, dibandingkan kepentingan masyarakat adat yang religius di kawasan Pahae dan Desa Pansur Napitu?
Kami para perantau yang tersebar di Medan, Riau, Batam, Kalimantan dan Jakarta sekitarnya dan di berbagai daerah lainnya, sebenarnya sudah tak sabar menunggu sikap seorang Bupati, yang wilayahnya menjadi Daerah Tujuan Wisata Rohani dan daerah adat menindak kafe-kafe tersebut. Apalagi surat protes sudah dilayangkan lagi di tahun 2017. Apakah Pak Bupati ini menunggu kami perantau harus turun lagi untuk melakukan demo?
Untuk diketahui, kawasan Pansur Napitu hingga ke kawasan Simasom, Pahae, sejak lama adalah kawasan yang aman dan tertib. Tetapi belakangan ini kawasan itu menjadi daerah "hitam" sejak dibukanya kafe-kafe beraroma negatif.
Herannya, mengapa di kawasan pedesaan yang dulunya aman, tenteram dan damai serta religius itu, kini harus "dikotori" oleh kegiatan-kegiatan yang disinyalir tempat berbagai kegiatan negatif. Mengapa sampai demikian, orang pun menduga, barangkali ada kepentingan oknum-oknum di Pemkab Tapanuli Utara di dalamnya. Mungkin uang yang mengalir dari "proyek" kafe-kafe ini begitu manis, membuat orang-orang di Tarutung lupa, bahwa daerah itu daerah adat dan religius. Dan sejak ada Salib Kasih, Tarutung menjadi lebih terkenal lagi dengan Daerah Tujuan Wisata Rohani. Sayang sekali dan kontradiktif, kalau daerah ini juga kelak sekaligus juga terkenal sebagai daerah seribu kafe dengan aroma negatifnya..
Ada apa sebenarnya Pemkab Taput dengan kafe-kafe ini? Kenapa bisa buka lagi?
Mungkin Pak Bupati tahu, di Jakarta, kawasan sehebat Kali Jodoh yang dikuasai preman sangar, bisa dibersihkan dan diberangus oleh mantan Gubernur DKI Basuki Cahaya Purnama alias Ahok. Apa susahnya bagi Bupati Taput sekaliber Nikson Nababan untuk menertibkan dan menutup kafe-kafe itu.
Wajar saja saya kecewa terhadap pelaksanaan pemerintahan di Kabupaten Tapanuli Utara, karena saya salah seorang yang menerima kedatangan Pak Nikson bersama Bapak Mauliate Simorangkir di rumah Bapak Juliski Simorangkir di Medan bersama tokoh-tokoh marga Panggabean. Ketika itu Pak Calon Bupati dan Calon Wakil datang untuk mencari dukungan guna mensukseskan pasangan Nikson-Mauliate di Pilkada Taput. Yakin dengan program kerja yang dipaparkan ketika itu, termasuk di antaranya pembagian tugas, dukungan pun diberikan. Dan ternyata menang.
Kemenangan manis mungkin membuat Bupati Nikson asik menikmati kekuasaannya dan lupa di sisi lain posisinya adalah pelayan masyarakat. Sekedar mengingatkan saja, semasa Lundu Panjaitan memegang tampuk kekuasaan di Tapanuli Utara, ia menyebut dirinya "parhobas" yang artinya adalah pelayan masyarakat. Saya pikir sampai sekarang ini aparatur pemerintah sebagai parhobas masih berlaku. Mereka adalah penerima mandat masyarakat untuk melayani, bukan untuk dilayani.
Tetapi dalam konteks ini, Bupati Taput mungkin telah abai dan lupa terhadap masyarakat yang harus diayomi dan dilayaninya.
DAERAH TUJUAN WISATA ROHANI
Ketika Tapanuli Utara ditetapkan sebagai salah satu daerah tujuan wisata rohani di Sumatera Utara, kalau tak salah di bawah kepemimpinan Bupati Dr RE Nainggolan ketika itu. Salah satu tujuan wisata rohani tersebut adalah Salib Kasih yang ada di Kecamatan Siatas Barita.
Selain Salib Kasih, masih ada lokasi lainnya yakni kuburan Lyman dan Munson, dan makam Dr IL Nommensen di Sigumpar, sebelum pemekaran Kabupaten Tapanuli Utara, waktu itu. Selain itu masih ada Gereja Dame, Seminarium Sipoholon, Tugu Nommensen dan lain-lain. Sedangkan objek wisata pemandian air soda dan pemandian air panas sudah ada sejak lama.
Tetapi selain daerah wisata rohani, Pak Nikson mungkin lupa seluruh daerah di Tapanuli Utara adalah daerah adat sekaligus daerah religius. Artinya, di daerah itu ikatan adat masih sangat ketat dan keberagamaannya juga demikian. Oleh karena itu, perbuatan-perbuatan yang melanggar adat semisal menyediakan tempat berbuat tidak senonoh juga sangat diharamkan masyarakat. Masyarakat keberatan karena kafe-kafe tersebut kabarnya dijadikan tempat transaksi seks. Rasanya, sungguhlah tidak pantas di kawasan seperti itu diberi ijin kafe dengan alasan kafe keluarga atau alasan apapun.
Untuk diketahui, Pancur Napitu itu adalah daerah awal berkembangnya kekristenan di Tapanuli Utara. Di Pansur Napitu itu pernah tinggal Dr IL Nommensen dan beberapa pendeta lainnya. Bahkan pekerjaan untuk menerjemahkan Alkitab ke bahasa Batak dan ditulis dengan Aksara Batak dilakukan di tempat itu. Kalau Bapak Bupati yang terhormat sudah tahu sejarah tempat itu, masih tegakah Bapak membiarkan kafe-kafe itu berada di sana? Mungkin Bapak tidak takut, kalau sejarah akan mencatat kelak Bupati Tapanuli Utara Nikson Nababan, adalah Bupati Tapanuli Utara yang membiarkan kafe penyakit masyarakat berkembangbiak di daerah Pansur Napitu.
Untuk Pak Nikson tahu saja, seorang putra terbaik negeri ini namanya Jenderal Maraden Panggabean juga dilahirkan di desa tersebut. Karir Jenderal Maraden Panggabean diawali berjuang di Tapanuli melawan penjajah Belanda dan kemudian mencapai puncaknya sebagai Menhankam/Pangab di era Orde Baru. Terakhir Maraden menjabat Ketua DPA. Saya tak bisa membayangkan bagaimana marahnya Jenderal Maraden Panggabean, andai dia masih hidup dan di kampungnya menjamur kafe seperti sekarang ini. "Bumi hanguskan kafe-kafe itu, karena ini juga akan menghancurkan generasi muda bangsa ini!", mungkin kira-kira begitulah perintahnya.
Jangan sampai dalam waktu dekat moral anak bangsa di daerah itu rusak. Jangan sampai anak bangsa di desa itu cepat atau lambat dijangkiti penyakit AIDS dan yang lainnya. Kabar yang sampai ke telinga saya, sudah ada orangtua yang terpengaruh dan pulang pagi dari kafe itu. Ini sudah parah dan payah dan ini baru tahap permulaan.
Sekedar menyegarkan ingatan saja, menanggapi maraknya pendirian kafe di kawasan Tapanuli Utara, Harian SIB tanggal 4 Agustus 2016 memberitakan Ompui Ephorus HKBP Pendeta Willem TP Simarmata MA menyerukan agar pihak berwenang menutup semua kafe remang-remang di Kabupaten Tapanuli Utara. Alasannya, karena sudah makin menjamur dan meresahkan masyarakat serta menimbulkan kesan jelek sebagai daerah religius. Saya yakin, Ephorus HKBP yang baru Ompui Pendeta Dr Darwin Lumbantobing memiliki sikap yang sama dengan pendahulunya, meskipun belum mengeluarkan pendapatnya.
Segeralah bertindak sesuai ketentuan yang berlaku menutup semua tempat yang bertentangan dengan hukum, agama dan adat istiadat masyarakat. Jika tidak, sebentar lagi ada Pilkada di Taput. Mereka yang selama ini memilih berdiam diri, pasti bertindak tidak lagi memilih orang yang tak disukainya, karena mereka menilai hukum, agama, harga diri serta adat istiadat mereka diinjak-injak. Masih ada waktu untuk menertibkan. Kecuali Pak Nikson tidak mencalonkan lagi, atau sudah tidak takut Tuhan?. Semoga terlaksana. Terima kasih. (Penulis adalah Wakil Ketua PPGM Kota Medan/f)