UNGKAPAN keprihatinan dan rasa sedih seseorang untuk masyarakat terkena dampak erupsi Gunung Sinabung, sering terdengar sebatas ucapan atau kata-kata. Dan tidak jarang pula, wujud keprihatinan itu hanya sebatas “terdengar indah, terasa tidakâ€. Demikianlah yang banyak dirasakan dan diakui insan yang mengalami rasa elegi atau dukacita atau pun berbagai peristiwa yang dialaminya kurang mujur. Walau keprihatinan itu tidak dapat diwujudkan dengan pemberian materi, tapi wujud prilaku dan tindakan dapat lebih memberikan makna yang tiada ternilai harganya. Memberi “kail†jauh lebih berarti daripada memberi “ikan†bagi perjalanan hidup seseorang yang membutuhkan pertolongan. Menjadikan masyarakat terkena dampak erupsi Gunung Sinabung bermartabat, bukan hanya sebagai objek belaka.
Demikian diungkapkan Ketua relawan “Srikandi Juangâ€, Sustra Ginting kepada SIB baru-baru ini di posko GBKP Asrama Kodim dan Posko UKA. Sustra Ginting melanjutkan informasinya bahwa pelatihan kue kering yang dipelopori Conservation Mentality (COME) di Posko Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Payung, yang langsung dibuka Jenny Riany Lucia Berutu sebagai Direktur Eksekutif. Lalu pelatihan dilanjutkan di Posko Paroki St Paulus dan St Petrus, Kabanjahe, Posko GBKP Asrama Kodim, berlanjut ke Posko Surbakti dan Tiga Binanga.
COME memfasilitasi pembuatan kue kering dan pengolahan kopi bubuk, hasil pelatihan dinikmati oleh Bapak Presiden Republik Indonesia dan Ibu Ani. Tim relawan mendukung mata penghidupan (livelihood) melalui pelatihan untuk pelatih (training of trainers) di masing-masing posko pengungsian. Trainer yang menjadi mitra COME dalam memberikan pelatihan selain memiliki teknis, juga kemampuan komunikasi yang cukup baik kepada masyarakat, sehingga tujuan kegiatan menjadi sangat dipahami.
Relawan yang bekerja untuk pelayanan kepada masyarakat terkena dampak erupsi Sinabung ini sangat menyambut inisiatif COME ini, karena selama ini mereka berniat memberikan pelayanan konstruktif bukan hanya pelayanan karikatif saja. Relawan yang turut langsung mendampingi longterm run kegiatan di posko adalah Ng Lina Br Sinulingga, Maria Br Pelawi, Rosmerina, Toni Kaban, Nd Arsad, Amin Sebayang. Kepada SIB, disela-sela relawan ini memberikan pelayanan dan pelatihan keterampilan berupa pembuatan beragam kue kering, lukisan, anyaman, minyak urut, pembuatan manik-manik kunci gantung dan kegiatan sosialisasi manfaat menabung sejak dini bagi anak-anak pengungsi di pengungsian untuk masa depan mereka serta kegiatan sosial lainnya.
Upaya tim relawan menggagas dan menggali berbagai keterampilan para pengungsi di berbagai posko ini tidak sebatas mengisi waktu “suntuk†ke hari ke hari selama 4 bulan lebih di tempat pengungsian. Tapi juga sebagai langkah tim relawan menemukan keterampilan dasar yang dimiliki para pengungsi. Ada terampil membuat kue-kue kering, ada terampil membuat anyaman. Misalnya seperti sumpit, (bakul dari anyaman daun pandan-red), tikar, minyak urut atau minyak “patah-tulang†khas Karo yang kian langka ditemukan di tengah-tengah masyarakat Karo pada khususnya saat ini.
Sedangkan bagi kalangan kaum laki-laki, ukiran kayu, gantungan kunci dan ukiran pahatan juga ditemukan dan cukup potensial dapat dikembangkan. Kegiatan ini di Posko GBKP Asrama Kodim. Banyak ukiran mereka berhasil dipamerkan setiap tamu datang. Pengunjung yang datang berempati atas kerja semangat masyarakat yang terkena dampak erupsi Gunung Sinabung. Menikmati dan membelinya langsung.
Ross Prabati dan Bana Sinulingga sebagai trainer kue kering dan pengolahan kopi bubuk ketika ditanya SIB perihal kegiatan mereka, pengalaman dalam memberikan pelayanan konstruktif kepada masyarakat tidak hanya di posko-posko pengungsian erupsi Sinabung di Tanah Karo saja. Tapi mereka telah melayani di wilayah bencana lain seperti Aceh, paska tsunami. Mereka melayani di Calang, Singkil dan Banda Aceh bersama NGO Internasional.
Hal yang sama juga ketika SIB menemui sejumlah pengungsi asal Desa Kuta Tengah di Posko GBKP Asrama Kodim Kabanjahe belum lama ini. Didampingi tim relawan, mereka menyatakan meski tidak berada di kampung halaman, mereka masih tetap semangat, karena dengan semangat berkat pasti datang. Masyarakat yang sudah berkarya di area pengungsian adalah Ibu Marianta Br Purba, Nande Shely Br Sembiring, Nande Jimmy Br Ginting, Nande Roja Br Ginting, Nande Ayu Br Sembiring, Nande Frisko Sitepu dan lainnya.
Ibu-ibu yang terkena dampak erupsi Gunung Sinabung ini membuat beragam kue kering mengaku sangat terhibur dengan kegiatan keterampilan yang cocok dengan kemampuan dasar mereka dan usai masa pengungsian pengalaman ini akan dibawa ke desa masing-masing. Mereka berterima kasih atas upaya tim relawan yang memberi waktu dan memberi modal melalui penyediaan bahan-bahan pembuatan kue sehingga beragam hasil keterampilan mereka dapat pengungsi nikmati mau pun para tamu yang datang.
Juga pengungsi lainnya, seperti pembuat minyak urut khas Karo, Nande Idin, Rabanita dan pengrajin lukisan, Bapak Remond, pembuat manik-manik/kunci, Nande Radit Br Karo dan Nande Eli Br Tarigan, juga mengaku sangat terbantu dengan adanya keterampilan yang diberikan tim relawan kepada para pengungsi.
“Yang kita harapkan, selain mereka pengungsi dapat mengisi waktu dengan berbagai keterampilan ini selama dalam masa pengungsian, nantinya setelah pulang ke kampung atau desa mereka masing-masing, keterampilan ini dapat dimanfaatkan menjadi salah satu sumber ekonomi keluarga. Bahkan lebih dari itu, dengan keterampilan ini mereka dapat membangun usaha mandiri sifatnya home industri dimasa mendatang,†ujar Ibu Ros bersemangat.
(r)