Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 08 Maret 2026

Revolusi Mental dan Kepemimpinan

Oleh: Muba Simanihuruk MSi
- Kamis, 31 Juli 2014 13:30 WIB
647 view
Revolusi Mental dan Kepemimpinan
Underdevelopment is a state of mind. Ya, keterbelakangan sejatinya disebabkan cara berpikir. Dengan kata lain, bila kita berpikir maju, berorientasi ke depan, menghargai waktu, dan menetapkan cara-cara produksi berbasis ilmu pengetahuan, niscaya jalan perubahan akan terbuka lebar. Dalam cara berproduksi ambil misal. Andai jeruk madu Berastagi di Sumut diproduksi dengan bantuan teknologi dan diproduksi massal, berapa nilai tambah keuntungan yang akan diraih para petani dan pengusaha lokal. Sayangnya, buah jeruk madu itu cuma dipetik lalu dijual dalam bentuk buah saja. Ratusan tahun lamanya sudah, tetap begitu saja. Andai diproduksi dalam botol kemasan menarik, bayangkan nikmatnya meneguk rasa jeruk madu yang terkenal itu.

Begitu juga menyangkut penghargaan waktu. Bangsa kita acapkali membusungkan dada menoleh ke masa silam, tapi gagap menghadapi masa kini apalagi merencanakan masa depan. Diagungkan kita adalah bangsa bahari pencipta kapal Phinisi, malangnya kekayaan ikan kita dikeruk habis oleh nelayan negara tetangga. Dikultuskan kita adalah pejuang gagah berani karena mampu mengusir penjajah dengan bambu runcing, tapi sayang bambu kita pun nyaris sudah habis dan alatusista kita jauh tertinggal dibanding negara tetangga.

Dengan bercanda teman penulis dari Inggris menggugat, apakah tidak salah negara-negara donor membantu rekonstruksi Aceh pasca Tsunami 2005 dulu. Gugatan itu ia sampaikan karena saban hari ia melihat sebagian warga yang dibantu hidup santai dengan memancing setiap hari sambil minum kopi susu dan menghisap rokok kretek. Atas gugatan sekaligus guyon itu, penulis hanya diam. Mungkin tidak keliru asumsi sebagian ilmuan, betapa mental orang-orang Asia dan Afrika itu adalah mental lembek. Malas dan tidak menghargai waktu.

Terkait makna dan penghargaan atas waktu, konon negara-negara yang memproduksi jam yang bagus adalah negara yang pendapatan perkapitanya tinggi. Ingat Jepang (Seiko), Jerman (Tag Hour), dan Swiss (Rolex). Bahkan warga Jepang dikenal mabuk kerja (work-alcoholic). Guyon seorang teman, orang Jepang itu berkeringat kala bekerja, sebaliknya orang Indonesia berkeringat ketika makan.

Dalam konteks pilpres sekarang, mental lembek dan irasional pemilih kita tampak dari pengaruh hasutan kampanye hitam. Jauh dari rasional dan amat dekat dengan ikatan primordial. Rasionalitas rekam jejak capres dan cawapres segera padam, ketika digarap oleh kampanye hitam primordial yang tak jelas buktinya.
Padahal, jauh hari, pendiri bangsa ini termasuk seniman pejuang telah mendeklarasikan betapa pentingnya revolusi mental di tengah gempuran revolusi teknologi dan revolusi industri-ekonomi. Cobalah simak lirik lagu Padamu Negeri. Dalam penggalan syairnya ditegaskan yang pertama dan utama adalah bangunlah jiwanya baru kemudian bangunlah raganya. Membangun jiwa itu sesungguhnya adalah kata lain dari revolusi mental. Merubah mental lembek, munafik (sebagaimana disebutkan Mochtar Lubis) dan primordial menjadi mental pemenang dan rasional.

Revolusi mental sangat dibutuhkan untuk merubah mental lembek pembebek dan munafik menjadi mental pemenang dan rasional. Revolusi mental ini jantungnya adalah pendidikan. Karena lewat pendidikanlah ditanamkan pencarian kebenaran dan lewat jantung pendidikanlah perkembangan inovasi (nurturing inovation) dimungkinkan.

Dan bila hitung nyata 22 Juli mendatang menetapkan Joko  Widodo-JK sebagai presiden dan wakil presiden, maka Indonesia akan menapaki sejarah baru dengan mentalitas baru. Nyaris tidak mungkin Indonesia baru menatap masa depan dengan pemimpin yang mentalnya peragu, pembebek, hipokrit dikemas citra palsu dan tebar pesona. Karena itu, revolusi mental harus dimulai dari sekarang oleh pemimpin baru yang rekam jejak masa lalunya tidak kelam oleh bayangan masa lalu.

Harap diingat, masa depan bangsa ini juga dipertaruhkan meski akan dikelola oleh pemimpin baru yang rekam jejaknya teruji dan memiliki integritas. Amerika saja, yang dianggap memiliki demokrasi dan hukum yang sudah matang, kesenjangan antara orang-orang kaya dan miskin ternyata kian mengaga lebar. Gerakan sosial duduki Wall-Street (Social movement occupy Wall-Street) oleh 99 persen penduduk warga biasa Amerika terhadap 1 persen warga super kaya adalah tanda tanya besar yang menghunjam jantung demokrasi sekarang.

Mengapa revolusi mental ini penting dan apa kaitannya dengan kepemimpinan? Sesungguhnya tidak semua warga kita memiliki mental lembek, munafik, dan primordial. Para pejuang bangsa dan pendiri bangsa membuktikan itu. Mereka tidak emosional dan sangat rasional menetapkan Pancasila sebagai dasar negara untuk memayungi keberagaman kelompok masyarakat kita. Mereka berdikari dengan menolak bantuan asing dengan slogan go to hell with your aid. Mental mereka bukan inlander, jongos, dan jadi kuli di atas kuli bangsa lain.

Sang putra fajar baru telah datang dengan lengan baju tersingsing. Ia akan di barisan terdepan memimpin  revolusi mental. Karena, pembangunan sejatinya ditentukan oleh mental manusia, terutama oleh mental pemimpinnya. Ibarat ikan, jika kepalanya busuk, maka semua tubuhnya akan busuk. Jika pemimpin bermental lembek, maka rakyat dipimpin akan lebih  lembek. Mental lembek ini harus dilecut melalui revolusi mental. Karena keyakinan liberal meyakini, kepemimpinan bisa merubah budaya-budaya yang (dimitoskan) menghambat pembangunan menjadi budaya yang progresif mendorong pembangunan.(c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru
Ketika Anggaran Negara Berbicara

Ketika Anggaran Negara Berbicara

(harianSIB.com)Dalam dokumen anggaran negara, angka sering hadir sebagai deretan triliunan rupiah yang terasa jauh dari kehidupan seharihar