Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 24 Februari 2026

Solo Belum Diminati Turis Asing

- Minggu, 15 Oktober 2017 12:54 WIB
553 view
Solo Belum Diminati Turis Asing
Solo (SIB) -Pengembangan sektor pariwisata di Solo Raya atau eks Karesidenan Surakarta masih menghadapi banyak kendala untuk dapat mendongkrak kunjungan wisatawan asing. Karena itu, harus ada upaya kolaborasi konkret dari semua pemangku kepentingan, pemerintah pusat dan daerah, swasta, dan badan usaha milik negara untuk mendatangkan wisatawan mancanegara ke Solo Raya.

Hal itu mengemuka dalam diskusi kelompok terarah Collaborative Destination Development 2017 di Solo, Jawa Tengah, Kamis (5/10). Diskusi dihadiri pelaku biro perjalanan pariwisata dan perhotelan, wakil pemerintah kabupaten/kota se-Solo Raya, dan Angkasa Pura I. Daerah eks Karesidenan Surakarta meliputi Solo, Sukoharja, Klaten, Boyolali, Sragen, Karanganyar dan Wonogiri. Dalam diskusi ini terungkap sejumlah kendala, seperti aksesibilitas darat dan udara, minimnya promosi, dan lemahnya dukungan pemerintah.

Jumlah wisatawan mancanegara melalui bandara Adi Soemarmo pada 2016 sebanyak 6.224 orang. Untuk 2017, selama Januari-Agustus sekitar 4.672 orang.

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Solo Daryono menyatakan, meski Solo Raya memiliki potensi wisata yang bagus, tetapi sektor pariwisata belum menjadi fokus utama dalam garapan pemerintah setempat. "Potensinya bagus-,bagus, tetapi promosinya masih kurang", kata Daryono.

Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Aksesibilitas Udara Robert D Waloni menilai potensi wisata yang dimiliki Solo Raya, antara lain Museum Batik Danarhadi, Candi Cetho dan Sukuh, Kampung Batik Laweyan, Puro Mangkunegaran, dan Keraton Surakarta. Ada juga situs warisan dunia, yaitu situs manusia purba Sangiran di Sragen, serta dekat dengan Candi Prambanan.

Perlu ada kolaborasi pemangku kepentingan, yaitu pemerintah daerah di Solo Raya dan pusat, swasta, dan BUMN untuk mendatangkan wisatawan mancanegara. "Harus ada kolaborasi, tidak bisa PT Angkasa Pura I jalan sendiri, hotel sendiri, operator wisata dan pemerintah jalan sendiri-sendiri. Kalau sendiri-sendiri tidak berhasil, perlu kolaborasi", ujarnya.

Soal aksesibilitas, menurut dia, harus berani dibuka penerbangan langsung internasional menuju Bandara Andi Soemarmo, Solo. Negara potensial, antara lain India, China, dan Korea Selatan. Para pemangku kepentingan di Solo Raya bisa memberikan kontribusi kepada maskapai penerbangan. "Membuka penerbangan internasional baru ke Solo harus dilakukan. Ini langkah konkret yang bisa dilakukan untuk mendatangkan wisatawan", katanya.

General Manager Garuda Indonesia Kantor Cabang Solo Aryo Wijoseno mengatakan, pembukaan rute penerbangan internasional tergantung pada suplai dan permintaan. Saat ini permintaan untuk penerbangan  internasional menuju Solo masih jarang. Dia mengusulkan Solo Raya perlu berkolaborasi dengan Yogyakarta.

Asisten Administrasi Umum Setda Solo, Eny Tyasni Susana, setuju soal kolaborasi antardaerah. "Solo dan kabupaten di sekitar juga harus menciptakan inovasi wisata agar diminati wisatawan asing", katanya. (Kompas/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru