Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 08 Maret 2026

Rapat Pendeta Hatopan : Sebuah Milestone vs Reuni Faksi

Oleh : Ronald Naibaho, Jemaat HKBP
Redaksi - Senin, 27 Oktober 2025 09:19 WIB
8.092 view
Rapat Pendeta Hatopan : Sebuah Milestone vs Reuni Faksi
(Foto Dok/Pribadi)
Ronald Naibaho.

Medan (harianSIB.com)

Pengantar

Judul tulisan ini sengaja di kemas biar agak melintas di dalam pemikiran para pendeta HKBP yang sedang rapat pendeta hatopan hari ini, 27 – 30 Oktober 2025 di Jetun Siborongborong – Tapanuli Utara. Agenda rapat ini sudah biasa dilaksanakan dan menjadi agenda dua tahunan bagi para pendeta HKBP untuk membicarakan persoalan Konfessi, RPP, Agenda, Pernyataan Iman HKBP tentang pokok-pokok pergumulan dalam kehidupan, Pedoman Pelayanan kategorial, Baptisan kudus, Sidi dan Pra Nikah serta tugas lainnya sejumlah 12 point sebagaimana Bab X, Pasal 44, Point 5.1 hal 224 AP HKBP 2002 setelah Amandemen keempat. Ke 12 point tugas rapat pendeta tersebut murni untuk melihat proses dan pencapaian pelayan tahbisan yang berjabatan pendeta. Tentunya rapat pendeta ini dilakukan agar ada penyegaran tentang tupoksi, keseragaman pemahaman dan pelaksanaan tugas-tugas bagi pelayan dimaksud. Sesungguhnya setelah sentralisasi pengelolaan keuangan HKBP, semangat itu mestinya makin bertumbuh. Bahkan dengan adanya tema sentral HKBP tahun transformasi 2025 maka para pelayan dan kelembagaan HKBP semakin memperbaiki komitmen dan berubah. Tetapi marilah kita lihat dan cek di gereja kita masing-masing. Apa dan bagaimana kenyataan dan faktanya? Apakah di resort-resort dan huria-huria sudah terjadi sebagaimana tuntutan transformasi? Meminjam berbagai pengalaman organisasi dengan instrumen yang lincah dan kaya fungsi serta suskes melakukan perubahan, semetinya HKBP memiliki informasi sejauhmana jarak mil tri tugas gereja hari ini. Sehinga kita tahu dan bisa menandai fase kemajuan dalam berbagai pelayanan yang telah dilakukan.

Berangkat dari Tema dan Sub Tema

Tahun ini Tema Rapat Pendeta HKBP adalah: "Ciptaan Baru di dalam Kristus" (2 Kor. 5:17) dan Subtema: "Pendeta HKBP diutus mengemban Pastoral Profetik dan menghadirkan Transformasi Gereja dan Masyarakat yang terbebas dari belenggu Korupsi, Perjudian, Narkoba, Perdagangan Manusia, dan Kerusakan Alam." Sub tema ini menambah tugas para pelayanan yang tidak hanya menggembalakan, tetapi juga menyuarakan kebenaran dan keadilan. Ada penambahan tugas pelayan berjabatan tahbisan pendeta terhadap persoalan sosial dan lingkungan hidup. Sebuah tema yang pro terhadap eksternal ketimbang internal yang kondisinya sudah terasa sulit dan payah berkembang. Apa buktinya? Jika kita daftar maka akan ditemukan beberapa pelayanan internal gereja katakanlah urusan koinonia dan marturia yang belum berjalan dengan baik. Ada banyak huria yang tak melakukan program sesuai tema dan sub tema HKBP, dst.

Baca Juga:
Tahun ini dengan tema Transformasi, jemaat HKBP dan masyarakat Indonesia menaruh harapan besar atas keberlanjutan program HKBP dan capaian Tema Transformasi. Jemaat dan masyarakat kristen khususnya dan Indonesia umumnya menunggu kontribusi HKBP. Apakah pada tingkat hatopan maupun tingkat Distrik yang secara potensi SDM cukup mumpuni. Secara umum jika disebut HKBP, maka Top Of Mind publik adalah gereja terbesar di Indonesia yang berdiri sejak 7 Oktober 1861. Publik pun mengetahui dan mendengar bahwa ada banyak tokoh HKBP di Pemerintahan Sipil, TNI/POLRI, Swasta dan dunia profesi lainnya yang sangat sukses. Singkatnya pihak eksternal HKBP memahami kalau HKBP itu adalah gereja dengan potensi SDM dan kekayaan yang luarbiasa. HKBP dikenal sebagai institusi keagamaan yang tidak sering meminta bantuan bahkan pernah menolak bantuan ketika Presiden Jokowi menawarkan usaha tambang.

Dalam perkembangannya HKBP dengan visi besar "menjadi berkat bagi dunia", dengan usia 164 tahun pada tahun ini maka pelayanan Oppui Ephorus HKBP dengan seluruh perangkatnya diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan jemaat. Organisasi HKBP baik pusat, distrik dan resort tak salah belajar berhemat dan belajar membelanjakan anggaran secara efisien dan tepat sasaran sebagaimana tema transformasi HKBP. Program yang tidak berdampak kepada jemaat lokal sudah bisa dievaluasi. Dan program yang menimbulkan biaya operasional tinggi juga sudah bisa diserahkan ke distrik atau resort. Sebab Indonesia saat ini keadaan ekonominya tidak baik-baik saja. Tingkat pertumbuhann ekonomi masih melambat dan daya beli masyarakat melemah karena pendapatan masyarakat menurun. Pemikiran tentang kondiri ekonomi jemaat harus mendapat tempat untuk dibicarakan baik dalam sermon dan maupun dalam pertemuan-pertemuan kategorial.

Jika dilihat dari perangkat yang dimiliki HKBP maka tahapan transformasi serta akselerasi dari tingkat pusat sampai ke huria, secara manajemen harus diwujudkan. Hatopan/Pusat harus didisign menjadi organ penolong dan melancarkan urusan di Distrik dan Resort. Institusi HKBP tingkat pusat harus menjadi "cap jempol" bagi urusan-urusan HKBP untuk kepentingan eksternal di setiap distrik dan resort-resort. Tidak jarang bahwa urusan perbaikan jalan di sekitar gereja atau urusan bantuan pemerintah untuk keagamaan HKBP masih mendapat tantangan apalagi soal urusan kebebasan beribadah. Adakah rekomendasi yang bisa dirasakan Distrik oleh pimpinan HKBP? Demikian juga halnya adakah rekomendasi Praeses untuk bisa dirasakan oleh Resort baik secara internal maupun eksternal. Dalam perjalannnya HKBP yang sudah berusia 164 tahun telah bertumbuh dengan banyak karunia Tuhan. Tetapi akan halnya terhadap Tema Pelayanan HKBP masih terlihat sangat minim yang melakukannya sebagaimana pedoman dan tuntunan Hatopan. Untuk itu keterbukaan terhadap evaluasi program dan pelaksanaan pengawasan agar on the track harus mempedomani kaidah-kaidah manajemen organisasi. Dengan demikian tema dan sub tema HKBP yang telah dilaunching Ephorus HKBP setiap tahunnya hendaklah dilakukan untuk meningkatkan capaian HKBP.

Hubungan Sebab Akibat Keaktifan Jemaat

Kondisi umum HKBP saat ini masih belum beranjak. Tingkat partisipasi masih jauh dari jumlah keanggotaan jemaat yang tercatat. Upaya untuk menaikkan tingkat partisipasi sepertinya belum ada resep yang dihasilkan lewat kajian komprehensif baik dengan data maupun permasalahan yang tepat. Untuk hal kajian ini dengan melakukan pengamatan langsung di resort yang ada Distrik X Medan Aceh selama tahun 2021 – 2024. Hampir separoh resort yang ada di Distrik X Medan Aceh dapat dipastikan bahwa keaktifan jemaat di gereja sangat dipengaruhi oleh hubungan sebab akibat. Dan hubungan sebab akibat ini ada beberapa kategori sebagai berikut :

1.Kategori 1, yakni hubungan disebabkan oleh pengaruh orang lain :

Saya aktif digegeja karena saya merasa dekat dengan pendeta resort.

Saya aktif karena saya teman dekat dari ketua Ama.

Saya aktif karena saya kenal dengan pengurus seksi

Saya aktif karena saya satu marga dengan ketua panitia pembangunan

Saya altif karena saya diajak panitia pesta gotilon

Saya aktif karena Penatuanya ketua STM saya, dst.

2.Kategori 2, yakni hubungan disebabkan oleh ikut sebagai pengurus atau panitia

a. Saya aktif karena saya diangkat menjadi ketua seksi

b. Saya aktif karena saya ikut menjadi panitia pembangunan

c. Saya aktif karena saya ikut anggota koor

d. Saya aktif karena saya bagian dari song leader

e. Saya aktif karena saya adalah keluarga parhalado, dst.

Dari pengamatan yang saya lakukan bahwa 2 (kedua) hubungan sebab akibat itulah yang mendominasi persentasi keaktifan di gereja untuk hadir beribadah selain hari raya kebesaran umat kristen dan hari spesial bagi jemaat yang dianggapnya pada situasi dan saat tersebut yang bersangkutan harus melakukan ibadah.

3.Semestinya tingkat partisipasi kategori 3 (ketiga) diharapkan lebih besar karena partisipasi ini lahir disebabkan oleh kesadaran iman percaya, misalnya :

Saya harus beribadah Hari minggu ke gereja sesuai dengan perintah Allah ke 4

Saya harus datang ke gereja beribadah karena kotbahnya pendetanya saya suka

Saya harus datang beribadah hari minggu karena saya merasa nyaman setelah mendeklarasikan pengakuan iman rasuli

Saya harus ibadah hari minggu ini karena merasa terhibur dengan paduan suara

Saya harus datang beribadah hari minggu karena saya akan bertemu sesama lansia

Saya harus datang beribadah hari minggu karena saya mau memberikan ucapan syukur kepada Tuhan didepan Altar gereja, dst.

Milestone Peningkatan Partisiapsi

Skala prioritas yang hendak dicapai HKBP pada empat tahun ke depan adalah peningkatan jumlah jemaat yang aktif bergereja atau beribadah, pengisian database, pelaksanaan program yang mengacu pada Renstra, pemberdayaan pelayan, sentralisasi keuangan, kondusivitas jemaat, oikumene dan kerjasama antar umat beragama, gereja dan penyakit sosial, green church (gereja hijau), kematangan emosional dan karakter.

Struktur organisasi pelayanan harus dapat diberdayakan disetiap aras atau memberdayakan dirinya sebagaimana tupoksi dan komitmen pelayanan yang diemban ketika diterima dari HKBP. MPS, MPSD, Kabid dan Pengurus Kategorial dan Panitia, semuanya harus satu strategi dan satu arah untuk mencapai peningkatan partisipasi jemaat. Tidak kalah pentingnya rapat pendeta yang menghabiskan dana sebesar Rp.2 Milyar harus membicarakan dan mencari jalan keluar agar partisipasi jemaat meningkat. Kalaupun ada reuni dan perjumpan satu angkatan dan satu faksi membicarakan HKBP kemasa depan hendaklah diarahkan ketua rapat pendeta bermeditasi dan evaluasi situasi yang tidak baik-baik saja.

Berbicara tentang peningkatan partisipasi jemaat tak lepas dari diskursus tentang prilaku dan organisasi. Mungkin buku "The Fifth Discipline" karya Peter M. Senge yang mengajarkan tentang pentingnya organisasi pembelajaran (learning organization) dalam meningkatkan kemampuan adaptasi dan inovasi dapat membantu. Senge mengidentifikasi lima disiplin utama yang diperlukan untuk menciptakan organisasi pembelajaran yang efektif, yaitu:

Berpikir Sistem (Systems Thinking): Melihat organisasi sebagai sistem yang terintegrasi dan memahami bagaimana setiap bagian berinteraksi untuk mencapai tujuan bersama.

Penguasaan Pribadi (Personal Mastery): Meningkatkan kemampuan individu untuk mencapai tujuan dan visi pribadi melalui pembelajaran berkelanjutan.

Model Mental (Mental Models): Mengenali dan mengubah asumsi dan keyakinan yang membatasi untuk memahami dunia dengan lebih baik.

Visi Bersama (Shared Vision): Membangun visi bersama yang autentik dan membangkitkan komitmen serta semangat tim.

Pembelajaran Tim (Team Learning): Mengembangkan kemampuan tim untuk bekerja sama secara efektif dan mencapai tujuan bersama.

Dengan memahami dan menerapkan kelima disiplin ini, prilaku organisasi dapat terbangun. Individu jemaat, wijk, seksi, tiga dewan dan huria akan dapat membangun budaya pembelajaran yang berkelanjutan dan meningkatkan kemampuan untuk menghadapi tantangan dan mencapai tujuan. (Penulis jemaat HKBP)

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Dr RE Nainggolan Lantik Pengurus Majelis Pendidikan Kristen Korda Regional Aceh
HKBP UAS Kabarkan Injil di Pinggiran Rel KA Cinta Damai, "Anak Ceria dan Lansia Bahagia" Sambut Sukacita
Panitia Natal Bersama Umat Kristiani Tanjungbalai 2025 Resmi Dilantik
HKBP Kebayoran Selatan Rayakan Pesta Gotilon dengan Keberanian Berbagi
Pesta Gotilon dan Puncak Tahun Transformasi HKBP Koserna 2025 Sukses dan Meriah
Praeses HKBP Distrik X Medan-Aceh Serahkan Hadiah Utama Lucky Draw kepada Calon Biblevrouw Sri Rahayu Sitorus
komentar
beritaTerbaru