Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 08 Maret 2026
Renungan HPN 2022

Parada Harahap, Jurnalis eks Kerani Anti-rodi yang jadi ‘King of the Java Press’

* Inspirasi Bisnis Media Massa di Masa Koloni dan (kini) Pandemi
Redaksi - Jumat, 11 Februari 2022 12:18 WIB
1.048 view
Parada Harahap, Jurnalis eks Kerani Anti-rodi yang jadi ‘King of the Java Press’
tirto.id/Deadnauval
Parada Harahap, wartawan brilian dan militan di masa koloni Belanda dan Jepang hingga era pra kemerdekaan (1922-1959).

Terlepas dari apa tema Hari Pers Nasional (HPN) 2022 tahun ini, agaknya penting berhening sejenak mengenang Parada Harahap, wartawan brilian dan militan di masa koloni Belanda dan Jepang hingga era pra kemerdekaan (1922-1959).

Setidaknya ada tiga sumber insipirasi penting yang bisa dan wajib dipetik dari kiprah serta kancah perjuangan Parada Harahap sebagai jurnalis multi-talenta di masanya. Ketiga hal itu adalah: inspirasi disiplin profesi, inspirasi sosial-politik dan inspirasi ekonomi-bisnis.

Insiprasi disiplin profesi sebagai karakter setia akan pekerjaan itu, tertulis pada Buku "Parada Harahap: Sejarah Hidup si Raja Media Pembela Para Kuli" koleksi Ensiklopedi Jakarta (2005). Setamat sekolah di usia 15 tahun, Parada kelahiran 15 Desember 1899 di Asahan, mengawali profesinya sebagai juru tulis (kerani) di perusahaan perkebunan karet (rubber cultuur) milik Belanda--Mij Amsterdam Onderneming di Sungaikarang, Kecamatan Galang Kabupaten Deliserdang. Gaji pertamanya 10 gulden per bulan, hampir Rp80 ribu pada kurs sekarang.

Karirnya melesat cepat. Dalam sembilan bulan gajinya naik jadi 35 gulden, lalu diangkat jadi kepala kerani di kantor Onderneming Sungaidadap Kabupaten Asahan. Di awal 1915,Parada pun dipromosikan jadi Asisten Kebun, jabatan tertinggi bagi orang bumiputra saat itu.

Periset jurnalistik Toebagus Lutfi dalam rilis bertajuk 'King of the Java Press'mengisahkan, Parada adalah seorang pembaca fanatik (kutu buku) yang bermula dari hobinya membaca koran atau majalah dan buku-buku yang dikirim saudaranya dari Bukittinggi-Sumatera Barat. Dalam rilis pada sub-tajuk'Sang Pemula Pers Bumiputra', Toebagus ungkap kegemaran membaca inilah yang menjadikan Parada Harahap akhirnya menggeluti dan cintai dunia pers atau publisistik.

Awalnya, pada 1916 Parada menulis untuk majalah DeKrani, media informasi para juru tulis ketika itu. Dia mulai aktif menulis di koran Pewarta Deli dan Benih Merdeka. Ketika dipecat karena artikel dan tulisannya berkembang menjadi kritik berantai terhadap kinerja perusahaan tempatnya bekerja, Parada memutuskan jadi juru warta penuh waktu saat pindah ke Padang Sidimpuan Tapanuli Selatan (1919). Penulis Amir Husin Daulay dalam artikel "Mengenang Seorang Tokoh Pers Parada Harahap" (Kompas 15 Deseber 1979) menyebutkan Parada di Tapsel sudah jadi redaktur kepala di koran harian Sinar Merdeka dan mingguan Poestaha yang berbahasa Batak.

Saat krisis ekonomi di masa kolonial Belanda-Jepang, Parada serta isterinya hijrah ke Pulau Jawa di awal 1922. Dia mulai lagi dari nol sebagai kuli tinta di harian Sin Po, koran Tionghoa yang menyuarakan Indonesia Merdeka. Namun tak lama kemudian, Parada diterima dan mendapat posisi redaktur kepala di koran 'Neratja', media terbesardi masa Hindia Belanda.

Tak sampai 10 bulan di Neratja, fanatisme dan disiplin profesi mendorong Parada menerbitkan koran 'Bintang Hindia', media mingguan miliknya sendiri, dengan modal sendiri hasil tabungannya.

Jurnalis HAM
Dalam buku "Parada Harahap: Sejarah Hidup si Raja Media Pembela Para Kuli", Parada dikisahkan sebagai sosok jurnalis yang peduli hak-hak azasi manusia (HAM). Sikap Parada yang ternyata 'anti-rodi' selama masih bekerja di perusahaan perkebunan milik Belanda itu, menjadi sumber inspirasi sosial-politik dari seorang jurnalis yang peduli dan peka akan lingkungannya.

Bermula dari kesaksiannya ketika para kuli atau buruh perkebunan Belanda di Seikarang itu diperlakukan seperti budak kerja paksa (rodi), Parada dengan tulisannya (1917-1918) mengungkap kekejian model hukuman 'poenale sanctie'yang diterapkan pihak pengusaha Belanda ketika itu.

Hobi baca membuat Parada mengerti bahwa 'poenale sanctie' artinya hanya berupa 'sanksi denda' ternyata dijadikan 'hukum siksa' yang tidak manusiawi terhadap para kuli atau buruh kebun, baik oleh tuan kebun (Belanda) maupun stafnya yang sesama pribumi.

Publikasi berantai mewartakan kebobrokan dan keculasan kolonialisme Belanda, berlanjut dengan artikel-tulisannya mengkritisi Undang-Undang Kuli (Koeli Ordonantie-1880), tentang aturan kerja para buruh-tani. Selain kritik dan protes aturan 'poenale sanctie' yang melegalkan hukuman tanpa ampun bagi para kuli, Parada juga memprotes para petinggi atau manajer dan staf Onderneming yang diperbolehkan membawa senjata tajam di area kebun sehari-hari. Dalam sesi publikasi inilah, Parada dipecat dari pekerjaannya sebagai kerani.

Bahkan, ketika masih bekerja dan meliput di koran Sinar Merdeka, nyali reportase Parada untuk terus mengkritisi kekejaman Belanda di masa koloni, Parada memang terpaksa kehilangan pekerjaan karena Sinar Merdeka di-bredel hingga tutup usaha. Pada 1919-1922, setidaknya dua kali Parada terkena delik pers sehingga mendekam di penjara selama enam bulan.

"Reportase Parada sebagai sosok 'Kerani Berdaya Ingat Tajam' yang terus mengkritisi Belanda untuk membela para kuli, serta merta menggugah buruh-tani perkebunan berdemonstrasi ke kantor Asisten ResidenOnderneming, agar Parada Harahap dibebaskan," tulis Amir Husin Daulay dalam artikel "MengenangTokoh Pers Parada Harahap" tersebut.

Lalu, penulis lainnya M Sjafe'i Hassan Basari dalam artilkel "Pers dan DPR, Riwayatmu Ini" (Kompas 31 Agustus 1995), juga mengungkap kiprah Parada Harahap sebagai sosok inspirasi sosial politik bagi kaum jurnalis. Pengalaman kritis dan peduli HAM dengan wawasan sosial-politik (disiplin ilmu dasar jurnalis) mengusung Parada masuk dan bergabung di Departemen Penerangan RI (1948-1950) dengan jabatan kepala divisi pengelola hubungan pemerintah dan pers.

Gagasan Parada yang menonjol di masa pasca Indonesia Merdeka adalah pendirian biro media center atau press room di DPR RIS pada 1950. Biro inilah yang pertama kali menjadi wadah kordinasi, diskusi dan silaturahmi antar wartawan yang meliput serta publikasi kegiatan sidang atau rapat-rapat dan temu warga (audiensi atau RDP) di parlemen.

Antara Koloni dan Pandemi
Di masa koloni, kiprah Parada sebagai praktisi bisnis media bermula ketika sudah menjadipengusaha kantor berita Algemene Pers en Nieuws Agentschaap (ALPENA) milik Metzelaar, seorang pebisnis Belanda pemilik percetakan De Unie.

Dari ALPENA, Parada menerbitkan sejumlah media (koran dan buletin) seperti mingguan Bintang Timur di Jawa Barat, Sinar Pasundan, Semangat Nusa, dan De Volks Courant (berbahasa Belanda).

Perkembangan oplah media cetak yang kian membesarkan namanya sebagai Raja Media di Pulau Jawa (The King of Java Press--M Sjafe'i Hassan Basari, 1992) mendorong mingguan Bintang Timur menjadi koran harian dan langsung meroket dan membludak di pasaran. Selain berpengaruh luas karena ulasan Parada dengan artikel berbagai topik, juga karena sumbangan artikel Dokter Rivai, seorang tokoh pers kesohor saat itu.

Namun, insting bisnis Parada ternyata tidak dibarengi skill manajemen finansial, sehingga bangkrut gara-gara utang 35.000 gulden pada 1935. Di sesi inilah dia melakukan inovasi 'small but smart'. Dengan modal sendiri seadanya, tahun itu juga Parada kembali menerbitkan media harian yang baru 'Tjaja Timoer', tapi dengan produk model omniverse atau metaverse.

Bentuk korannya sangat mini,hanya selebar kertas kuarto atau seukuran saputangan.

Terobosan inovatif Prada akibat krisis ekonomi masa koloni, sekaligus jadi teknis pemulihan bisnis dengan upaya serba mandiri, mulai dari cari berita (liput) sendiri, tulis sendiri, setting sendiri, cetak sendiri, jual sendiri, tapi dibeli dan dibaca baca banyak orang. Ini mirip kisah Roy Fahraby Ginting ketika menerbitkan koran mingguan bersama pengusaha BT-BS Bima Dr Robert Valentino Tarigan di Medan, pada 1993 lalu. Semuanya dikerjai sendiri, tapi terbitnya hanya berbilang jari.

Apa yang bisa dipetik dari kiprah Parada di masa koloni sebagai inspirasi bisnis di masa pandemi saat ini? Tentu saja inovasi 'omniverse-metaverse' dengan teknis publikasi atau liputan digital yang diaplikasi dan adaptasi ke media cetak.

Produk liputan bisa saja sama, tapi konsumen antara media cetak dan media digital (on line) akan terkompetisi dinamis.

Belajar dari 'koran saputangan' Parada, produk liputan yang 'smart and blast' tetap ada di media cetak (koran), walau produk liputan 'small and fast' tak terhempang jua di media digital-on line atau medsos karena memang bisa dinikmati singkat-cepat keluar masuk saku. Tapi untuk referensi, koloni dan pandemi apapun belum bisa menandingi produk media cetak. Selain baku, produk liputannya murni tanpa trik-trik foto editan bahkan 'prank' (seperti di medsos) dengan narasi terkadang yang menjurus mengelabui publik.

Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru