Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 08 Maret 2026

Mengapa Memilih Satu?

Oleh: Pdt Dr Ir Fridz Sihombing
- Kamis, 19 Juni 2014 12:25 WIB
858 view
Mengapa Memilih Satu?
Besar kemungkinan, didorong oleh kecintaan terhadap bangsa dan kerinduan atas pemimpin bangsa, Presiden dan Wakil Presiden yang pas menurut pertimbangan akal dan hati, kita mengikuti debat calon Presiden di Hotel Melia Jakarta yang disiarkan oleh Televisi. Dukungan ke masing-masing pasangan calon Presiden dan wakil Presiden terlihat jelas dalam acara debat,  di berbagai tempat pemirsa, dan dukungan yang berdatangan dalam bentuk relawan, sumbangan dan deklarasi. Singkatnya, masyarakat terbagi menjadi 2: kalau bukan mendukung nomor 1, pastilah nomor 2. Kalau bukan pendukung nomor 2, pastilah nomor 1. Awalnya saya agak ragu, apakah perdebatan terbuka ini mempengaruhi pilihan masyarakat? Yang jelas: Satu pasang di antaranya pastilah menjadi pemimpin bangsa, suka atau tidak suka!

Sampai saat ini, pilihan di hati saya masih tetap, bahkan materi perdebatan itu semakin memantapkan pilihan saya. Hanya saja, setelah mencermati kembali materi perdebatan, dan itu tentunya tujuan penyelenggaraan debat tersebut, saya merenung dan bertanya-tanya dalam hati tentang substansi yang akan dilakukan, niat baik dan kemampuan melakukannya:

1. Pertimbangan substansi: Kenapa saya harus memilih salah satu, kalau keduanya mampu mentematisir dan mempresentasikan secara objektif, konseptual dan argumentatif kebutuhan masyarakat dan bangsa ini ke depan?

Terlepas dari defenisi ekonomi kerakyatan, di antara banyak hal yang penting dan mendesak dilakukan di tengah bangsa ini, kedua pasangan CAPRES menekankan: 1) Pembangunan ekonomi (nasional) yang berpihak pada rakyat miskin. 2) Meninjau ulang kontrak kerja (internasional)  yang merugikan perekonomian bangsa Indonesia. 3) Prioritas pembangunan desa dan hubungan kondusif dengan kota. 4) Peningkatan Sumber Daya Manusia Indonesia melalui pendidikan dan penyediaan anggaran pendidikan. 5) Kebijakan anggaran dan langsung turun tangan: Yang satu melalui kebijakan dan tindakan meminimalisir kebocoran hingga 1000 triliun, dan yang satu lagi melalui pembangunan system yang baru.

Masih banyak hal penting dan strategis yang diperdebatkan. Semua itu menggambarkan situasi dan kondisi kita. Kalau boleh saya simpulkan, semua yang akan mereka lakukan, itulah yang kita butuhkan. Saya jadi berfikir: Keduanya pantas untuk memimpin bangsa ini. Sayangnya, kita harus memilih satu di antara dua pasangan. Kalaulah mungkin keduanya diberi mandat oleh rakyat untuk memimpin bangsa?!

2. Pertimbangan niat baik: Kenapa saya harus memilih salah satu, kalau keduanya jujur dan bersungguh-sungguh ingin mengabdi bagi masyarakat, bangsa dan negara Indonesia?

Kita mungkin trauma terhadap janji-janji calon pemimpin, karena perubahan atau perbaikan yang dijanjikan tidak seperti yang kita harapkan. Bukan berarti kita menjadi apatis. Kita tentu punya pengharapan. Tanpa itu, hidup kita akan semakin kering, tidak bergairah, bersungut-sungut dan  lama kelamaan mati. Menyusun logika yang konsisten dalam presentasi substansi yang sesuai dengan realita dan kebutuhan ke depan, bukan pekerjaan yang mudah. Substansi itu disampaikan dengan keseriusan yang bisa kita rasakan. Oleh karena itu, keberpihakan berlebihan terhadap salah satu calon akan merugikan kita. Kita tidak melihat lagi keunggulan calon lain. Apalagi apatisme terhadap semua  Dengan gampang orang yang apatis akan mematahkan semangat kita dengan mengatakan "omong doang" atau "janji kosong".

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Umat beragama yang masih menekankan nilai-nilai agama yang selalu menawarkan pengharapan, mengajarkan cara berfikir positif dan menjunjung tinggi kebersamaan demi kesejahteraan bersama. Oleh karena itu, kita juga perlu secara positif menghormati keduanya dan berharap keduanya mewujudkan janji mereka. Kita berdoa untuk keduanya dan berkomunikasi secara sehat dengan keduanya. Adakah yang salah dengan sikap seperti ini?!

3. Pertimbangan kemampuan: Kenapa saya harus memilih salah satu, kalau keduanya mewakili putra terbaik bangsa yang mampu melaksanakannya?

Melalui proses yang panjang dan dinamika kontekstual, akhirnya bangsa kita memiliki dua pasangan CAPRES/CAWAPRES. Artinya, bangsa ini melihat mereka mampu mengemban amanat rakyat. Proses itu tentu sudah mempertimbangkan track record yang memperlihatkan kemampuan mereka, baik pendidikan maupun pengalaman mengabdi bagi bangsa. Keduanya juga dikelilingi oleh orang-orang yang hebat pada bidangnya. Banyak di antara mereka merupakan orang yang serius dan punya niat baik membangun bangsa. Jadi, saya mengajak kita semua untuk tidak meragukan kemampuan mereka memimpin kita.

Sengaja saya menggugah dengan pertanyaan:  mengapa memilih satu? Padahal, kita memang harus memilih satu di antara dua pasangan. Justru kalau kita pilih keduanya, suara kita batal. Maksud saya dengan pertanyaan itu: Keduanya mentematisir kebutuhan bangsa ini ke depan, sungguh-sungguh dan akan mampu merealisirnya. Kita membutuhkan keduanya. Memang, satu pasang yang akan jadi. Harapan kita, pasangan manapun yang jadi, sebaiknya dia merangkul pasangan lain. Ketika menyampaikan gagasan ini, saya ditertawakan. Setelah membaca tulisan ini pun, bisa jadi, orang menertawakan saya. Pun demikian, saya masih berharap terjadi perubahan sikap: 1) Memilih yang paling pas di antara yang pantas memimpin. Dengan demikian kita terhindar dari kampanye hitam, kita melatih berpikir positif, kritis dan mengapresiasi setiap kontribusi yang baik. 2) Rival siap menerima tawaran posisi strategis dari Presiden terpilih. Tidak harus menjadi oposisi, walau itu dimungkinkan. 3) Calon pemimpin dan partai pendukungnya berpikir ulang: Kalau memang murni demi memajukan bangsa, kedua pasangan harus siap bekerjasama. Kalau memang sungguh-sungguh ingin merealisir visi dan misi, yang mana keduanya saling melengkapi, kenapa tidak kerjasama? Dengan sikap itu, atmosfir kampanye dan pemilihan akan lebih sejuk, damai dan apresiatif, dan kita menapaki masa depan bangsa yang cerah. Inilah saatnya bagi bangsa kita! (Penulis, Kepala Biro Oikumene HKBP di Pearaja Tarutung/h)
 
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru