Danau Toba adalah anugerah Tuhan yang sangat agung buat bangsa ini. Terlepas bagaimana proses alami terjadinya Danau Toba oleh para pakar yang disebut dengan ledakan Gunung Toba, Danau Toba merupakan sebuah panorama alam yang sangat bagus di negara ini. Dulu airnya sangat bersih, natural. Kini kondisinya bisa dibilang sangat memprihatinkan dengan munculnya berbagai aktivitas ekonomi. Berbagai pencemaran lingkungan terjadi di sekitar Danau Toba. Bahkan Danau Toba berubah jadi toilet raksasa yang menampung semua sampah dan limbah karena ketidakpedulian kita juga.
Apa yang kita lakukan kepada Danau Toba dengan terganggunya ekosistem Danau Toba merupakan kesalahan kita juga. Kemudian dari sisi political will (kemauan politik) yang baik, pemerintah terkesan apatis mengenai masa depan Danau Toba. Kini paradigma itu telah berubah, kita sangat mengapresiasi pemerintah saat ini, dan juga sebelumnya yang sudah memberikan dukungan penuh dalam bentuk kebijakan anggaran dan kebijakan sistem untuk pembangunan Danau Toba. Ditetapkannya Peraturan Presiden RI Nomor 81 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Danau Toba dan Sekitarnya, sebelumnya juga melalui Peraturan Pemerintah RI Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional menetapkan Danau Toba sebagai salah satu Kawasan Strategis nasional (KSN). Langkah ini dari sisi regulasi pada era SBY juga sudah sangat baik. Kini, masa depan itu mulai terjawab dan tugas kita bersama untuk mengelola masa depan itu dengan memberikan kontribusi yang positif, sekecil apapun itu.
Masa depan Danau Toba terus jadi perhatian kita. Pasca akan terbentuknya Badan Otoritas Pariwisata Danau Toba ada harapan tentang masa depan Danau Toba lebih baik, sehingga Danau Toba bisa mendatangkan kesejahteraan, kemajuan dan juga keadilan bagi masyarakat di sekitar Danau Toba. Konsep pembangunan Danau Toba kini semakin jelas dan bagus dengan adanya Badan Otoritas Pariwisata Danau Toba yang dibentuk oleh pemerintah yang akan fokus untuk mengelola Danau Toba agar Danau Toba bisa jadi salah satu pusat destinasi wisata di negara ini dengan membuat sebuah terobosan baru menjadikan Danau Toba sebagai salah satu wisata berkelas dunia.
Tentu menjadi sebuah pertanyaan, bisakah Danau Toba disulap dengan sebuah manajemen kepariwisataan profesional sehingga Danau Toba akan jadi salah satu pusat pariwisata berbasis alam (ecowisata) berkelas dunia? Tentu awalnya dari komitmen. Komitmen disertai dengan tindakan. Tindakan dipilih dan dievaluasi agar tindakan itu benar-benar terukur. Kemudian implementasi, dan implementasi memberikan dampak (outcome). Seperti itulah siklusnya. Saat ini sudah ada komitmen untuk membangun Danau Toba dengan adanya Badan Otoritas Pariwisata Danau Toba yang akan fokus melakukan berbagai rencana strategis dalam pembangunan Danau Toba. Dengan adanya Badan ini, akan fokus pada apa yang akan dilakukan. Tentu berbagai kajian strategis dan kajian akademis akan dilakukan dengan tujuan Pembangunan Danau Toba itu menuju pariwisata kelas dunia berkelanjutan.
Harapan masyarakat akan keberhasilan pembangunan Danau Toba karena dengan adanya Badan otorita Pariwisata Danau Toba ini semakin menguat. Tentu harapan ini perlu direalisasikan bagaimana supaya Danau Toba bisa terwujud, terlebih Menko Kemaritiman Rizal Ramli menyebut dengan sebutan Monaco of Asia. Langkah apa yang akan dilakukan, masih kita tunggu. Tetapi harapan itu harus kita tumbuhkan, atau optimisme perlu kita lakukan bagaimana supaya Danau Toba ini bisa jadi salah satu destinasi wisata berkelas dunia di negara ini.
Strategi untuk membangun Danau Toba tentu tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja. Perlu dukungan semua stakeholder bagaimana supaya Danau Toba ini nantinya berhasil diwujudkan. Manajemen profesional perlu dilakukan bagaimana supaya Danau Toba sebagai salah satu destinasi wisata di negara ini terwujud dengan baik. Untuk itu, dalam pengembangan Danau Toba, ada beberapa hal yang musti dilakukan:
Pertama, Danau Toba harus dibangun dengan prinsip pembangunan pariwisata berkelanjutan. Pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dapat dikenali melalui prinsip-prinsipnya yang dielaborasi dari berbagai nilai. Prinsip-prinsip tersebut, antara lain partisipasi, keikutsertaan para pelaku (stakeholders), kepemilikan lokal, penggunaan sumber daya secara berkelanjutan, mewadahi tujuan-tujuan masyarakat, perhatian terhadap daya dukung, monitor dan evaluasi, akuntabilitas, pelatihan serta promosi.
Kedua, adalah menciptakan keseimbangan antara kebutuhan wisatawan dan masyarakat. Kepentingan pemberdayaan ekonomi masyarakat adalah tujuan yang didasarkan atas kerelaan untuk membentuk kualitas destinasi yang diharapkan oleh wisatawan. Keseimbangan tersebut akan dapat terwujud jika semua pihak dapat bekerjasama dalam satu tujuan sebagai sebuah komunitas yang solid. Komunitas yang dimaksud adalah masyarakat lokal, pemerintah lokal, industri pariwisata dan organisasi kemasyarakat yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat di mana destinasi pariwisata dikembangkan (I Gusti Bagus Rai Utama). Kita berharap, pembangunan Danau Toba harus fokus untuk mengembangkan ekonomi masyarakat yang berkeadilan. Dengan demikian efek besar pembangunan ekonomi akan mendorong pemerataan pendapatan yang adil dalam masyarakat.
Ketiga, pembangunan dan perubahan karakter. Karakter masyarakat tentu harus diubah dengan berbagai pendekatan dan bahkan pendampingan agar berbaur dengan budaya global dan mampu beradaptasi dengan industri pariwisata yang modern. Artinya, masyarakat perlu diajak berdialog bagaimana berinteraksi dengan masyarakat global. Sosialisasi dalam bentuk penyuluhan ini bisa dilakukan oleh pemerintah. Bagaimana caranya tentu itu tugas pemerintah, bisa dengan Focus Group Discussion (FGD).
Keempat, melakukan pemetaan khusus dengan analisis SWOT misalnya. Apa saja kekuatan, hambatan, peluang dan tantangan dalam menjadikan Danau Toba sebagai salah satu pusat wisata dunia. Sebagai contoh, kalau kita lakukan komparasi dengan Bali, mengapa Bali jadi tujuan wisata dunia, karena penerbangan ke Bali bisa langsung dari semua negara. Misalnya, Australia-Bali, Singapura-Bali, Malaysia-Bali. Untuk itu, saatnya dipikirkan bagaimana memberdayakan Bandara Silangit dan Sibisa sebagai bandara yang mampu beroperasional secara internasional, minimal mampu menampung pesawat dalam kapasitas besar seperti Airbus. Ini akan mendukung akses yang cepat ke Danau Toba. Dengan demikian, masyarakat global ingin datang ke Danau Toba.
Kita harus mampu melihat peluang ekonomi dari sektor pariwisata. Dalam hal ini Danau Toba jadi andalan untuk membangun pariwisata yang berkelanjutan. Jika kita lihat pernyataan Menteri Arief Yahya pada berbagai kesempatan selalu menjelaskan, pemerintah berencana menjadikan sektor pariwisata sebagai andalan perolehan devisa. Pasalnya, menurut Menteri Arief, pariwisata Indonesia dinilai memiliki keunggulan dari sisi destinasi dan harga. Tidak tanggung, dalam lima tahun ke depan pemerintah menetapkan target kunjungan 20 juta wisatawan asing, dengan target pemasukan devisa Rp 260 triliun. Angka tersebut menurut Arief sangat wajar, mengingat selama 2014 sektor pariwisata menyumbang devisa sebesar US$ 10,69 miliar atau setara dengan Rp 136 triliun.
Optimisme Menteri Pariwisata Arief Yahya tidaklah berlebihan. Industri pariwisata Indonesia sudah memiliki pertumbuhan yang bagus yaitu 7,2 persen per tahun. Angka ini bahkan lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan pariwisata dunia yang hanya mencatat angka sebesar 4,7 persen. Dengan jumlah turis dunia yang mencapai 1,3 miliar orang, maka masih ada potensi untuk meningkatkan pertumbuhan kunjungan wisata lebih cepat.
Itulah sebabnya terbentuknya Badan Otoritas Pariwisata memberikan harapan baru dengan paradigma baru berpikir yang lebih luas, visioner dan terintegral. Dukungan politik dan anggaran serta dukungan manajemen telah ada. Saatnya peluang ini kita tanggapi untuk membumikan Danau Toba sebagai salah satu sentra pariwisata kelas dunia. Kita mampu untuk itu, tinggal lagi komitmen dan dukungan semua stakeholder yang penting.
Satu hal yang perlu jadi catatan kita bersama pembangunan Danau Toba sebagai salah satu destinasi wisata kelas dunia harus mengacu pada kelestarian ekosistem Danau Toba, pelestarian lingkungan hidup, menjaga nilai budaya Batak yang sangat arif itu, pertumbuhan ekonomi yang adil dan merata, serta mampu mendorong kesejahteraan bersama dan bukan kesejahteraan kelompok maupun individu. Untuk itu, masa depan Danau Toba akan lebih baik dari sekarang dan juga masa sebelumnya pada saat-saat jaya. Danau Toba yang akan datang adalah sebuah program mulia untuk kesejahteraan masyarakat di sekitar Danau Toba. Untuk itu, saatnya dipikirkan strateginya, diimplementasikan sebagai upaya untuk menjadikan Danau Toba sebagai salah satu ikon pariwisata kelas dunia, bahkan kita sudah terlanjur mengatakan dengan sebutan Monaco of Asia. Semoga!!. (Penulis adalah: Pemerhati Lingkungan Danau Toba/Sekretaris DPD Partai Demokrat Provinsi Sumut/q)