Paparan kedua calon presiden dalam debat belum lama ini, sama-sama menunjukkan bahwa investasi asing masih dibutuhkan di negeri ini.
Investasi asing yang dibutuhkan Indonesia, tidak hanya yang mampu menyerap tenaga kerja, tapi juga mampu memberdayakan sumber daya manusia (SDM) di dalam negeri, membawa teknologi, dan tidak merusak lingkungan.
Dengan cara itu, investasi asing akan memberi manfaat lebih besar bagi negeri ini, karena pembangunan kemampuan SDM yang handal dan tambahan pengetahuan serta alih teknologi.
Salah satu negara yang banyak menginvestasikan modal melalui perusahaan negerinya adalah Jepang, yang sejak tahun 1970-an masuk ke Indonesian di berbagai bidang, terutama sektor industri seperti otomotif dan elektronik, di samping ritel, media, dan produk barang konsumsi lainnya.
Namun di kedua sektor itulah (otomotif dan elektronik), berbagai merek mobil dan barang elektronik Jepang tertanam di benak konsumen Indonesia, karena mereka tidak hanya memasarkan produknya, tapi juga membangun basis produksi. Hal itu membuat mereka serius menggarap pasar besar negeri ini, di samping mencari peluang ekspor.
Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia Jepang (PPIJ) Rachmat Gobel mengatakan keseriusan Jepang menanamkan investasi suatu negara, termasuk Indonesia, untuk menghasilkan suatu produk yang memberi nilai tambah, tidak lepas dari semangat "monozukuri" yang dipegang erat masyarakat negeri Matahari Terbit itu.
"Banyak orang melihat investasi Jepang di Indonesia hanya untuk mencari untung," ujar Rachmat yang juga bermitra dengan perusahaan elektronik Jepang.
Padahal, lanjut pengusaha nasional itu, banyak manfaat yang telah dan bisa diambil Indonesia dari keberadaan perusahaan Jepang itu, antara lain pengembangan kemampuan dan pengetahuan SDM serta penyerapan dan peningkatan teknologi.
Saat ini terdapat 560 perusahaan besar Jepang di Indonesia dan sekitar 3.500 usaha pribadi yang beroperasi di Jakarta.
"Indonesia akan diuntungkan oleh aliran investasi langsung Jepang, tidak hanya membantu memperluas modal ekonomi dan meningkatkan kapasitas produksi, teknologi, dan keahlian, tapi juga mendorong pengembangan sektor sekunder dan tersier di Indonesia," ujar Rachmat.
Persahabatan dan kerja sama ekonomi Indonesia tersebut juga terus berkembang seiring dengan telah ditandatanganinya Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) pada 2007.
Sebagai pengusaha yang juga salah satu wakil ketua umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rachmat berkeyakinan IJEPA menjadi jaminan bagi kedua negara untuk kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan di segala bidang, baik industri manufaktur, pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Ekspektasi
Sementara itu, para pengusaha Jepang, terutama yang sudah berinvestasi di negeri nampak cukup nyaman berusaha di Indonesia.
Hal itu setidaknya terlihat dari investasi Jepang yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dan menjadi salah satu investor asing terbesar di Indonesia.
Pada 2013, investasi Jepang di negeri ini mencapai 4,7 miliar dolar AS naik 90 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan angka sebesar itu Jepang memberi kontribusi sebesar 17 persen total investasi asing di Indonesia.
Ketua Jakarta Japan Club (JCC) Masahiro Nonami mengatakan, dunia usaha Jepang punya ekspektasi yang tinggi terhadap ekonomi Indonesia.
Pasar yang besar, ketersediaan tenaga kerja yang banyak, serta sumber daya alam yang berlimpah, menjadi modal bagi Indonesia untuk menjadi tujuan investasi asing termasuk Jepang.
"Namun investasi perusahaan Jepang, bukan sekedar memanfaatkan isu buruh murah, tapi kami membangun sumber daya manusia melalui industri," kata Nonami yang juga Presdir PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).
Harus diakui sebagian besar investasi Jepang terutama di sektor padat karya dan teknologi, seperti industri otomotif dan elektronik banyak memberdayakan tenaga kerja lokal, para insinyur mesin dan elektro, hingga sekolah kejuruan.
"Kami membuka peluang kerja dan sekaligus meningkatkan skill mereka (SDM Indonesia)," kata Nonami. Selain itu, juga memberi nilai tambah terhadap sumber daya alam.
Saat ini, dikatakannya Indonesia merupakan negara tujuan investasi terpenting ketiga bagi Jepang dalam sektor manufaktur.
Hal itu juga mendorong perdagangan bilateral dan investasi di antara kedua negara terus meningkat. Aliran investasi Jepang yang masuk ke Indonesia meningkat lima kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir.
Infrastruktur
Kendati Jepang memiliki komitmen investasi dan siap mendukung pertumbuhan ekonomi, mereka tetap mengkritisi kondisi infrastruktur yang belum memadai untuk menopang pertumbuhan bisnis di Indonesia.
"Sejauh ini untuk berbisnis di Indonesia cukup kondusif walau masih ada beberapa kekurangan yang menghambat seperti keterbatasan infrastruktur, persoalan birokrasi, dan transparansi," ujar Nonami.
Nonami yang memimpin TMMIN merasakan sendiri bagaimana kurangnya infrastruktur di Indonesia untuk. menopang pertumbuhan bisnis Toyota yang besar, karena Indonesia tidak hanya menjadi basis produksi mobil untuk pasar domestik tapi juga ekspor.
Pembangunan jalan dan fasilitas pelabuhan, serta ketersediaan listrik dinilai masih kurang untuk mengantisipasi pertumbuhan investasi, di tengah kepercayaan pebisnis Jepang pada ekonomi dan stabilitas politik di Indonesia.
"Indonesia memiliki peluang bisnis yang lebih baik lagi di masa mendatang," katanya. Bahkan sebagai pemain otomotif, ia meyakini Indonesia bisa menjadi pusat industri otomotif yang besar di ASEAN, mengalahkan Thailand.
Oleh karena itu, para investor mengharapkan "speed action" dalam kebijakan pemerintah untuk membenahi keterbatasan infrastruktur dan kelambanan birokrasi dalam rangka meningkatkan daya saing secara global.
Jepang nampaknya semakin melihat Indonesia sebagai mitra penting, tidak hanya di bidang ekonomi, tapi juga politik dengan memperkuat pengaruhnya di bidang ekonomi.
Tinggal bagaimana Indonesia memanfaatkan investasi mereka untuk meningkatkan kemampuan SDM, disamping peningkatan kesejahteraan.
(Ant/c)