Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 10 Maret 2026
Refleksi Hari Guru Nasional 2015

Guru dan Masa Depan Revolusi Mental

* Oleh Jonson Rajagukguk SSos SE MAP
- Rabu, 25 November 2015 13:41 WIB
1.884 view
Guru dan Masa Depan Revolusi Mental
Guru sangat berperan untuk mendorong terwujudnya revolusi mental karena gurulah yang menginspirasi para siswa untuk jadi manusia yang berkarakter kuat sebagaimana harapan Jokowi dan JK dalam membangun negara ini dalam nawacitanya. Keberhasilan revolusi mental sebagai salah satu "tagline" pemerintah Joko Widodo dan Jusuf Kalla sangat tergantung sejauh mana kita bisa mendidik anak, mendidik siswa, mendidik diri sendiri menjadi manusia yang beretika, manusia berempati, manusia bernurani, manusia inovatif dan kreatif dan manusia yang bermartabat. Kualitas manusia Indonesialah yang menentukan sejauh mana revolusi mental itu bisa diwujudkan dengan baik.

Dalam hal mewujudkan revolusi mental yang implementatif, maka pendidikanlah satu-satunya jalan yang masih dipercaya dan jalan yang paling utama. Tetapi sejauh mana pendidikan kita yang ditopang oleh guru mampu mewujudkan revolusi mental ini? Sementara perhatian guru dan perlakuan guru oleh pemerintah masih sangat rendah? Inilah perenungan hari guru sebagai moment yang sangat bagus bagi guru yang kita kenal pahlawan tanpa tanda jasa.

Apakah bangsa kita bisa maju tanpa dunia pendidikan yang maju yang ditopang oleh guru? Tidakkah negara ini bisa belajar kepada Malaysia yang sangat serius dalam membenahi pendidikan dan kesejahteraan tenaga pendidiknya. Konsekuensinya, Malaysia sekarang berlayar dalam dunia kemajuan yang seolah tiada bertepi. Kita sungguh jauh tertinggal dari saudara serumpun kita ini. Inilah sebuah perenungan khusus bagi para pembuat kebijakan bangsa, agar punya full komitmen pada dunia pendidikan sebagai upaya menggapai kemajuan untuk kebaikan bersama.  

Pendidikan satu-satunya jalan mengangkat derajat, martabat, harkat dari sebuah bangsa dan guru adalah ujung tombak kemajuan pendidikan. Hanya pendidikanlah yang bisa memajukan peradaban sebuah bangsa. Semua kemajuan, kesejahteraan, ketertiban merupakan out put dan out come dari proses pendidikan. Apa yang dicapai oleh negara Amerika Serikat dan Korea Selatan dewasa ini merupakan buah manis dari pendidikan yang mereka jalankan.

Pendidikan tidak dilaksanakan dalam konteks yang tepat bagaimana membangun karakter, keahlian, menanamkan nilai pada semua manusia Indonesia. Pendidikan sudah menjadi beban bagi masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan mahalnya uang sekolah, munculnya UN yang menjadi masalah, sampai masalah tetek bengek lainnya. Pendidikan kita mengarah pada komersialisasi dan rutinitas oleh pemerintah. Akhirnya out put dan out come pendidikan kita tidak berpengaruh signifikan pada kemajuan bangsa ini. Bagaimana mengakhiri komersialisasi dalam dunia pendidikan?  

Sebuah pertanyaan untuk kita renungkan bersama, apa yang membuat sebuah bangsa bisa maju, beradab, santun, berbudi pekerti dan punya masa depan yang cerah? Tidak ada jawaban selain pendidikan. Mother Theresia, tokoh kemanusiaan dari India sudah mengingatkan kita semua bahwa akar dari segala kemiskinan adalah kebodohan (ignorance). Karena kebodohanlah manusia menjadi miskin. Maka pendidikan sangat punya peran sentral memangkas kebodohan. 

Melalui desain pendidikan yang benar sebuah bangsa akan menggapai kemajuan ekonomi yang sehat dan berkualitas. Malaysia sudah membuktikannya dengan pendidikan yang mereka terapkan bangsanya bisa punya pertumbuhan ekonomi yang berkualitas yang mampu mensejahterakan rakyatnya. Sekarang Malaysia menjadi negara yang kuat secara ekonomi dan jauh meninggalkan kita. Banyak tenaga kerja dari negara ini menggantungkan hidupnya di Malaysia. Konsep Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sudah mendunia. Sedangkan tenaga kerja Malaysia (TKM) belum ada kita lihat sampai hari ini. Ini merupakan kegagalan dunia pendidikan kita juga. 

Melalui pendidikan sebuah bangsa akan mengalami kemajuan demokrasi yang luar biasa. Amerika Serikat sudah membuktikannya. Perpolitikan yang sehat dengan prinsip negara demokratis dibangun atas dasar kesadaran rakyatnya. Elite politik di negara Amerika Serikat tidak perlu mengeluarkan cost politik yang sangat besar dalam pemilu karena praktik money politics sudah tidak dijumpai lagi di sana. Rakyat akan melihat mana sosok yang berkualitas.

Sangat beda dengan negara kita. Negara kita terjerembab pada praktik money politics dalam sistem politik yang sedang kita bangun karena dukungan rakyatnya yang mau menerima suap dan sogok.  Melalui pendidikan sebuah bangsa akan mampu membumikan supremasi hukum yang mantap. Keadaban orang barat dalam berlalu lintas misalnya karena masyarakatnya sudah cerdas. Mereka sangat taat pada hukum berlalu lintas. Tidak ada negara yang bisa maju kalau hukumnya tidak dibenahi. Maka andil pendidikan sangat besar. Melalui pendidikan sebuah bangsa bisa mengembangkan teknologi untuk peradabannya sendiri. Kemajuan negara Jepang dan Korea Selatan dalam bidang Iptek bukan dengan sulap.

Restorasi Meiji sebagai konsep awal kemajuan Jepang bermula dari pendidikan. Jepang mengirim putera-puterinya untuk belajar di negara luar. Setelah pintar mereka tarik kembali ke negaranya. Inilah dasar pemikiran restorasi Meijii yang berhasil mengangkat harga diri Jepang di dunia saat ini. Melalui pendidikan sebuah bangsa akan bisa melepaskan dirinya dari ketergantungan pada bangsa asing. Bangsa Jepang sudah membuktikan bangsanya maju hanya karena dunia pendidikan yang sangat diseriusinya.

Eksploitasi alam negara kita saat ini merupakan kegagalan kita sendiri karena kita tidak mampu. Banyak perusahaan tambang beroperasi di negara kita karena kesalahan kita sendiri.Pendidikan ibarat sebuah jantung bagi negara. Pendidikanlah yang memompakan darah kemajuan pada sebuah bangsa. Jika jantung berhenti, maka kemajuan juga akan berhenti. Bangsa kita bisa merdeka karena pendidikan. Ini sudah dibuktikan. Perlawanan raja-raja daerah mengalami kegagalan karena kurangnya dukungan SDM. Perjuangan fisik yang dilakukan oleh raja-raja daerah tidak cukup ampuh untuk mengusir pemerintah kolonial Belanda karena kesalahan strategi atau karena mengandalkan otot dalam melawan pemerintah kolonial Belanda sehingga bangsa kita terus mengalami penjajahan yang sangat mengerikan. 

Model perjuangan fisik diganti dengan Orientasi perjuangan diplomasi dengan mengedepankan nilai-nilai intelektual (Pendidikan). Ini dimulai dari munculnya gerakan kebangkitan nasional (kebangkitan rasio) oleh sekelompok kecil tokoh-tokoh Indonesia kala itu. Pelopornya adalah manusia yang sudah berpendidikan. Mereka mengedepankan nilai pemikirannya dalam memperjuangkan bangsa ini supaya bebas dari penjajahan Belanda. Terlepas mereka mengecap pendidikan barat. Perjuangan mengedepankan intelektuallah melalui tokoh-tokoh terpelajar seperti Muhammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, Ir Sukarno, Sutan Syahrir bangsa kita mampu merdeka dari jajahan Belanda. Mereka terus melakukan loby dengan dunia luar dan meyakinkan mereka bahwa penjajahan Belanda merupakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan tidak sesuai dengan nilai kemanusiaan yang universal.

Apa yang dilakukan oleh Sukarno dkk merupakan bentuk perjuangan intelektual. Ini sangat ampuh dan membuat pemerintah kolonial Belanda kerepotan. Apa yang dilakukan dan diperjuangkan oleh Ki Hajar Dewantara sungguh sangat mulia. Beliau mempelopori pendidikan bagi rakyat miskin. Berdirinya perguruan Taman Siswa di Yogya merupakan momentum sekaligus ungkapan bagi masyarakat Indonesia kala itu untuk bisa mengecap pendidikan. Perjuangan Ki Hajar Dewantara sudah sepatutnya pantas kita contoh sebagai upaya memajukan bangsa ini melalui sektor pendidikan seperti yang dilakukan oleh beliau sejak dulu tanpa mengenal rasa lelah. Di tangan pemerintah kita saat ini, pendidikan kita mengalami keterpurukan. Padahal anggaran pendidikan yang mencapai 20 persen dari total APBN sudah seharusnya mampu mengangkat mutu pendidikan di negara ini. Ini tidak. Korupsi dalam dunia pendidikan justru menguat. Di mana-mana dana sertifikasi guru tertahan oleh pemerintah. Di satu sisi pemerintah pusat mengatakan sudah mencairkan dana sertifikasi kepada Dinas Pendidikan daerah. Tetapi semua guru melakukan unjuk rasa karena dana sertifikasinya belum cair. Ini hanya sekelumit masalah dari berbagai permasalahan di sekitar dunia pendidikan kita yang butuh solusi menyeluruh yang jadi renungan pada hari guru ini.

Bagaimana membangun dunia pendidikan yang lebih baik dan ditopang oleh kualitas guru yang mumpun sudah seharusnya tugas utama yang harus didahulukan oleh pemerintah kita saat ini. Tanpa pendidikan yang berkualitas, martabat sebuah bangsa tidak bisa terangkat. Satu-satunya jalan untuk memperbaiki nasib bangsa, kesejahteraan masyarakat hanyalah melalui pendidikan. Bagaimana menanamkan kesadaran kolektif bagi pemerintah supaya jangan lagi melihat pendidikan hanya sebelah mata merupakan hal yang sangat urgen untuk dilakukan. Sebab, hanya pendidikanlah satu-satunya jalan dalam mengangkat kehidupan sebuah bangsa pada peradaban yang lebih baik. Baik peradaban ekonomi, politik, hukum, sosial budaya dan teknologi. Tentu kata kuncinya dimulai dari komitmen pada perbaikan kualitas guru sebagai ujung tombak dan mesin penggerak utama untuk memajukan dunia pendidikan.  Pada akhirnya masa depan revolusi mental sangat tergantung kepada kualitas guru di negara ini. Semoga kualitas guru jadi skala prioritas utama dalam mengelola negara ini. (q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru