Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 10 Maret 2026

Contemplatio Post-2015

* Oleh St Prof Albiner Siagian
- Jumat, 08 Januari 2016 12:01 WIB
1.382 view
Contemplatio Post-2015
Tahun 2015 telah berlalu dan tahun 2016 telah dijalani tanpa bisa ditunda. Sepanjang tahun 2015, kita mengalami banyak peristiwa. Bagi sebagian orang, tahun 2016 dinilai sebagai tahun penuh berkat. Tentu saja penilaian itu didasarkan atas banyaknya berkat, rejeki, kesehatan, atau kemudahan yang mereka terima sepanjang tahun itu. Di pihak lain, banyak juga yang menjuluki tahun 2015 sebagai tahun susah. Ini mengacu pada sulitnya sebagian orang menjalani hidup pada tahun itu, terutama untuk urusan mencari nafkah. Rejeki seolah-olah menjauh.

Untuk tingkat yang lebih luas, tahun 2015 juga dijuluki sebagai tahun tunaetika. Ini merujuk pada banyaknya kasus pelanggaran etika yang dilakukan oleh oknum tertentu atau pejabat sepanjang tahun 2015. Kalau julukan tahun korupsi, itu sudah melekat untuk setiap tahun, paling tidak untuk satu dasawarsa terakhir. Itu amat beralasan, karena dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, korupsi seakan-akan mewabah di seluruh penjuru negeri.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan tahun itu. Yang salah adalah bagaimana kita menjalaninya, bagaimana kita melakoni hidup padanya, bagaimana kita bereaksi terhadap aksi eksternal pada kurunnya. Pada dasarnya, cap jelek itu tidak berdampak baik bagi berbagai aspek kehidupan. Hal itu hanya menciptakan suasana pesimistik.

Saya percaya, kalaupun banyak oknum yang melakukan korupsi, pastilah masih lebih banyak yang mengharamkannya. Demikian juga halnya dengan pelanggaran etika. Meskipun banyak kasus pelanggaran etika diberitakan di berbagai media massa, tentulah masih jauh lebih banyak yang menjunjung tinggi etika. Mengapa kita tidak sebut saja, misalnya, tahun 2016 sebagai tahun berkat, tahun penuh harapan, tahun taat hukum, atau tahun melek etika? Itu akan lebih baik daripada julukan sebaliknya.

Dalam konsep pola pikir bertumbuh (growth mindset), penganutnya percaya bahwa pola pikir dapat bertumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik. Itu membutuhkan media tumbuh yang tepat. Salah satunya adalah pikiran positif. Pola pikir ini juga didukung oleh aliran psikologi positif yang meyakini bahwa mental positif dan optimistik adalah kunci untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan. Memberi stigma negatif terhadap waktu, orang, atau peristiwa hanya akan menumbuhkan mental negatif dan pesimistik.

Mari kita beranjak kembali ke awal tahun 2016 itu. Walaupun sinyalemen saya kurang didukung oleh data yang sahih, suasana hati kebanyakan orang Kristen, khususnya, lebih tenang, lebih damai, lebih ramah, lebih bersahabat, dan lebih optimistik pada penghujung tahun 2015. Hal yang sama juga berlaku untuk penghujung tahun-tahun sebelumnya. Itu, antara lain, adalah akibat suasana perayaan natal pada setiap akhir tahun. Akan tetapi, masih menurut sinyalemen saya, perilaku positif itu perlahan-lahan surut pada awal tahun hingga kembali ke perilaku biasa sehari-hari.

Karenanya, saya mengajak kepada umat Kristen untuk tetap menjaga dan memertahankan suasana hati yang baik itu untuk persemaian subur bagi tumbuhnya pola pikir positif. Kemudian, itu akan membuahkan sikap mental positif. Akhirnya, itu semua akan terejawantah dalam bentuk etos kerja yang baik dan tangguh dan perilaku positif. Maka, dengan itu akan berubahlah mental pendendam menjadi pemaaf, mental pengeluh menjadi pengucap syukur, mental penggelisah menjadi penyabar, mental pemalas menjadi perajin, mental koruptor menjadi kontributor, mental penguasa menjadi pelayan, mental boros menjadi hemat, mental destruktif menjadi konstruktif, mental gila hormat menjadi rendah hati, mental curang menjadi adil, mental pembenci menjadi pengasih, dan masih banyak lagi perubahan ke mental positif lainnya.

Untuk memulainya, marilah kita, masing-masing, memilih salah satu resolusi kebaikan yang akan kita lakukan pada tahun 2016. Ambil saja salah satu contoh kebaikan yang akan diwujudkan pada tahun 2016: memaafkan. Niscaya, dengan gemar memaafkan, akan tercipta kelegaan, ketenteraman, kedamaian, suka cita, kesehatan, semangat kerja, dan olehnya berkat akan mengalir. Dan, yang tak kalah pentingnyaakan tumbuh puluhan, ratusan, ribuan, jutaan, bahkan miliaran kebaikan. Marilah kita renungkan: Contempaltio post-2015!. ( * Guru besar USU dan guru etos dan revolusi mental bersertifikat/ )
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru