Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 08 Maret 2026

GM Panggabean dan Spirit Perjuangan

Oleh: Pdt.Estomihi Hutagalung,MTh
- Selasa, 21 Januari 2014 12:55 WIB
1.164 view
GM Panggabean dan Spirit Perjuangan
GERHARD Mulia Panggaben, tokoh pers kharismatik, telah meninggalkan kita tiga tahun silam, tepatnya Kamis 20 Januari 2011. Setelah menjalani operasi jantung, Penasehat Pembentukan Propinsi Tapanuli (Protap), menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Mounth Elisabeth Singapura, dalam usia 82 tahun. Meninggalkan isteri tercinta, Ramlah br Hutagalung, dan delapan anak beserta cucu. Tokoh pendiri dan pemimpin redaksi harian Sinar Indonesia Baru (SIB), dimakamkan Selasa 25 Januari 2011 di pemakaman keluarga.

Karena jejaknya sangat jelas dan atmosfirnya masih terasa serta spirit perjuangannya bergelora sehingga dianggap penting untuk menelusurinya. Dan pada Senin, 20 Januari 2014, keluarga mengadakan ibadah pembangunan makam DR GM Panggabean. Bukan karena tokoh kelahiran 8 Juni 1929 ini sudah sempurna. Justru dalam ketidak sempurnaan itulah dia merefleksi diri dengan gigih sehingga jejak perjuangannya dianggap penting untuk dimaknai.

Dan itu berarti, penelusuran jejak dan spirit perjuangan tokoh Batak kharismatik tersebut didorong atas semangat untuk memaknai adanya proses menjadi sempurna. Bukan karena dia malaikat tetapi manusia yang pernah dipersalahkan pada masanya. Sehingga, penelusuran jejak tersebut menjadi sebuah refleksi hidup di masa kini dan mendatang dengan dinamika berpikir dan perspektif kita masing-masing.

Dan salah satu catatan penting bahwa penelusuran jejak tokoh pers dan mantan anggota MPR-RI tersebut, hampir selalu berarti bergerak dalam pemikiran yang sangat luas dengan multi perspektif pemahaman. Kita akan berhadapan dengan jejak pahit getirnya sehingga menggelorakan semangat juang dan memesona di satu sisi, dan memaksa kita merekonstruksi ulang persepsi kontroversial yang muncul atas jejak itu sendiri. Dan justru dalam dinamika demikianlah tokoh yang akrab disapa "Pak GM", menjadi penting.

Spirit Perjuangan

Tahun lalu, dalam suatu percakapan antara penulis dengan Ibu Ramlah Hutagalung, usai ibadah bersama karyawan Harian Sinar Indonesia Bari (SIB) dan PT Seremegawati, isteri tercinta Pak GM mengutarakan suasana batinnya dan sekaligus rasa bangganya dapat berjumpa serta bercerita dengan penulis.

Walau dalam kondisi kesehatan yang baru berangsur sembuh, dengan suara yang cukup tegas, ekspresi wajah sukacita dan dihiasi air mata bahagia yang membasahi pipi dengan garis wajah cantik, ibu Ramlah Hutagalung berujar, "gogo hian do amang semangat hidupna, taringot tu hamajuan ni bangso on dohot Tapanuli, hamajuon ni pendidikan jala mansai hatop do cara berpikirna. Akhh.. tahe mansai hebatma perjuangan ni ibana, sipata, gabe hupasipnama alai torus do hudongani, ndang huloas sahalakna".

(Semangat hidupnya sangat kuat dalam memikirkan kemajuan Bangsa Indonesia dan untuk kemajuan Tapanuli, demikian juga tentang pentingnya pendidikan bahkan cara berpikirnyapun sangat cepat dalam memahami dan memaknai sesuatu. Akhh… pokoknya, perjuangan hidupnya sangat kuat dan visi yang jauh ke depan, sehingga, dalam hal-hal tertentu, aku pun diam saja tetapi tetap saja kudampingi, saya tidak mau membiarkannya sendirian).

Aksen tegas yang diungkapkan Ibu Ramlah Hutagalung atas jejak pada dimensi sifat pemikiran suaminya sebagai tokoh nasional, tokoh pers, tokoh masyarakat Batak berjiwa nasionalis yang pernah menjadi wartawan Sinar Harapan ini, bukan pada usaha membangun suatu sistem pemikiran dalam disiplin ilmu politik kebangsaan melainkan suatu proses pemaknaan diri dalam refleksi panjang sesuai dengan konteks hidupnya. Jejak perjuangan itu merupakan pergulatan dialektis yang membutuhkan energi, komitmen dan keberanian seorang tokoh dalam menghadapi situasi hidupnya. Dalam konteks demikian kita menemukan esensi politik dalam terminologi Aristoteles dan Plato.

Jika pada kenyataannya, tokoh yang menjadi Ketua Lembaga Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII, berbicara tentang perbaikan dan keunggulan sumber daya manusia melalui pendidikan sehingga dia mendirikan Universitas Sisimangaraja di Medan dan Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli di Desa Silangit, Siborong-borong, maka hal itu bukan berarti beliau sudah terpukau dan berhenti pada kekaguman akan cita-cita dari ideologi pendidikan.

Tetapi sebagai buah permenungan seorang jurnalis visioner dalam mencari jalan keluar atas persoalan dan kebutuhan realitas bangsa demi mewujudkan nilai-nilai hidup dan politik kebangsaan. Sebab, bagi tokoh yang dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang ilmu filosofi ini, pendidikan mempunyai peran fundamental dalam kemajuan suatu bangsa.

Refleksi Perjuangan
Sebagai seorang tokoh pers, GM Panggabean tidak menempatkan media massa pada makna pragmatis dan berfungsi instrumental semata-mata, sehingga isi berita suatu media akan bersifat dogmatis kaku dan membeku. Sebagimana dicatat oleh banyak orang atas jejak perjuangan GM Panggabean dan diinterpretasi secara luas bahwa media massa berfungsi multi aspek. Bagi Pak GM, media massa mempunyai fungsi perjuangan dalam arti yang majemuk. Bersifat universal, mengkritik dan menginspirasi pembaca.

Dalam konteks tertentu, kita melihat wujud komitmen demikian dan direfleksikan sebagaimana terlihat pada harian Sinar Indonesia Baru yang diterbitkan 9 Mei 1970 dengan ikon "Bukan Sekedar Berita". Pada konteks demikian, kita mengafirmasi gagasan Marshal Mc Luhan bahwa media massa mempunyai peran sebagai perpanjangan alat indra manusia dalam memperoleh informasi, ide, visi, demi perjuangan hidup sebagaimana dicita-citakan masyarakat. Dan pada perspektif itu, media massa menjadi alat bantu pencerahan.

Begitulah pemaknaan atas jejak DR Gerhard Mulia Panggabean, tokoh masyarakat Sumatera Utara, yang pernah dinobatkan sebagai Tuha Samaeni Tano Raya (Raja Pelindung / Pemelihara / Pengayom) Tanah Nias Selatan. Karena itu, jika ada yang menganggap tokoh dengan pendirian yang kuat tersebut sebagai pribadi kontroversial, tentu saja sudut pandangnyalah yang membuahkan kesimpulan demikian.

Dan yang pasti, warisan perjuangannya bukan hanya untuk anak dan keluarganya secara khusus bagi anaknya Ir GM Chandra Panggabean yang menjadi bagian sejarah perjuangan dinamika politik pembentukan Propinsi Tapanuli (Protap). Tetapi lebih daripada perjuangan keluarga. Sebab DR GM Panggabean, telah menginspirasi, memotivasi dan berkonstribusi besar bagi bangsa Indonesia serta banyak pihak.

Itulah sebabnya, kita mengapresiasi keputusan Pemerintah Kota Medan dalam menghargai komitmen hidup dan perjuangan tokoh kharismatik tersebut dengan menabalkan salah satu jalan di kawasan Stadion Teladan (daerah Tugu Sisingamangaraja XII) di Kota Medan dengan Jl. GM Panggabean.

(Penulis: Pendeta dan Mantan Pemimpin Redaksi Majalah di Gereja Methodist Indonesia/c)





SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru