Pastikan Mudik Aman, KAI Divre I Sumut Siagakan 31 Lokomotif dan 73 Kereta Laik Operasi
Medan(harianSIB.com)PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara menyiagakan 31 unit lokomotif dan 73 sarana kereta ya
Banyak perguruan tinggi masih berjalan seolah-olah terpisah dari kehidupan masyarakat dan kebutuhan dunia kerja. Akibatnya, meskipun lulusannya cerdas secara teoretis dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi, mereka tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan karena tidak siap menghadapi persaingan dan perubahan di dunia nyata.
Hal ini bukan sekadar wacana. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2024, dari total pengangguran di Indonesia yang mencapai 7,46 juta orang, sebanyak 842.378 di antaranya merupakan lulusan perguruan tinggi. Angka ini, yang setara dengan 11,28% dari total pengangguran nasional, sangat mengkhawatirkan. Terlebih lagi, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk lulusan perguruan tinggi terus menunjukkan tren peningkatan, dari 5,25% pada 2023 menjadi 6,23% pada awal 2025.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan tinggi belum sepenuhnya mampu menghasilkan lulusan yang siap pakai dan adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja. Pertanyaannya, di mana letak permasalahan utama? Salah satu jawabannya terdapat pada kurikulum.
Kurikulum: Bukan Sekadar Rencana Pembelajaran
Selama ini, kurikulum cenderung terlalu fokus pada aspek teoretis dan akademis, tetapi kurang bersentuhan dengan konteks nyata. Mahasiswa lebih banyak didorong untuk menghafal teori, mengerjakan soal ujian, dan menyusun laporan akademik, namun kurang dilibatkan dalam pengalaman langsung seperti magang yang relevan, kerja lapangan, ataupun proyek sosial.
Akibatnya, muncul kesenjangan antara teori di kelas dan realitas di lapangan. Lulusan teknik sering kali menghadapi tantangan di lapangan yang tidak pernah mereka pelajari di ruang kuliah. Lulusan hukum menyadari bahwa penyelesaian perkara keadilan tidak selalu lurus sesuai dengan pasal dan teori dalam buku. Lulusan keguruan dan ilmu pendidikan menemukan bahwa dinamika ruang kelas jauh lebih kompleks dibandingkan simulasi microteaching di laboratorium.
Saat mereka lulus, mereka menyadari bahwa dunia kerja menuntut lebih dari sekadar nilai IPK dan transkrip.
Mengapa Kurikulum Harus Sejalan dengan Dunia Nyata?
Pertama, dunia kerja modern menuntut soft skills (keterampilan non-teknis) dan kemampuan pemecahan masalah (problem-solving) yang lebih dominan daripada sekadar pengetahuan kognitif. Kolaborasi, komunikasi, fleksibilitas, kepemimpinan, dan kreativitas adalah kunci keberhasilan di era digital yang dinamis. Sayangnya, keterampilan ini tidak bisa hanya diajarkan melalui ceramah di ruang kelas.
Kedua, perkembangan zaman sangat cepat. Profesi baru terus bermunculan, sementara profesi lama perlahan menghilang. Jika kurikulum tidak adaptif, lulusan yang dihasilkan pasti akan tertinggal oleh kemajuan zaman. Kurikulum yang baik harus fleksibel, adaptif, dan kontekstual terhadap perkembangan teknologi, budaya, serta sosial.
Ketiga, kebutuhan masyarakat dan industri berbeda di setiap daerah. Oleh karena itu, kurikulum tidak bisa disamaratakan. Harus ada ruang untuk pendidikan kontekstual yang berbasis potensi lokal. Mahasiswa di wilayah pertanian, maritim, ataupun pariwisata, misalnya, harus mendapatkan pengalaman yang sesuai dengan potensi daerah mereka.
Solusi: Kolaborasi, Adaptasi, dan Praktik Nyata
Untuk mendekatkan kurikulum ke dunia nyata, setidaknya ada tiga pendekatan penting yang perlu diimplementasikan:
1. Kolaborasi Kampus–Industri–Masyarakat
Pihak industri dan dunia kerja perlu dilibatkan secara langsung dalam perancangan kurikulum dan proses pembelajaran. Melalui program magang terstruktur, project-based learning, dan keterlibatan praktisi sebagai dosen tamu, mahasiswa akan memperoleh gambaran nyata tentang dunia kerja.
2. Reorientasi Peran Dosen
Dosen harus menjadi fasilitator pembelajaran yang mampu membawa dinamika lapangan ke dalam kelas. Ini dapat dilakukan melalui studi kasus aktual, kolaborasi riset terapan, ataupun program kemitraan dosen-industri.
3. Penerapan Kurikulum Adaptif dan Kontekstual
Perguruan tinggi harus berani melakukan evaluasi dan penyesuaian kurikulum secara berkala, tidak hanya lima tahun sekali. Pemanfaatan teknologi digital, pembelajaran lintas disiplin, dan kurikulum berbasis proyek (project-based curriculum) wajib terus diperluas serta dikembangkan.
Medan(harianSIB.com)PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara menyiagakan 31 unit lokomotif dan 73 sarana kereta ya
Humbahas(harianSIB.com)Bupati Humbang Hasundutan (Humbahas) Dr Oloan Paniaran Nababan mengingatkan Aparatur Sipil Negara (ASN), khususnya pe
Pematangsiantar(harianSIB.com)Siswa SMPN 4 Pematangsiantar berhasil menorehkan prestasi olahraga futsal.Kepala SMPN 4 Pematangsiantar, Retty
Medan(harianSIB.com)Keluarga besar Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut) dan Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD) wilayah Sumut mengg
Pematangsiantar(harianSIB.com)Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi menyatakan dukungan penuh terhadap perayaan Malam Cap Go Meh 2577 Kon
Medan(harianSIB.com)Penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut) menahan tiga mantan Kepala Kantor Syahban
Medan(harianSIB.com)Harga emas dunia pada perdagangan Selasa (24/2/2026) bergerak relatif stabil di kisaran 5.173 dolar AS per ons troy atau
Medan(harianSIB.com)Kapolda Sumut, Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto menyebut sebanyak 61 personel Polda Sumut dipecat sepanjang tahun 202
Batubara(harianSIB.com)Semangat berbagi dan kepedulian mewarnai bulan suci Ramadan 1447 H di Kabupaten Batu Bara. Jajaran Satuan Intelkam Po
Medan(harianSIB.com)Wakil Wali Kota Medan H. Zakiyuddin Harahap melaksanakan safari Ramadan di masjid Jami&039 di jalan Kejaksaan Simpang
Nisel(harianSIB.com)Curah hujan tinggi dalam sebulan terakhir mengakibatkan bencana longsor menyebabkan sebanyak 7 rumah warga mengalami rus
Medan(harianSIB.com)Ketua Fraksi Partai Golkar (FPG) DPRD Sumut Aswin Parinduri mengatakan, ruas jalan dan jembatan MerahMuarasoma di Ka