Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 10 Maret 2026

10 Tahun Samosir Belum Jadi Kabupaten Pariwisata

*Oleh Biqwanto
- Selasa, 01 Desember 2015 12:24 WIB
1.272 view
10 Tahun Samosir Belum Jadi Kabupaten Pariwisata
Selama 10 tahun masa kepemimpinan Mangindar Simbolon menjadi Bupati Kabupaten

Samosir, Sumatera Utara, dinilai belum membawa perbaikan signifikan bagi industri pariwisata Samosir dan Danau Toba.

“Selama dua periode (2005-2010 dan 2010-2015) kepemimpinan Bupati Mangindar Simbolon di Samosir belum bisa mengembalikan kejayaan pariwisata Danau Toba era 1980-an hingga awal 1990-an dimana wisatawan asing setiap hari memadati kawasan wisata Tuktuk dan Tomok, Samosir,” kata pelaku usaha pariwisata di Tuktuk dan mantan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Samosir Bernard Sidabutar di Tuktuk beberapa waktu lalu.

Sidabutar bercerita, pada masa 1980-an hingga awal 1990-an setiap minggu ada sejumlah penerbangan langsung dari Eropa ke Medan yang membawa ratusan wisatawan. Para wisatawan itu kemudian menghabiskan masa liburannya di tepian Danau Toba di Tuktuk, Tomok dan sekitarnya.

Peristiwa tenggelamnya kapal penumpang pariwisata Peldatari di Danau Toba pertengahan 1997 disusul resesi ekonomi yang menimpa Indonesia pada 1997-1998, menghentikan seluruh penerbangan langsung dari Eropa ke Medan, dan sejak saat itu hingga kini jumlah wisatawan dari Eropa yang berkunjung Samosir turun tajam hingga jumlahnya bisa dihitung dengan jari, kata Sidabutar.

Hal senada diakui Tunggul Sianipar, pengelola Hotel Ambaroba di Tuktuk, kalau sebelumnya hunian hotel didominasi asing, maka sejak krisis ekonomi hingga kini tamu hotel didominasi wisatawan domestik sekira 90 persen.

Untuk menjaga keberlangsungan kunjungan wisatawan asing khususnya dari Eropa, Annette Siallagan, pemilik Tabo Cotages di Tuktuk, mengatakan pihaknya harus bekerja keras melakukan pemasaran bekerja sama dengan sejumlah biro perjalanan di dalam negeri dan di Eropa.

“Kami masih bersyukur, tamu dari luar negeri ada saja setiap minggu berkat kerja sama dengan biro perjalanan,” katanya.

Sementara itu menurut Kepala Dinas Pariwisata Samosir Ombang Siboro, banyak hal telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Samosir untuk mendorong pertumbuhan industri pariwisata di daerah setempat, di antaranya melakukan promosi di 80 saluran TV di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, dan di 40 saluran TV di Bandara Hang Nadim, Batam.

Selain itu, melakukan promosi di majalah penerbangan (inflight magazine) di maskapai penerbangan Citilink, Airasia dan Lion Air.

“Dampaknya, dalam dua tahun terakhir ada kecenderungan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Samosir. Pada tahun 2014, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Samosir telah melebihi jumlah penduduk kabupaten ini,” kata Siboro dengan nada bangga, usai membuka lokakarya mengenai Desa Wisata di Tuktuk, Samosir, Selasa (24/11).

Dalam buku Samosir Dalam Angka 2015, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Samosir 171.087 orang pada tahun 2014, di antaranya 30.450 wisatawan mancanegara (sekitar 18 persen) dan 140.637 orang wisatawan Nusantara (sekitar 82 persen). Pada waktu yang sama penduduk Samosir berjumlah 123.065 orang.

Jumlah kunjungan itu meningkat dibanding tahun 2010 yang berjumlah 118.215 orang (20.849 orang wisatawan asing dan 97.366 orang wisatawan Nusantara), atau meningkat rata-rata sekitar 9 persen per tahun.

Siboro menguraikan, wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Samosir dominan asal Malaysia, disusul asal Singapura, China dan Eropa.

Sidabutar dan Sianipar mengakui pergeseran komposisi wisatawan asing yang berkunjung ke Samosir, sebelumnya dominan dari Eropa, belakangan ini kebanyakan berasal dari kawasan Asia.

Selain promosi, Pemkab Samosir juga melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat dan pelaku usaha pariwisata, juga peningkatan kualitas obyek dan sarana/prasarana penunjang wisata.

Pemerintah setempat melakukan sosialisasi dan pembinaan mengenai pelayanan yang baik bagi wisatawan, baik terhadap para penjual souvenir dan makanan serta pelayan-pelayan di hotel dan restoran.

“Hasilnya baik, para penjual souvenir dan barang dagangan sudah semakin sopan terhadap pengunjung dan wisatawan, sementara pelayanan di hotel dan restoran sudah bisa memenuhi standar yang diperlukan,” kata Siboro.

Perbaikan jalan juga diupayakan, terutama untuk mencapai obyek-obyek wisata. Jalan lingkar Samosir, katanya, sejak tahun 2016 akan menjadi jalan nasional, yang sebelumnya berkelas jalan provinsi, yang pengembangan dan perawatannya akan didanai APBN.

Variasi obyek wisata juga diupayakan, di antaranya membuka akses menuju air terjun Efrata di Harian, Samosir, mengupayakan jalan yang rusak menjadi sarana off-road bagi para pengendara penjelajah.

Lomba balap sepeda juga digiatkan dengan mengambil rute lingkar Samosir sejauh 127 km dilanjutkan rute Tele-Sidikalang-Simalem Resort sejauh 227 Km. Selain itu, kata Siboro, pada tahun 2016 akan dilaksanakan lomba Samosir Lake Toba Ultra Marathon sejauh 47 Km mengambil rute jalan lingkar Samosir, yang akan diikuti peserta dari berbagai negara.

Soal infrastruktur jalan, Siboro mengakui masih lemah. Beberapa jalur jalan yang tidak layak untuk kawasan pariwisata, seperti jalan lingkar Tuktuk yang saat ini sedang dalam perbaikan.

Jalan lingkar Samosir, di beberapa titik masih rusak dan sempit, misalnya tanah longsor di daerah Tolping, Ambarita, yang sudah berbulan-bulan belum diperbaiki. Di daerah Onan Runggu, tepatnya di Desa Tambun Sukkean ada sepenggal jalan rusak sekitar 3 Km yang selama kepemimpinan Mangindar Simbolon hingga kini tidak pernah diperbaiki, kata warga setempat.

Demikian halnya jalan penghubung Tomok dengan beberapa desa di pinggir pantai ke arah Onan Runggu, hingga kini masih rusak, terutama selama musim hujan terjadi lubang dan kubangan air, yang menyulitkan penduduk untuk beraktivitas.

“Padahal kalau jalan itu diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya, lalu di daerah Sitamiang dibangun dan ditembuskan hingga ke Onan Runggu, maka jalan lingkar Samosir di sepanjang tepian Danau Toba akan mendorong berbagai aktivitas yang menarik bagi pariwisata, misalnya naik sepeda mengelilingi Samosir sambil menikmati sejuknya danau,” kata Bernard Sidabutar.

Jalan lingkar Samosir di sepanjang Tomok menuju Onan Runggu berada di atas pebukitan, jauh dari tepi pantai, karena jalur di daerah Sitamiang hingga ke Onan Runggu adalah pebukitan dengan bebatuan cadas.

Hal lain yang patut diperhatikan yaitu jumlah hotel di Samosir (bintang dan melati) selama 10 tahun dari tahun 2005 hingga 2010 hanya bertambah 3 unit (dari 79 menjadi 82) dengan jumlah kamar meningkat 442 unit, dari 1.264 kamar menjadi 1.706 kamar.

“Fenomena ini tidak mencerminkan pertumbuhan industri pariwisata,” kata Sidabutar.

Soal angka kenaikan jumlah kunjungan wisatawan, juga dikritik Sidabutar, karena ia merasa tingkat hunian hotel di daerah ini selama bertahun-tahun tidak ada peningkatan.

Setelah diteliti dari data pariwisata Samosir Dalam Angka 2015, memang selama tahun 2010-2014 terjadi peningkatan jumlah wisatawan dari 118.215 orang menjadi 171.087 orang, namun pada periode yang sama tingkat hunian rata-rata hotel (hotel bintang dan melati) turun dari 15,47 persen pada tahun 2010 menjadi 12,99 persen pada tahun 2014.

“Data ini mengindikasikan memang terjadi penambahan kunjungan wisatawan namun tidak menginap di hotel-hotel di Samosir, atau kemungkinan mereka adalah wisatawan perjalanan sehari (one day trip),” kata Sidabutar.

Kontribusi pendapatan dari sektor pariwisata terhadap pendapatan asli daerah (PAD) tergolong kacil. Data yang dikumpulkan dari Dinas Pendapatan, Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Samosir, pada tahun 2014 pendapatan dari retribusi rekreasi dan olah raga, pajak hotel dan restoran sebesar Rp1,2 miliar, hanya sekitar 3,2 persen dari PAD tahun yang sama sebesar Rp36,85 miliar.

Bahkan dalam tabel Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Samosir tahun 2014, sektor pariwisata tidak dinyatakan secara spesifik. Namun kalau lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum dianggap mewakili pariwisata, maka kontribusinya terhadap PDRB hanya 4,50 persen pada 2010, meningkat menjadi 4,84 persen pada 2014, jauh dari kontribusi pertanian, kehutanan dan perikanan yang mencapai 53,37 persen pada 2010  dan 51,97 persen pada 2014.

Angka-angka ini menggambarkan bahwa otoritas Kabupaten Samosir belum berhasil menjadikan pariwisata sebagai sumber pendapatan utama masyarakat di daerah ini. (Ant/h)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru