Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 10 Maret 2026

Natal, Seruan Allah untuk Memulihkan Wajah Kehidupan

Oleh P.Moses Elias Situmorang OFMCap
- Rabu, 24 Desember 2014 14:57 WIB
640 view
"The Counterfeiters" adalah sebuah film yang memenangkan hadiah Oscar pada tahun 2008. Ada tiga hal yang  menarik  dari film ini. Pertama film ini diangkat dari satu diary seorang Jahudi yang bernama Adolf Burger di mana dia terlibat dalam satu operasi yang bernama "Operasi Bernard". Kedua Adolf Burger bersama satu orang temannya Yahudi lain adalah ahli membuat uang palsu yang mau dicetak dengan tujuan menghancurkan ekonomi Inggris. Ketiga Adolf Hitler pemimpin Nazi yang sangat benci pada orang Jahudi justru memakai orang Jahudi dalam "Operasi Bernard".

Secara ringkas alur kisah dalam film itu  dapat dilukiskan sebagai berikut. Ketika Adolf Burger bersama ribuan orang Jahudi lainnya berada di Camp konsentrasi di Auschwitz untuk dibunuh, dia membisikkan pada tentara Nazi bahwa mereka berdua memiliki keahlian untuk mencetak uang palsu. Karena itu Nazi menempatkan mereka dalam satu perusahaan rahasia untuk mencetak uang palsu dan rencana Hitler uang palsu itu akan dibawa ke Inggris dan dilemparkan dari udara. Tujuannya cuma satu yakni: Kalau mata uang palsu itu bercampur dengan uang asli maka tidak akan ada transaksi bisnis dan ekonomi akan lumpuh sehingga perekonomian Inggris akan hancur total. Hitler tahu betul bahwa untuk menghancurkan sebuah bangsa tidak harus dengan senjata api tetapi lebih dasyat dengan kehancuran ekonomi. Untunglah operasi dengan sandi "Operasi Bernard" itu dapat diketahui oleh dinas inteligen Inggris, sehingga uang palsu yang dicetak oleh Hitler tidak jadi diedarkan di Inggris. Dengan demikian Film The Counterfeiters hendak menyampaikan pesan yang sangat penting yakni betapa berbahayanya suatu kepalsuan yang begitu sempurna jika beredar dalam kehidupan manusia. Wajah kehidupan akan rusak total dan mengalami kehancuran ketika yang palsu berhasil menggeser apa yang asli dan benar. Tepatnya kepalsuan selalu merusak wajah kehidupan.

Film "The Counterfeiters" juga secara amat gamblang  hendak menekankan bahwa kehidupan adalah harta terbesar yang dimiliki manusia, suatu anugerah tertinggi yang diberikan Pencipta kepada manusia. Uang sebesar apapun tak cukup untuk menukar atau melenyapkan kehidupan manusia. Berbeda dengan dua sisi mata uang logam, kehidupan bagi manusia menyiratkan dua segi yaitu manusia mempunyai hak untuk hidup sekaligus punya kewajiban untuk mempertahankannya. Namun dalam perjalanan sejarah manusia,   nampaknya kehidupan manusia itu   sering diwarnai dan dirangkai oleh aneka ketakutan dan  kecemasan; keraguan dan ketidakpastian. Kemajuan bioteknologi dan kecanggihan merekayasa hidup dan reproduksi manusia agaknya turut serta membawa kemanusiaan manusia ke dalam alam kelabu yang maha luas. Namun demikian selalu ada kerinduan dalam diri manusia dalam hatinya yang terdalam untuk  tetap memperjuangkan kehidupan dalam suasana damai, gembira, dan bahagia. Inilah yang disebut dengan upaya  Gloria Natal Bentuk Kegembiraan
Kegelapan dapat menimbulkan akibat yang mengerikan. Hidup anak-anak kecil yang tak bersalah menjadi korban kegelapan hati Herodes ketika dia  mendengar Yesus Kristus lahir.  Herodes yang berkuasa pada saat itu takut terancam atas kehadiran Yesus Kristus. Hal yang sama juga terjadi di negeri ini. Banyak orang tak bersalah menjadi korban  karena para pemimpin merasa terancam akan kehilangan kekuasaan.  Maka tidak heran  krisis berkepanjangan membuat bangsa ini kian terpojok.

Deraan musibah demi musibah dan runtuhnya upaya penegakan hukum dan hak asasi manusia semakin mempertegas masih  berkuasanya kegelapan yang mencengkeram hati banyak pemimpin yang berakibat pada sengsaranya hidup sebagian besar masyarakat kita. Solusi yang kerap sebatas wacana, diskusi dan janji yang meninabobokkan dan mustahil untuk ditagih. Dalam situasi semacam ini masa depan tak lebih dari hamparan kecemasan dan ketakutan. Semua jalan terasa bak terowongan gelap yang tak berujung.  Kondisi ini menjadikan  ada segelintir orang yang  mengamankan diri dengan menggelembungkan pundi-pundi, meraih jabatan, dan kedudukan dengan berbagai macam cara  sebagai jaminan masa depan. Mungkin secara fisik mereka akan merasa aman tapi batin tetap terusik dan terganggu oleh kegelapan yang menyelimutinya.  Kegelapan memang bisa gelap dan mengerikan bahkan dapat membuat jiwa manusia menjadi berkeping-kepinng.

Kegelapan hanya mungkin diusir dengan terang yang sesungguhnya. Dengan terusirnya kegelapan dari diri manusia maka terang cahaya Allah akan meraja dalam dirinya. Bila Allah sudah meraja dalam diri manusia barulah dia  bebas berseru seperti para malaikat dulu menyerukan: "Gloria in excelsis Deo et  pax in terra hominibus" (kemuliaan kepada Allah di tempat maha tinggi dan damai di bumi kepada orang yang berkenan kepada-Nya). Nyanyian malaikat itu membuat para gembala tercengang, bergetar namun tidak berkoar, dan bangkit melihat terang Ilahi itu.  Mereka bergembira dan nyanyian para malaikat itu pun menjadi nyanyian    para gembala (Luk 2:14).

Memancarkan Terang dalam Kehidupan

Natal adalah perayaan iman untuk berkontak dengan terang. Bukan semata-mata mengharapkan terang dari luar diri kita untuk menerangi langkah hidup kita tetapi juga untuk menghasilkan terang bagi orang di sekitar kita. Kita menipu diri kita bila kita yakin bahwa dalam diri kita tidak ada lagi kegelapan, tidak ada lagi dosa.

Selanjutnya terang yang ada dalam diri harus dinampakkan keluar terutama dalam kehidupan bermasyarakat dalam situasi berbangsa dan bernegara dalam ikatan persaudaraan.  Kita harus ikut menjunjung persatuan bangsa ini. Kita mesti menyadari Bangsa Indonesia menjadi kenyataan karena dua kali ada komponen bangsa merelakan kedudukan dominannya demi persatuan bangsa. Dalam sumpah pemuda 1928 para pemuda Jong Jawa merelakan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. Andaikan bahasa Jawa yang dijadikan bahasa Indonesia, maka Republik Indonesia akan dipahami sebagai republik Jawa Raya dengan akibat bahwa kaum Sunda, Minang, Nias, Batak, Flores dan lain-lain sangat mungkin tidak ikut. Peristiwa kedua adalah penetapan lima sila Pancasila sebagai dasar negara dalam pembukaan UUD 1945. kesepakatan itu memastikan bahwa Indonesia menjadi milik seluruh rakyat Indonesia tanpa membedakan agama. Kesediaan para wakil umat Islam untuk tidak menuntut kedudukan khusus dalam UUD meski mereka mayoritas terbesar memungkinkan persatuan dari sabang sampai Merauke.

Lalu sekarang kita perlu menemukan semangat para pendiri bangsa ini. Semangat dalam bentuk kesediaan saling menerima dalam perbedaan tercekik oleh kepicikan intoleransi, kecurigaan dan kebencian primordial. Orang yang mau beribadat menurut cara yang tidak berkenan pada tetangganya dicaci maki, diancam, bahkan diusir. Adapun mereka yang dipercaya mengurus bangsa, daripada melindungi seluruh bangsa, banyak diam atau bicara cengeng-oportunis. Kecengengan itu yang membuka ruang pelbagai kelompok preman-preman yang mengganggu orang lain, seakan-akan mereka itu menjadi wakil Tuhan. Dalam situasi ini dibutuhkan kepemimpinan yang berani dan tegas. Perlu membawa terang dalam masyarakat.

 Memulihkan Wajah Kehidupan

Natal yang sesungguhnya berarti ajakan untuk  mengobarkan semangat mencintai kehidupan dan berani berbagi kepada sesama. Seperti kita ketahui dalam kitab Suci bahwa pada hari Natal yang pertama 2000 tahun lalu di Betlehem para gembala di Padang Efrata telah melihat terang dan kemuliaan Tuhan bersinar di kegelapan malam, pada saat kelahiran Yesus Kristus.  Kepada kitapun, yang hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia secara khusus kita yang sedang merayakan Natal pada hari ini, terang tersebut juga dipancarkan. Maka pantaslah kita bersyukur, bersukacita bersama dan berbagi bersama. Tuhan mengasihi orang yang mau memberi, yang melayani, yang mau berjuang demi bangsa dan Negara. Itulah diri kita, itulah misi kita dan itulah kebahagiaan kita.

Namun mesti kita akui bahwa terang itu  belum menyentuh semua lini kehidupan. Kita menyaksikan, bahwa bangsa kita masih mengalami kegelapan dengan adanya berbagai persoalan. Kemiskinan sebagai akibat ketidakadilan masih menjadi persoalan sebagian besar bangsa kita, yang mengakibatkan sulitnya menanggulangi kebutuhan-kebutuhan pokok. Kekerasan masih merupakan bahasa yang digemari guna menyelesaikan masalah hukum. Demonstrasi  anarkis masih menjadi pilihan banyak pihak untuk menuntut haknya. Penghormatan  terhadap hak-hak azasi manusia masih merupakan pergumulan dan harus kita perjuangkan.

Hanya orang yang berkualitas tinggi yang mampu sampai pada tingkat universal cinta, yang tidak lagi terbelenggu oleh rasa kesukuan dan kesedaerahan, rasa bahasa ibu dan rasa marga, rasa kesedarahan dan nepotisme. Orang yang berkualitas tinggi tidak lagi berkeping-keping secara batin dan lahir. Model hidup Allah-lah yang mampu menghantar orang untuk sampai pada tingkat hidup ini, dan dengan demikian terciptalah kedamaian, kegembiraan dan   penghargaan yang tinggi atas hidup manusia. Inilah seruan terdalam dalam peristiwa Natal. Akhirnya marilah kita menyambut   Yesus sebagai jalan, keselamatan, dan kehidupan. "Keresahan, rasa putus asa, beban berat, dan beragam persoalan hidup lainnya memang akan senantiasa menghiasi perjalanan  hidup kita namun hal itu tidak  akan menghalangi kehadian Tuhan sebab sekali Emmanuel tetap Emmanuel yakni Allah menyertai umat-Nya dan kehadiran-Nya adalah untuk memulihkan wajah kehidupan. Selamat Natal dan Tahun Baru. (Penulis adalah pastor paroki St.Fransiskus Brastagi- Kab.Karo Sumut/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru