Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 24 Februari 2026
Pemerhati Budaya dan Wisata Ir Asner Silalahi MT:

Peranan Gereja dalam BOPTD Mirip Peranan Pura di Bali: Wisata Top dan Maju

- Minggu, 12 Juni 2016 14:52 WIB
232 view
Peranan Gereja dalam BOPTD Mirip Peranan Pura di Bali: Wisata Top dan Maju
Medan (SIB)- Peranan dan dukungan kalangan gereja, baik para pemimpin maupun barisan rohaniawan  hingga  jemaat gereja dari semua denominasi dan sekte rumpun nasrani terhadap Badan Otorita Pariwisata Danau Toba (BOPDT), akan mendorong tata dan model kelola wisata Danau Toba lebih komperehensif sehingga mempercepat perkembangan dan popularitasnya sebagai objek atau destinasi wisata, baik dalam skala wisata nasional maupun internasional.

Pemerhati budaya Batak dan wisata Danau Toba Ir Asner Silalahi MT yang juga praktisi jasa infrastruktur nasional, menyatakan peran atau keterlibatan gereja dalam kancah dan kiprah BOPDT nantinya juga akan mendorong penjajakan dan pencarian figur baru sebagai tokoh sentral di kalangan semua komunitas Batak, baik untuk penyatuan misi dan persepsi pembangunan kawasan Danau Toba, maupun penyatuan visi serta penggalangan potensi sumber daya manusia setempat,

"Pesan Menteri Pariwisata RI agar gereja-gereja berperan aktif dan mendukung penuh BOPDT, bukan wacana baru sebenarnya. Kalau tak salah Presiden Soeharto ketika menghadiri Sinode 125 Tahun HKBP di Sipoholon (1986), bersama isterinya Ibu Tien Soeharto, juga sempat berpesan agar tokoh-tokoh dan pemimpin gereja, khususnya jajaran HKBP, bersatu memajukan pariwisata Danau Toba sebagai bagian dari program Pembangunan Lima Tahun (Pelita) ketika itu. Tapi yang jelas,  pesan atau harapan Menpar agar gereja berperan dalam pembangunan wisata Danau Toba atau BOPDT ini mirip peranan kalangan Pura atau tokoh agama Hindu dan komunitas budaya Pecalang di Bali. Sehingga, pariwisata di Bali itu  top populer dan terus berkembang, bahkan objek-objek pura terus dimanfaatkan sebagai objek kunjungan wisata. Di Danau Toba kelak juga akan begitu. Bahkan, peranan dan dukungan gereja dalam BOPDT ini akan mendorong semua konsep dan program kelola Danau Toba berlandaskan plus bermisikan prinsip 'Habonaron do Bona' (kebenaran yang utama)," papar Asner Silalahi kepada pers di Medan, Selasa (7/6).

Dia menegaskan, harapan Menteri Pariwisata RI agar kalangan gereja mendukung BOPDT (sebelumnya disebut BODT = Badan Otorita Danau Toba), ternyata mendapat respon positif dari kalangan nasrani atau rohaniawan gereja di daerah ini, antara lain Pdt Anthoni Manurung STh dari HKBP Padang Bulan, Pdt Husai Abednego Gultom dari Gereja Perhimpunan Injili Baptis Indonesia (GPIBI) Tuntungan-Pancurbatu, dan rohaniawan GBKP Pt Ir Jonathan Ikuten Tarigan.

Selain kalangan gereja, dukungan terhadap harapan Menteri Pariwisata itu juga direspon positif  sejumlah warga Batak yang terbilang 'tokoh' di masing-masing komunitas atau sektornya seperti politisi, pengusaha, profesional, birokrat, juga kalangan pemuda gereja seperti GAMKI, GMKI, AMPIBI, dll.

Secara terpisah, Pdt Anthoni Manurung menyebutkan peranan gereja dalam pembangunan wisata Danau Toba akan mendorong kawasan Danau Toba berfungsi  sebagai salah satu objek wisata rohani berskala internasional. Soalnya, kawasan Bukit Sibaganding di Parapat sudah sempat dicanangkan dewan gereja Asia (Chucrh Conference of Asia-CCA) ketika Parapat dan Siantar (juga Medan) menjadi tuan rumah konferensi gereja se-Asia pada 2007.

Lalu, Pdt Husai Abednego Gultom menilai peranan gereja dalam kelola wisata Danau Toba juga akan menjamin atau menjaga komitmen moral dan mental masyarakat untuk pelestarian lingkungan atau alam Danau Toba sebagai objek warisan Tuhan yang perlu dan harus ditata dan dijaga agar tetap utuh. Tokoh GAMKI Sumut Ir Ronald Naibaho dan Jadi Pane SH juga mencetuskan kalangan gereja sebenarnya sejak awal sudah diajak dan didorong untuk berperan aktif dalam agenda pembangunan wisata Danau Toba untuk menjamin pelestarian budaya berbasis 'Theo-Cultur'.

"Kalau Bali kemudian populer dengan julukan 'Pulau Dewata Seribu Pura' karena peran dan pemberdayaan pura-pura serta para tokoh atau pemuka Hindu di daerah itu, maka kelak Danau Toba juga akan populer dan berkembang dengan julukan 'Surga Alam Wisata Rohani' sebagai kombinasi panorama alam dengan pesona budaya dan gereja yang melegenda. Julukan ini sekaligus mendorong komitmen untuk menjaga kelestarian alam dan budaya Batak dengan pola Habonaron do Bona itu. Sebenarnya, dulu sudah ada julukan Danau Toba adalah 'Surga Indah Tanah Batak Nan Tiada Tara', ketika dicetuskan budayawan Ninuk Kleden pada 1950-an. ," papar Asner sembari menunjukkan satu artikel edisi 1983, di sela-sela rapat persiapan Seminar Danau Toba, yang akan digelar Partungkoan Marga Batak (Parmaba), dalam waktu dekat ini. (A04/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru