Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 24 Februari 2026
Laporan Perjalanan Wartawan SIB Relieve Pasaribu Bersama Silk Air ke Negeri Gajah Putih

Adu Kuat Strategi, Thailand Targetkan32 Juta Turis di 2016 Versus RI Hanya 20 juta 2019

- Minggu, 17 April 2016 14:47 WIB
987 view
Adu Kuat Strategi, Thailand Targetkan32 Juta Turis di 2016 Versus RI Hanya 20 juta 2019
SIB/Dok
Inilah foto udara eksotisnya wisata pantai dan Laguna di Phuket yang menjadi andalan Thailand dan ramai dikunjungi turis Eropa, Amerika dan Jepang. Ratusan Hotel mewah terisi penuh hampir setiap tahun seperti yang terjadi di Hotel Asoka yang sempat dinikm
Adu kuat strategi  meraih jumlah wisatawan mancanegara mulai terlihat ketat sejak beberapa tahun terakhir dan puncaknya menjelang pemberlakuan pasar bebas ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN  (MEA). Indonesia yang memiliki berbagai varian objek wisata alam terindah di seluruh negara ASEAN,  selama bertahun-tahun malah tertinggal jauh dari Thailand, Malaysia dan Singapura. Musababnya adalah kurang pedulinya pemerintah Indonesia di masa itu terhadap pembangunan sektor pariwisata. Padahal banyak negara di dunia menjadikannya sebagai komoditas industri terseksi yang dijadikan penyokong dan andalan pengumpul devisa negara sekaligus penyerap banyak tenaga kerja.

 Sebagai gambaran Menteri Pariwisata Thailand Kobkarn Wattanavrangkul dalam pernyataannya  seperti dikutip channelnewsasia.com, menargetkan jumlah kunjungan wisatawan ke negeri Gajah Putih itu naik ke angka 32 juta tahun 2016. Angka itu bahkan mencapai hampir separuh penduduk Thailand yang hanya 65,1 juta jiwa (per Juli 2015). Bandingkangkan dengan Indonesia yang populasi penduduknya  255,5 juta jiwa (per Juli 2015) hanya mampu meraih jumlah wisatawan yang berkunjung hampir 10 juta di tahun 2015.

Sebagai negara dengan kunjungan wisata terbesar di ASEAN, Thailand selama bertahun-tahun telah mendapatkan devisa sangat besar dari sektor pariwisata sehingga mendongkrak pendapatan negara dan masyarakatnya secara signifikan.  Pemerintah Thailand sendiri menargetkan pendapatan sektor pariwisata hingga 2,3 triliun baht atau sekitar Rp 880 triliun dari target 32 juta  wisatawan tahun 2016 ini.

Untuk mengejar ketertinggalan selama beberapa tahun itu Presiden Jokowi pun menargetkan 20 juta wisatawan hingga tahun 2019 mendatang. Jokowi melakukan strategi percepatan pembangunan berbagai infrastruktur pendukung industri pariwisata di 10 daerah yang sebelumnya telah ditetapkannya sebagai 10 destinasi nusantara, salah satunya Danau Toba yang dikembangkan dengan alokasi APBN tahap pertama Rp 10 triliun yang nantinya dikelola  Badan Otorita untuk  penciptaan aksesibilitas jalan, air bersih, pelabuhan, marina, termasuk jaringan internet  dan lain-lain. Pemerintah juga mendorong swasta untuk membangun hotel, restoran dan fasilitas hiburan di objek wisata. Pemerintah Jokowi juga membuka bebas visa bagi sejumlah negara hingga kini menjadi 45 negara. Hal itu untuk mendukung target kunjungan wisatawan sebanyak 20 juta.

Wartawan SIB Relieve Pasaribu  yang  diundang maskapai penerbangan Silk Air kantor cabang Medan pun menyaksikan langsung betapa ramainya sektor kepariwisataan di Thailand, meskipun negeri itu hanya mengandalkan objek wisata pantai. Ada sejumlah wisata pinggir pantai Thailand yang sangat terkenal di dunia mengalahkan Bali yaitu Patong Beach, Bangla Road, Kata Beach, Karon View Point, Wat Chalong, Big Buddha, Promthep Cape, Old Phuket Town dan Phi Phi Island. Objek yang terakhir ini bahkan sering dijadikan lokasi syuting film Holywood antara lain OO7 James Bond. Terakhir adalah lokasi film The Beach yang dibintangi Leonardo Di Caprio. 

Selain di wilayah Phuket, jutaan turis mancanegara juga setiap tahun mengunjungi Kota Bangkok sebagai pusat pemerintahan, budaya dan sejarah Thailand.  Salah satu yang paling banyak dikunjungi adalah komplek Grand Palace yang dibangun  tahun 1782 dan pada awalnya berfungsi sebagai istana bagi para raja Thailand. Bangunan Grand Palace memadukan unsur arsitektur asli Thailand dan arsitektur bergaya barat. Bangunan lain yang bisa anda temukan di dalam kompleks Grand Palace adalah kuil yang dianggap paling sakral di Thailand. Di kuil itu anda bisa melihat  patung Buddha setinggi 66 cm. Patung Buddha itu dibuat pada abad ke 14 dan dianggap sebagai patung Buddha yang paling suci di Thailand.

Ada juga Pattaya yang terkenal bagi yang ingin menikmati panorama pantai serta  Songkla dan Hatyai yang berada di provinsi bagian Utara Thailand yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Dalam kunjungan kali ini Silk Air menjalin kerjasama dengan Cassia Hotel dan Asoka Hotel yang berdiri di laguna atau teluk pinggir Laut Andaman yang eksotis di wilayah Phuket. Di kawasan laguna itu pemerintah Thailand sepertinya mengkhususkan wisatawan dari Eropa, AS dan Jepang  yang umumnya berkantong tebal dan penikmat objek wisata pasir yang sepi dari keramaian penduduk.  Di kawasan itu juga ada puluhan spa dengan arsitektur tradisional Thailand yang suasananya hening meskipun banyak wisatawan rombongan atau  pasangan pengantin baru yang lulur, pijat dan berendam di air yang sejuk dengan rempah-rempah ala Thailand. 

Di jalanan kota-kota di kawasan Phuket juga terlihat ramai turis berjejal di café-café, mall hingga berlarian atau tiduran di pinggir pantai. Tak terhitung berapa uang yang dikeluarkan setiap turis selama tinggal berhari-hari di negara itu untuk makan, minum, menikmati surfing, pijat di Spa elit atau hanya pinggir pantai. Bahkan bisnis penyewaan sepedamotor dan sepeda sport pun laris manis setiap hari.

Dengan melihat langsung betapa ramainya turis mancanegara selama beberapa tahun terakhir ini, maka  pantas saja sektor pariwisatanya telah mampu menyumbang 10 persen dari produk domestik bruto Thailand sekaligus menjadi salah satu sumber pendapatan yang sangat diandalkan dari sisi perekonomian. Thailand juga mengalahkan negara-negara ASEAN dari sisi industri pariwisata.

Di sisi lain, Silk Air yang merupakan maskapai penerbangan swasta Singapur, jeli melihat daya tarik  Thailand sebagai peluang bisnis.  Misi anak perusahaan Singapore Airlines itu tentu untuk  memanfaatkan situasi tersebut demi peningkatan tingkat isian penumpangnya atau seat load factor (SLF) agar bisa mencapai rata-rata 100 persen dengan menggaet wisatawan Indonesia termasuk Sumatera Utara dan provinsi terdekat.

Salah satu menunjang promosi itu Silk Air sengaja mengundang hanya satu jurnalis dan satu perwakilan agen travel dari Sumatera Utara,  Balikpapan, Semarang dan Makasar untuk menikmati langsung indahnya panorama dan budaya Thailand yang sangat eksotis itu dan mewahnya hotel-hotel berbintang.
Mely selaku senior sales Silk Air Medan saat berbincang-bincang di kantornya di Hotel Polonia Medan mengakui, kerjasama dengan sejumlah hotel di Thailand adalah salah satu strategi mencari pasar baru yang muaranya adalah mendapatkan penumpang yang banyak secara konsisten sehingga rata-rata SLF Silk Air tetap tinggi.

Saat ini lanjutnya Silk Air melayani penerbangan dari Bandara Kualanamu dengan frekwensi 2 kali setiap hari. Sedangkan dari Bandara Changi Singapura ke Phuket frekwensinya 6 hingga 7 kali per hari setiap hari. Jika strategi ikut membantu mempromosikan hotel di Thailand itu berhasil  maka otomatis jumlah penumpangnya ikut terdongkrak sehingga frekwensi penerbangan Silk Air dari kota-kota Indonesia ke Thailand akan ditambah.

Disebutkan, tarif penerbangan dari Medan ke Singapura rata-rata Rp 1,9 juta per orang (pulang pergi). Total tarif penerbangan dari Medan-Singapura-Phuket antara Rp 2,7 juta hingga Rp 2,9 juta dalam kondisi normal. Menurut Mely, tarif penerbangan ke rute tersebut  tentu bisa lebih murah jika melakukan perjalanan dengan paket wisata.

Ibarat pepatah sekali menyelam minum air, tentu dengan ramainya turis Indonesia bepergian ke Thailand tentu otomatis akan berdampak positif juga ke negara Singapura sebagai tempat persinggahan pelancong dari mancanegara untuk sekedar belanja.

Prakiraan pengunjung internasional di kawasan Asia Pasifik 2016-2020 yang akan dirilis oleh PATA pada semester pertama 2016 adalah rata-rata tingkat pertumbuhan tahunan di kawasan ASEAN. Temuan itu mendeskripsikan, kawasan ASEAN bakal  akan menerima 115 juta kunjungan wisatawan di tahun 2016. Di tahun 2020 akan menerima 147,8 juta kunjungan.

Bahkan pertemuan tingkat tinggi tahunan menteri-menteri pariwisata ASEAN pada ASEAN Tourism Forum (ATF) 2016 pada bulan Januari lalu di Manila, Filipina, mengumumkan peluncuran rencana 10 tahun untuk meningkatkan pemasaran wilayah ASEAN sebagai destinasi tunggal dan meningkatkan kontribusi pariwisata kepada perekonomian kawasan sebesar 15% pada 2025.

Dalam rencana 10 tahun itu disebutkan, negara-negara ASEAN akan mengintensifkan promosi dan pemasaran, diversifikasi produk-produk pariwisata termasuk pengembangan destinasi-destinasi sub-regional, investasi atraksi pariwisata, mempromosikan sistem sertifikasi standar pariwisata ASEAN, ekspansi konektivitas dan infrastruktur, dan meningkatkan partisipasi masyarakat lokal dalam pariwisata.

Pemerintah daerah di Sumut terutama yang memiliki objek wisata andalan harus bangun dan membuka mata untuk memfokuskan pembangunan objek wisatanya dengan mengalokasikan anggaran lebih besar untuk  perbaikan infrastruktur, biaya promosi  dan peningkatan sumber daya manusia pelaku wisata. Soalnya apa yang sudah dimulai Jokowi di awal pemerintahannya harus didukung penuh dengan aksi,  bukan sekedar lips service apalagi wacana. Soalnya seluruh negara ASEAN sudah berlomba menggaet sebanyak-banyaknya wisatawan datang ke negaranya. Jangan nanti malah masyarakat Sumut yang menjadi pelancong tetap ke negara-negara itu, termasuk bupati/wali kota dan legislatifnya, sementara objek wisata di Sumut tetap sepi pengunjung. (c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru