Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 10 Maret 2026

Mengantisipasi dan Memberantas Terorisme di Sumut

* Oleh : Ramen Antonov Purba
- Senin, 03 Juli 2017 15:36 WIB
699 view
Mengantisipasi dan Memberantas Terorisme di Sumut
Penyerangan ke Mapolda Sumut Minggu dinihari membuktikan di Sumatera Utara (Sumut) ada jaringan terorisme. Aiptu Martua Sigalingging gugur. Kita mempertanyakan kinerja Kepolisian, mengapa kecolongan. Kita mempertanyakan kinerja Badan Intelijen Negara (BIN), mengapa tidak mengetahui aksi terorisme ini. Kepolisian jangan hanya berkonsentrasi menghadapi pengamanan mudik. Terorisme juga harus diwaspadai. Teroris semakin berani melakukan aksi. Kejadian ini tamparan keras bagi Kepolisian. Harus ada evaluasi terkait penanganan terorisme. Aparat jangan lagi mati konyol, karena tak menyadari terorisme yang senantiasa mengintai.
 
Bukan kali pertama teroris menyasar Kepolisian. Penyerangan anggota polisi di Jenu, Tuban, Jawa Timur, oleh enam orang teroris pada April 2017. Penyerangan Mapolres Banyumas pada April 2017. Juni 2017 Kepolisian Cianjur diserang (Kompas/22/06/2017). Rangkaian aksi terorisme ini seharusnya menjadikan Kepolisian siaga. Idealnya Kepolisian sudah mendeteksi rencana teror yang ditujukan ke mereka. Ketika kejadian teror di Mapolda Sumut, aksi tersebut tidak diantisipasi sama sekali. Terlihat dari bebasnya para teroris memanjat pagar Polda dan menyerang petugas jaga. Padahal di Mapolda Sumut terdapat 3 Pos jaga. Pos jaga 3 tempat korban berjaga merupakan pintu keluar Mapolda Sumut. Biasanya dijaga 4 personil. Pos jaga 1 merupakan pintu masuk kantor Polda biasa dijaga 9 orang personil. Pos jaga 2 merupakan pintu masuk VIP biasanya dijaga 14 orang (Kompas/26/06/2017). Dua anggota Brimob ditikam oleh  seorang pria tidak dikenal di Mesjid Falatehan dekat lapangan Bhayangkara Jakarta Selatan, Jumat (30/6) malam.

Terorisme bertujuan menimbulkan ketidaktentraman dan ketakutan. Tak sadar jika yang tak tentram dan takut adalah rakyat yang tidak tahu apa-apa. Aiptu Martua Sigalingging meninggalkan isteri dan 9 anak. Teroris tak memikirkan isteri dan 9 orang anaknya akan melanjutkan hidup. Mereka dengan keegoisannya menjalankan aksinya demi kepentingan kelompok. Hanya peduli dengan ideologinya tanpa memikirkan keselamatan orang lain. Manusia yang terlibat terorisme menganut ideologi yang tidak tepat bahkan sesat. Tak ada ajaran di dunia yang merestui menjalankan ideologi dengan menghabisi nyawa manusia lain dengan keji. Tidak ada hukum dan aturan di dunia yang membenarkan tindakan menghilangkan nyawa manusia lain karena berbeda pandangan. Sumut dikenal sebagai negara toleran. Berbagai suku dengan agama yang berbeda hidup rukun sejak turun temurun. Seharusnya dijunjung tinggi dan dihormati.

Pemberantasan terorisme sudah dilakukan. Teroris masih saja menjalankan aksinya. Ada strategi yang terlupa. Salah satu langkah yang tak bisa dilupakan langkah antisipasi. Indonesia memiliki BIN yang sejatinya dapat mengantisipasi. BIN harus lebih disiplin dalam mengumpulkan informasi. Jangan lagi kecolongan. Koordinasi dengan Kepolisian dan penegak hukum lain seperti TNI harus secara intensif dilakukan. Dibarengi dengan kekompakan dan kerja sama.  Agama, suku, warna kulit, Partai Politik, Ormas, dan kelompok tertentu, jangan menjadi halangan. Persatuan semua elemen dan masyarakat akan menambah kekuatan dalam menghadapi ancaman terorisme. Sejak dahulu Indonesia sudah terkenal kehebatannya. Dengan bambu runcing kita melawan penjajah. Maju tak gentar, maju serentak, kita akan menang melawan terorisme.

Semarak Persatuan
Semarak persatuan harus dibangkitkan. Nilai dan pemahaman kebangsaan harus digaungkan. Kemajemukan dan keanekaragaman harusnya menjadi jati diri dan identitas bangsa. Perbedaan jadikan semangat mempersatukan. Peran semua pihak untuk membangkitkan persatuan dan kesatuan. Bangsa Indonesia bangsa yang besar. Anugrah yang sepatutnya disyukuri. Bangsa ini harus berubah. Perubahan yang dapat membangkitkan karakter bangsa. Telah dijabarkan di dalam Pancasila. Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan. Paradigma bangsa ke depan harus terekat erat akan persatuan dan kesatuan.

Kebangsaan Indonesia identik dengan keanekaragaman dan perbedaan. Mari menjunjung tinggi kesetaraan kemuliaan manusia. Kembangkan sikap positif terhadap kemajemukan bangsa. Melalui perwujudan demokrasi yang berorientasi keadilan sosial. Rakyat harus memahaminya sebagai keharusan yang hakiki.
Semangat persatuan harus dikembalikan dalam diri seluruh rakyat Indonesia dan Sumut. Perpecahan hanya akan membawa suasana tidak nyaman. Persatuan dan kesatuan merupakan inti. Lanjutannya menghormati dan menghargai sesama meskipun berbeda agama, adat, dan budaya. Jadikan perbedaan untuk memperindah. Jangan jadikan sebagai jurang untuk memisahkan diri.

Berwawasan
Pendiri negara, Ir Soekarno menyatakan, Indonesia satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Cikal bakal wawasan nusantara. Tujuannya adalah mewujudkan nasionalisme yang tinggi di segala bidang dari rakyat Indonesia, yang telah lebih mengutamakan kepentingan nasional dari pada kepentingan orang per orangan, kelompok, golongan, suku bangsa/daerah. Mengacu kepada tujuan, jelas tersirat jika isi tujuan tersebut yang saat ini harus dipahami. Tak ada gunanya memandang perbedaan secara berlebihan. Tetap menjaga keutuhan melalui toleransi yang apik dan santun merupakan keharusan.

Junjung tinggi kepentingan bersama. Kesampingkan kepentingan yang sifatnya egois. Kesejahteraan dan kemakmuran hasil akhir yang akan kita dapatkan. Wawasan nusantara harus dikumandangkan. Ke depan tak ada lagi yang mempergunakan demokrasi secara berlebihan. Demokrasi terus dijalankan, mengacu kepada norma-norma yang ada. Demokrasi terus diimplementasikan, jangan menodai hak-hak orang lain. Demokrasi milik bersama seluruh rakyat Indonesia dan Sumut. Mari kembali ke Wawasan Nusantara dan menjadikannya sebagai identitas. Indonesia akan semakin baik dan nyaman. Rakyatnya semakin makmur dan sejahtera. Bergandengan tangan untuk Indonesia dan Sumut yang lebih baik, maju, dan bermartabat. Tumpas terorisme di Sumut. (Penulis adalah pemerhati masalah sosial, politik, dan kebangsaan/Pengajar di Politeknik Unggul LP3M Medan/ Aktif di Persatuan Purba Rumah Selat Se-Dunia/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru