PEMILIHAN Umum 2014 memberikan kesempatan bagi rakyat Indonesia untuk memilih pemimpin yang diharapkan dalam mengatasi banyak persoalan yang dihadapi Bangsa Indonesia hingga saat ini.
Hingga kini Indonesia memang masih menghadapi berbagai persoalan penting seperti tingginya angka korupsi, penurunan kondisi lingkungan, infrastruktur yang belum merata, serta kesenjangan sosial yang masih tinggi.
Masalahnya, bukan hal mudah bagi rakyat Indonesia untuk memilih pemimpin yang mampu mengatasi banyak persoalan tersebut meskipun di televisi sebagian calon pemimpin telah mengampanyekan diri sebagai calon pemimpin yang tepat bagi Indonesia.
Banyak syarat yang diperlukan bagi seseorang untuk bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dan mampu meningkatkan pemerataan kesejahteraan rakyat.
Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Irman Gusman mengatakan pemimpin Indonesia haruslah sosok yang bersih dan berintegritas tinggi agar negara ini terbebas dari praktik korupsi. Pemimpin yang bersih dan berintegritas tinggi akan mengekspresikan kepemimpinan yang bersih, jujur dan transparan.
"Kultur masyarakat Indonesia adalah paternalistik, yakni mencontoh orang tua. Agar Indonesia bersih, pemimpinnya harus bersih," kata Irman Gusman ketika mengunjungi Pondok Pesantren Al Muayyad, di Solo, Jawa Tengah, beberapa hari lalu.
Menurut dia, pemerintahan yang jujur dan transparan akan dapat menekan angka korupsi. Hingga kini Komisi Pemberantasan Korupsi masih terus mengungkap kasus-kasus korupsi besar.
Selain bersih, kata Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) Isran Noor, pemimpin Indonesia juga haruslah figur yang visi besar dengan didukung keberanian dan kemandirian yang tinggi.
"Indonesia akan mengalami kemajuan yang luar biasa jika kita mampu menjaga kemandirian dan independensi yang tinggi dengan kekuatan pertahanan yang kokoh," kata Isran Noor saat menyampaikan orasi ilmiah pada wisuda Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) di Kobangdikal, Bumimoro, Surabaya, beberapa waktu lalu.
Dengan bersandar pada kepercayaan diri, independensi, kemandirian dan tidak takut terhadap kekuatan hegemonik, katanya, Indonesia akan memperoleh kejayaan dengan memiliki sains dan teknologi modern di bidang militer.
"Ketika pemimpin memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi dengan menjaga integritas dan kemandirian serta tidak tunduk pada dominasi kekuatan hegemonik, pemimpin itu akan mendapatkan simpati dan dukungan dari rakyat," kata Bupati Kutai Timur, Kalimantan Timur, tersebut.
Menurut Isran, dukungan rakyat adalah fenomena wajar karena kerangka berpikir dan kesadaran mereka memang menyukai pemimpin yang memiliki kepercayaan diri tinggi dan mampu menjaga integritasnya, terlebih lagi, jika pemimpin tersebut berusaha menjaga independensi dari rongrongan kekuatan hegemonik.
"Sebaliknya, pada umumnya rakyat juga tidak menyukai pemimpin yang lembek dan lemah, apalagi jika mereka diketahui tunduk pada kekuatan asing," katanya.
Syarat lain, menurut aktivis lingkungan hidup Chalid Muhammad adalah pemimpin Indonesia harus lebih mengutamakan kepentingan rakyat dibandingkan dengan bisnis.
"Kalau kita memilih pemimpin dari kalangan pebisnis atau yang dekat dengan bisnis, saya khawatir krisis Indonesia tidak akan semakin membaik, justru akan makin bertambah," kata Aktivis Lingkungan Hidup Chalid Muhammad.
Pemimpin yang memiliki latar belakang bisnis dikhawatirkan lebih memikirkan nasib perusahaannya atau perusahaan rekannya agar mereka bisa mendapat konsesi bisnis lebih banyak.
Ia mengatakan saat ini Indonesia membutuhkan sosok pemimpin yang mampu memberi harapan dan membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Untuk mewujudkan itu tidak bisa hanya dengan seorang pemimpin yang bekerja sendiri, tapi harus ditopang oleh jajaran kementerian di bawahnya yang mampu bekerja sama dengan baik menuju Indonesia yang sejahtera.
"Kita butuh pemimpin yang bisa menginspirasi rakyat Indonesia, yang secara bersama mendorong perubahan untuk kesejahteraan rakyat," katanya.
Bukan hanya itu, Lembaga Swadaya Masyarakat Pandu Tani Indonesia (Patani) menambahkan syarat untuk pemimpin Indonesia yaitu bisa mengangkat sektor pertanian maupun petani lebih maju dibanding saat ini.
Direktur Pertanian dan Tanaman Pangan Patani Iskandar Andi Nuhung mengatakan saat ini perhatian pemimpin negara terhadap sektor pertanian masih rendah, yang terlihat dari kinerja sektor pertanian seperti alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang disalurkan untuk sektor ini hanya 1,3 persen, kemudian dari total kredit perbankan sebanyak Rp 2.000 triliun yang mengucur untuk pembangunan pertanian hanya 5 persen.
Selain itu, nilai penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN) di sektor pertanian dari sejak 1967 hingga sekarang hanya 10 persen dari total investasi di Indonesia.
Menurut dia, hal itu ironis dengan jumlah penduduk Indonesia yang sebagian besar bermata pencaharian petani yang saat ini sekitar 26,2 juta kepala keluarga atau sekitar 130 juta jiwa ada di sektor ini.
"Oleh karena itu, diharapkan muncul seorang pemimpin yang bisa mengangkat derajat petani, sejahterakan petani dan meningkatkan sektor pertanian," katanya.
Pemilu 2014 tinggal beberapa bulan lagi, dengan mencermati setiap tokoh yang maju sebagai calon presiden, semoga akan terpilih pemimpin yang benar-benar tepat dengan apa yang dibutuhkan Bangsa Indonesia saat ini dan nanti.
(Ant/q)