Pakar manajemen Philip Kotler selalu menekankan spirit kerjasama dalam manajemen kalau ingin berhasil. Spirit kerjasama yang didukung oleh nilai kejujuran, kerja keras dan disiplin akan mampu membawa korporasi pada tujuan yang telah ditentukan, sesulit apapun tantangan yang akan dihadapi korporasi dimaksud. Hidup yang penuh dengan kerja keras, disiplin dan jujur adalah jaminan untuk sukses dalam semua hal. Itulah yang diajarkan sepak bola (piala dunia Brazil 2014) bagi kehidupan kita lepas pribadi-pribadi pasca Jerman mengalahkan Argentina.
Terlepas daripada itu, dengan susah payah akhirnya tim nasional panser Jerman berhasil mengalahkan tim tango Argentina melalui perpanjangan waktu setelah pertandingan 2 x 45 menit kedua tim bermain imbang. Jerman mampu menghancurkan mitos, bahkan tradisi lama bahwa negara Eropa tidak bisa berjaya di tanah benua Amerika. Sebelumnya pada piala dunia di Swedia tahun 1958 Brazil tampil keluar sebagai juara. Brazil merupakan negara Amerika pertama menaklukkan benua Eropa melalui penyelenggaraan piala dunia yang ke-6.
Kini piala dunia telah berakhir dengan kemenangan tim nasional panser Jerman sekaligus negara Eropa yang pertama memenangkan piala dunia di benua Amerika. Rekor itu telah pecah dan Eropa mampu membongkar tradisi lama selama ini. Sekali lagi, piala dunia telah berakhir dan yang juara bergembira, kemudian yang kalah menerima kekalahan dengan lapang dada. Inilah sepak bola yang memang mengajarkan kita banyak hal, sekaligus merupakan gambaran kehidupan yang sebenarnya.
Sudah seharusnya semua manusia secara personal memaknai hidup melalui sepak bola. Hidup adalah perjuangan, bahkan Socrates menegaskan manusia adalah apa yang dipikirkannya. Apa yang dipikirkan oleh manusia merupakan gambaran jati dirinya. Dalam hidup, apalagi era kosmopolitan saat ini manusia mengejar kesuksesan, kebahagiaan, ketentraman dan kenyamanan. Semua manusia secara ragawi ingin sukses, ingin kaya, ingin dihormati, bahkan Abraham Maslow jelas mengatakan salah satu kebutuhan manusia yang paling diburu adalah kebutuhan akan aktualisasi diri melalui berbagai prestise.
Ketika manusia mengejar apa yang disebut kemakmuran dan kesejahteraan dengan berbagai indikator yang terukur seperti kepemilikan harta benda, kadang manusia mau melakukan semua cara, termasuk cara yang di luar norma dan nilai dasar yang mana kejujuran, ketulusan, kerja keras, adalah nilai universal yang diakui oleh semua manusia di dunia ini.
Kalau kita melihat para koruptor, sekalipun sudah memiliki kekayaan yang mungkin di atas rata-rata tetapi masih mau melakukan perilaku korupsi, ini merupakan perbuatan yang serakah dan sekaligus musuh kehidupan. Agama, norma budaya di belahan dunia manapun selalu mengajarkan hidup jujur, hidup hemat dan melakukan sesuatu dengan baik dan benar. Tetapi para koruptor mau menabrak norma, meminjam istilah Mochtar Lubis dengan sebutan mental menerabas. Perilaku seperti ini tentu sangat tidak kita inginkan.
Saat ini bangsa kita sedang mengalami pergumulan hebat, dimana korupsi marak sekaligus penyakit akut bangsa ini. Di lingkungan pemerintahan, lingkungan swasta (korporasi), korupsi begitu marak. Bahkan KPK mengatakan dengan tegas bahwa korupsi merupakan kejahatan kemanusiaan yang luar biasa (extra ordinary crime) dan menghancurkan semua sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Korupsi telah membuat bangsa kita ini kerdil, sulit menggapai kemajuan, bahkan membuat semua program pembangunan tidak jalan.
Sekalipun sudah ada KPK, bahkan anjuran untuk tidak korupsi tetapi bangsa kita belum bisa lepas dari persoalan korupsi yang merupakan musuh bersama. Korupsi adalah buah dari keserakahan. Keserakahan merupakan sebuah gambaran betapa kita tidak mengenal rasa puas, mau bersyukur kepada sang pencipta atas apa yang kita peroleh saat ini. Sungguh korupsi membuat bangsa ini kerdil.
Kalau kita memahami filosofi sepak bola, dimana ada 11 orang bekerja sama dengan nilai kejujuran, kerja keras, tidak egois, saling mengisi untuk mengejar "goal" maka korupsi tidak akan pernah terjadi di negara ini. Sebagai contoh, kemenangan 1-0 saja sudah lebih dari cukup untuk menang. Kemudian sekalipun striker (pemain depan) yang ditugaskan dalam mencetak "gol", jika pemain belakang (stopper) atau pemain tengah yang melakukan semua merayakannya dengan senang, striker tidak akan marah bahkan mengucapkan selamat. Inilah bentuk ketidakegoisan yang menekankan betapa kerjasama sangatlah penting dalam kehidupan ini.
Membuang rasa egois, membuang keserakahan, mau mengakui keunggulan orang lain tentu akan membuat kita tidak mau melakukan korupsi. Korupsi adalah bentuk permainan individual yang mengelabuhi aturan main sebuah sistem. Korupsi lahir karena kelihaian mempermainkan apa yang menjadi aturan bersama. Tipu daya yang licik membuat koruptor bisa lepas, tetapi hanya bersifat sementara. Ketika hukum tidak tegas, maka inilah masa keemasan korupsi. Menegakkan aturan dengan baik dan benar akan mencegah korupsi.
Sepak bola adalah sebuah "game" dimana aturan selalu ditegakkan. Tidak perduli siapa orangnya yang melakukan pelanggaran, semua akan dihukum sesuai dengan porsinya. Luis Suarez yang menggigit Gerrgini Chellini juga dihukum karena menggigit Chellini dengan sengaja. Luis Suarez pun dihukum FIFA karena perbuatannya yang melanggar aturan. Saatnya Jaksa, Hakim, Polri dan semua aparat hukum di negara ini belajar dari sepak bola untuk menegakkan aturan hukum. Penegakan hukum yang berkeadilan dengan menjadikan hukum sebagai panglima merupakan prasyarat sebuah negara untuk maju.
Saat ini China menjadi kekuatan ekonomi terbesar dunia dengan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas bisa menggapainya setelah lebih dulu menggantung mati para koruptor. Korupsi mereka atasi dengan baik, dengan sendirinya garfik pertumbuhan ekonomi terus meningkat karena berhasil meminimalisasi korupsi dalam negerinya.
Sepak bola juga mengajarkan manusia untuk bekerja keras, berjuang, kerjasama, telaten, berpengharapan. Semua pemain yang berlari mengejar bola harus menjaga stamina fisiknya di lapangan. Pola hidup yang teratur adalah jaminan untuk kebugaran fisik. Semua pemain harus tampil dengan fisik prima untuk meraih kemenangan.
Sepak bola mengajarkan kerjasama tim. Dalam hidup ini kita tidak akan mungkin bisa hidup menyendiri. Orang miskin, menengah, atas secara ekonomi harus membuka diri. Semua harus saling melengkapi. Kerjasama tim mengajarkan kita untuk tidak egois. Pemain depan dibantu pemain tengah, pemain tengah dibantu pemain belakang dan semua saling menopang.
Kita dilahirkan dengan berbagai talenta oleh Tuhan. Semua talenta yang berbeda itu harus dioptimalkan untuk saling mendukung melalui pola kerjasama. Hidup egois, individualis harus dihindari karena kita adalah makhluk "zoon politicon" (makhluk sosial) yang harus saling mengisi.
Begitu juga dengan keberagaman yang kita miliki, baik suku, agama, dan letak geografis, semua harus dikelola (dikerjasamakan) dengan baik sehingga melahirkan multi potensi yang bisa kita manfaatkan untuk kehidupan bangsa dan negara yang lebih baik. Sepak bola mengajarkan kita banyak hal, mulai dari hidup disiplin, jujur, tidak egois, kerja keras, berpengharapan dalam hidup. Kita harus belajar memaknai kehidupan melalui sepak bola yang mengajarkan nilai universal yang bisa kita aplikasikan dalam hidup ini.
Mari menjadi manusia yang punya karakter kuat, seperti manusia disiplin, manusia pekerja keras, manusia taat pada aturan, dan manusia yang berpengharapan (goal) sehingga kita mampu menjalani hidup ini dengan interaksi yang saling mendukung dan bukan saling menjatuhkan. Sangat kontras dengan negara kita dimana karakter masyarakatnya yang sangat lemah, kurang taat aturan, kurang bekerja keras dan penegakan hukum yang sangat lemah. Mari belajar memaknai hidup melalui sepak bola agar kita bisa menjadi individu yang hebat dengan karakter yang hebat pula, sehingga ini menjadi modal sosial yang sangat positif bagi bangsa kita untuk maju dan kuat. Horas buat Tim "Panser" Jerman.
(q)