Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 19 Februari 2026

Jeritan Hati Masinton Pasaribu, Refleksi 1 Tahun Mengabdi di Tapteng

Catatan : Marlon Pasaribu (Wartawan SIB) dan Helman Tambun
Marlon Pasaribu - Kamis, 19 Februari 2026 13:50 WIB
345 view
Jeritan Hati Masinton Pasaribu, Refleksi 1 Tahun Mengabdi di Tapteng
Foto Dok / FB Pemkab Tapteng
Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu dan Wakil Bupati Tapanuli Tengah Mahmud Efendi.

Tapteng (harianSIB.com)

Belum lama ini, penulis bersama rekan jurnalis berkesempatan mewawancarai Masinton Pasaribu tentang rehabilitasi pasca bencana di ruangan kerjanya, Kantor Bupati Tapanuli Tengah, Jalan Dr FL Tobing, Pandan, Rabu (7/1/2025).

Daerah itu dilanda bencana banjir dan longsor, 25 November 2025, yang daya rusaknya belum pernah terjadi sebelumnya.

Terdapat belasan ribu orang mengungsi, 131 korban meninggal, 31 hilang belum ditemukan, desa – desa terisolir, ratusan rumah hilang tidak bersisa, ratusan rusak berat, rusak sedang dan ringan tertimbun longsor dan banjir.

Ribuan hektar persawahan dan perkebunan luluh lantak, kerusakan infrastruktur publik seperti jalan, sekolah dan lainnya.

Baca Juga:
Kehadiran penulis disambut antusias Masinton, meski dengan mimik capek dan kusam di wajahnya yang baru saja pulang kunjungan dari lokasi bencana terparah, di Kecamatan Tukka.

Ya, Masinton hampir tidak pernah melihat terang bila tidak bertemu dengan warga, bercengkerama, dan mendengar keluh kesah mereka secara langsung, bukan menunggu laporan dari bawahan.

Hampir setiap saat juga, terus menerus, Masinton memonitor setiap detail perkembangan penanganan darurat bencana dari setiap sudut, mulai wilayah terujung, Sibabangun - berbatasan dengan Tapanuli Selatan dan Manduamas – berbatasan dengan Nangroe Aceh Darussalam, guna memastikan tidak ada warga yang tidak tersentuh, atau tidak tertangani.

Begitulah kepribadian Masinton, tidak tenang sebelum dipastikan semua aman. Dan syukur, semua berjalan dengan baik, hingga situasi darurat terlewati, 30 Desember 2025, walau harus capek karena semua energi terkuras.

Memang, jika tentang kerja dan kerja, walau harus 24 jam, Masinton seakan tidak ada kendornya. Prinsip yang selalu dipegangnya saat awal datang ke Tapanuli Tengah, sebagai pelayan.

"Haroroku mulak tu Tapanuli Tengah, naeng marhobas,"ucapnya suatu kali dalam pertemuan dengan warga. Bahasa Indonesianya, "kedatanganku pulang ke Tapanuli Tengah untuk menjadi pelayan".

Nampaknya ia hendak menumpahkan seluruh pengabdiannya untuk Tapanuli Tengah, daerah kelahirannya, 11 Pebruari 1971 yang lalu di Desa Sidaling/Logan, Kecamatan Pasaribu Tobing, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Pasca darurat selesai, pemerintah kini fokus pada rekonstruksi dan rehabilitasi. Sebagai "parhobas" tentu saja Masinton tidak juga bisa tenang. Sedangkan sudah pontang-panting pun, masih saja ada sekelompok masyarakat mencaci maki, mencibir atau tidak tahu berterimakasih. Tetapi itulah dinamika politik, baru setahun selesai Pilkada.

Masinton tidak tenang, apalagi pada masa rekonstruksi dan rehabilitasi itu hujan deraspun acap kali menghantui, bahkan mengakibatkan banjir dan merusak jembatan yang sudah selesai dibangun TNI. Jadi tidak heran bila melihat Masinton dan jajarannya selalu siaga di lokasi rawan banjir kalau intensitas hujan tinggi, setidaknya bisa membantu warga menyelamatkan diri menghalau banjir.

Ironi, memang. Jika diperhatikan dari letak geografis Kabupaten Tapanuli Tengah yang berada di kaki perbukitan bukit barisan dan ditepi laut tapian nauli, namun rawan banjir bila hujan turun dengan intensitas tinggi. Entah apa yang sudah terjadi di hulu? Apakah hutan tempat resapan air sudah sangat kritis? Padahal, sebelumnya hal demikian tidak pernah terjadi, kecuali hujan berlangsung terus menerus selama sepekan.

Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan Pemerintah Kabupaten setahun terakhir, masa Bupati Masinton dan Wakil Bupati Mahmud, seperti melarang penanaman sawit di lereng bukti, serta mengevaluasi kembali tanaman sawit yang sudah ditanam dilereng pebukitan.

Memerintahkan kepala desa untuk aktif melakukan monitoring dan sosialisasi surat bupati tersebut.

Awalnya, Masinton sepertinya tidak mengira kalau kerusakan yang terjadi di Tapanuli Tengah sudah begitu parah. Bukan hanya dalam system pemerintahan, melainkan sudah masuk ke ranah masyarakat yakni hilangnya kepedulian terhadap lingkungan.

"Tapanuli Tengah sudah sangat rusak. Tanpa bencana pun, sudah rusak, apalagi ada bencana. Hancur lebur,"ucap Masinton, menjelaskan kondisi daerahnya. Ungkapan yang merupakan jeritan hati yang paling dalam. Sebagai parhobas, ia harus mengurai itu satu persatu supaya tujuan kehadirannya di Tapanuli Tengah dapat tercapai yakni Tapanuli Tengah maju, naik kelas.

Seyogianya, mantan Aktivis Forkot Jakarta ini mengeluhkan tidak ada yang dibanggakan dari Kabupaten Tapanuli Tengah diusia 80 tahun ini. Pembangunan juga tidak ada, selain masa Bupati Tuani Lumbantobing. Sementara potensi untuk maju dari pertanian, Perkebunan maupun laut cukup menjanjikan.

Tapanuli Tengah memang memiliki Perkebunan sawit, luas. Ada beberapa Perkebunan, tetapi masyarakat hanya sebagai pekerja, bukan pemilik. Padahal ada aturannya bahwa setiap Perkebunan harus ada plasma, namun tidak ada dilaksanakan di Tapanuli Tengah. Sehingga keuntungan Perkebunan yang mengelola tanah di Tapanului Tengah itu hanya untuk segelintir orang.

Begitu pula dengan laut. Laut Tapanuli Tengah luas, tetapi nelayan tidak bisa hidup sejahtera. Nelayan hanya bisa menggerutu, karena hasil tangkapan mereka tidak ada. Sementara pemilik kapal besar penangkap ikan seenaknya saja beroperasi di daerah tangkapan nelayan kecil.

Demikian dengan pertanian dan perkebunan, bukannya ada komoditas unggulan yang bisa dibanggakan untuk dijual ke luar daerah. Beras justru didatangkan dari Toba maupun Tapanuli Selatan untuk konsumsi Sebagian masyarakat Tapanuliu Tengah.

Sementara kalau mengharapkan pertumbuhan ekonomi dari jasa, perdagangan susah karena Tapanuli Tengah berada di sudut wilayah Sumatera Utara yang bukan perlintasan, sehingga perputaran ekonominya sulit dipacu, kecuali ada yang spesifik yang bisa menarik perhatian orang, seperti pariwisata.

Sedangkan pariwisata Tapanuli Tengah antara hidup segan mati tidak mau, karena belum dikelola dengan maksimal selama ini. Sesungguhnya potensi itu ada karena mejadi titik nol penyebaran agama Islam maupun Kristen, dengan adanya berbagai situs sejarah.

Masinton mengaku akan bekerja keras. Ia meminta masyarakat untuk bergerak bersama untuk bangkit. "Kita tidak bisa lagi tidur-tiduran, kita tidak bisa lagi hanya menggerutu. Kita harus rebut dan bangkit,"tukasnya penuh semangat. "Merdeka!,"ucapnya bak orasi memancing emosi.

Menurutnya, peristiwa bencana harus menjadi titik awal, momentum menumbuhkan daya dorong untuk berubah dari pola yang sebelumnya ada kekurangan menjadi memperbaikinya pasca peristiwa, sehingga cita-cita Pembangunan Tapanulu Tengah dapat tercapai.

"Bencana menjadi momen permenungan bagi masyarakat, tanpa terkecuali untuk melakukan refleksi, evaluasi dalam meningkatkan kualitas perilaku demi Tapanuli Tengah bisa cepat pulih dari bencana, dan bangkit lebih kuat,"katanya.

Masinton mengaku tidak lagi melangkah dengan program yang muluk-muluk, atau besar omong, cukup memulainya dengan hal yang terkecil, misalnya bagi pemerintah cukup memanfaatkan pengelolaan anggaran yang ada dengan baik, maka hasilnya akan baik.

"Tidak perlu pembangunan yang super, supaya terlihat jago, tidak. Karena daerah kita sedang rusak parah. Cukup yang ada ini dulu dibenahi, diperbaiki, ditata dan diperuntukkan untuk sebesar-besarnya kehidupan masyarakat,"ujarnya.

Masinton mengajak masyarakat mengilhami nenek moyang masyarakat Tapanuli Tengah dahulu dengan motto "Sahata Saoloan" yang mencerminkan semangat kebersamaan, persatuan, dan persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat serta pembangunan daerah. "Kalau semangat itu kita hidupkan kembali dan kita gelorakan mustahil kita tidak bangkit. Pasti bangkit!" tegasnya.

Terkait sistem pemerintahan yang masih menjalankan pola atau budaya lama. Masinton memastikan sudah sedang memperbaikinya, termasuk menonaktifkan pejabat yang masih mengikuti pola itu. Tidak bisa lagi ada pegawai negeri sipil dijajarannya yang merasa penguasa maupun merasa pejabat.

"Bila selama ini terjadi budaya setor menyetor itu tidak bisa lagi terjadi. Sistem itu harus diputus,"tuturnya.

Terkait ijin ijin usaha yang sudah keluar sebelumnya akan dievaluasi kembali, sehingga kehadiran Perusahaan di lingkungan masyarakat bisa membawa manfaat terhadap kehidupan masyarakat itu sendiri. Namun ia mengajak masyarakat mengubah mental dan mindset yang selama ini dengan menghilangkan rasa iri, dengki maupun congkak.

"Saatnya kita peduli terhadap sesama, terhadap lingkungan yang diawali dari dari diri sendiri. Hilangkan rasa ego dengan mengutamakan semangat kebersamaan dan saling peduli," pintanya.

Di sektor pertanian dan perkebunan, pemerintah akan menyediakan bantuan tanaman keras yang hasilnya bisa berdaya manfaat untuk kehidupan masyarakat. Bantuan bibit padi, bantuan pupuk, dan lainnya. Tanaman sawit juga akan tetap dipertahankan, namun harus diwilayah tertentu bukan di lereng bukit maupun dipegunungan.

Pengelolaan sektor pariwisata akan menjadi prioritas ke depan dengan memaksimalkan penataan jejak Sejarah di Tapanuli Tengah untuk bisa membangkitkan ketertarikan pariwisata datang.

"Sawit, pariwisata, pertanian harus menjadi pemantik untuk terus melangkah maju, namun harus ditata dengan baik, termasuk mental dan mindset masyarakat,"ucapnya.

"Inilah momen kita, momen bencana dengan memulainya dari nol. Kita tidak perlu malu untuk mengakuinya, karena memang itu fakta. Karenanya semua yang akan kita lakukan harus dengan perencanaan yang matang, termasuk Pembangunan. Saya yakin, dengan kebersamaan dalam melangkah dan bergerak dengan motto "Sahata Saoloan" yang ditanamkan nenek moyang kita, maka niscaya Tapanuli Tengah akan bangkit. Pasti maju,"pungkasnya.

Semoga dengan 1 tahun pengabdian Masinton-Mahmud, Tapanuli Tengah bisa pulih lebih cepat, dan bangkit lebih kuat. (*)

Editor
: Wilfred Manullang
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Terlibat Dugaan Penipuan Proyek, Mantan Bupati Tapteng Diadili
Terkabar akan Dijual, PLTU Labuan Angin di Tapteng Hanya Ganti Pengelola
Bupati Tapteng Galakkan Makan Siang Bersama Rakyat untuk Serap Aspirasi
Timbul Panggabean Ketua KPU Tapteng 2018-2023
Poldasu Tangani Dua Kasus Melibatkan Dua Mantan Bupati Tapteng
Bebas dari Sukamiskin, Mantan Bupati Tapteng Bonaran Situmeang Ditangkap Poldasu
komentar
beritaTerbaru
Rupiah Dekati Rp17.000

Rupiah Dekati Rp17.000

Medan(harianSIB.com)Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Bank Sentral Amerika Serikat mengisyaratkan peluang pemangkasan suku