Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 24 Februari 2026

Menyusuri Pantai-pantai 'Kosong' nan Indah di Lombok

- Minggu, 10 Maret 2019 16:23 WIB
489 view
Menyusuri Pantai-pantai 'Kosong' nan Indah di Lombok
SIB/CNN Indonesia/Tiara Sutari
Pantai Kuta Mandalika.
Lombok (SIB) -Jam masih menunjukkan pukul 09.00 WIB ketika pesawat yang ditumpangi mendarat di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Majid atau dikenal juga dengan nama LIA (Lombok International Airport).

Bersama 20 wartawan lain yang datang atas undangan famtrip Kementerian Pariwisata, langsung menuju ke arah parkiran mobil tempat bus yang menjemput untuk berkeliling Lombok selama tiga hari setelah kurang lebih enam bulan kawasan ini berbenah dari gempa.

Hal pertama yang saya sadari ketika tiba di Lombok adalah cuacanya yang cukup terik. Masih pagi, tapi kulit saya langsung perih terpapar kuatnya sinar matahari. Rasanya ingin buru-buru masuk ke dalam bus berpendingin udara di dalamnya.

Selain udaranya yang gerah, ekspektasi saya akan Lombok masih dibilang sangat minim. Sempat pula terbersit mungkin Lombok tak jauh berbeda dengan kawasan wisata lainnya, yang menjual pantai sebagai destinasi utama, misalnya Bali.

Mengingat saya memang tak begitu suka cuaca panas, ditambah melihat banyak sekali anggota TNI yang hilir mudik berjaga di bandara, serasa sedang berada di kawasan perang bukan di destinasi wisata yang disebut 10 Bali baru.

Ternyata, semua ekspektasi negatif mengenai Lombok langsung berubah ketika keluar dari kawasan Bandara. Pemandangan hijau perbukitan langsung menyapa pandangan mata.

Kebetulan saat di bus memilih duduk di pinggir jendela agar bisa menikmati pemandangan Lombok yang baru berbenah dari bencana.

Menikmati Sepinya Pantai Mawun
Dari Bandara, wartawan langsung diajak menuju daerah selatan Lombok. Destinasi pertama adalah Pantai Mawun.

Pantai ini terletak di Desa Tumpak, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Jika disusuri, pantai ini berada tepat di sebelah barat Pantai Kuta dan sebelah timur Pantai Selong Belanak.

Perlu waktu kurang lebih 45 menit berkendara untuk tiba di pantai ini dari bandara. Tapi tidak usah merasa bosan di perjalanan, karena mata terus-terusan disuguhi pemandangan alam Lombok yang hijau oleh perbukitan dan jernihnya lautan.

Saat tiba di Pantai Mawun, langsung dibuat kaget, karena di pantai seindah nyaris tidak ada pengunjung, nyaris kosong.
Bisa dibilang pemandangannya seindah pantai-pantai di Bali namun hampir tak ada turis.

Pantai ini memiliki air laut jernih kebiruan dan diapit dua bukit yang saling berhadap-hadapan. Mata tak berhenti mengagumi eksotisme pantai kosong ini.

Sempat berbincang dengan anak-anak penjual gelang yang menjajakan dagangannya ke setiap turis yang datang. Siti Aminah namanya, usianya baru 14 tahun.

"Jual gelang kaki dan gelang tangan buatan mama, saya juga bisa bantu kakak foto mendorong bukit, bagus nanti hasilnya," kata Aminah sambil memperagakan gaya foto ilusi seperti mendorong bukit yang menjadi latar belakangnya.

Aminah mengaku, sejak gempa Agustus 2018 lalu, Pantai Mawun semakin sepi. Padahal daerah ini tak terdampak langsung oleh gempa bumi berkekuatan 7,2 SR itu.

Ibunya yang membuka kios mie cepat saji dan berbagai minuman seperti es kelapa dan minuman soda lainnya terpaksa harus tutup warung sampai nanti sekiranya musim turis kembali terbit.

"Karena modalnya habis, jualan mama tidak laku. Ya berhenti dulu," kata Aminah.

Saat berkeliling di pantai ini, memang kentara sekali banyak kios pedagang yang tutup warung. Hanya ada dua kios yang saya hitung masih buka. Itu pun sepi pembeli.

Padahal, jika dilihat Pantai Mawun memiliki keindahan tingkat tinggi. Pantai ini sebenarnya sebuah teluk yang diapit dua bukit hijau yang menambah keeksotisan pantai berpasir putih ini, yakni Bukit Pengolo dan Bukit Nettem yang berjejer saling berhadapan di bagian timur dan barat Pantai Mawun.

Jika dilihat dari atas, garis pantainya berbentuk mirip seperti tapal kuda.

Satu jam bukan waktu yang cukup menikmati keindahan Pantai Mawun. Namun karena banyaknya tempat yang mesti dikunjungi, harus berpuas diri untuk menahan hasrat menceburkan diri.

Rombongan lalu diatur kembali untuk menuju Pantai Mandalika, yang menjadi tujuan kedua sekaligus tempat kami akan bersantap siang pertama di Lombok.

Sesaat di Pantai Mandalika
Setelah disuguhi beningnya air laut di Pantai Mawun, langsung bertolak ke Pantai Mandalika.

Di sana tak banyak menjelajah pantai, hanya menikmati makan siang ala prasmanan di Rumah Makan Segare Anak, baru kemudian berjalan-jalan sebentar menikmati pasir Pantai Mandalika yang halus mirip biji merica.

Yang jelas sama seperti Pantai Mawun, Pantai Mandalika pun masih sepi pengunjung.

Eksotisme Pantai
Kurang lebih lima belas menit perjalanan untuk mencapai Pantai Seger dari Pantai Mandalika, Kuta, Lombok.

Pantai Seger sendiri terletak di Desa Sukedane, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.

Gurauan kala itu adalah terkait nama Pantai Seger yang sangat pas dengan suguhan panoramanya. Ya, pantai seger membuat mata lebih segar kala memandang pantai ini dari atas bukit yang mengelilingi garis pantai berpasir putih yang lagi-lagi bentuknya mirip biji merica.

Saat tiba di sana, langsung jatuh cinta untuk kedua kalinya dengan eksotisme deretan pantai di Lombok. Pemandangan alam yang unik saya kira cocok disematkan untuk pantai ini.

Perairan yang jernih serta deretan bukit hijau yang terhampar membuat mata benar-benar merasa segar, terbebas dari pemandangan semrawut yang biasa dilihat di Jakarta.

Tak hanya itu, pemandangan bawah lautnya pun tak kalah indah sehingga wajar jika pantai ini menjadi destinasi favorit bagi para wisatawan domestik dan mancanegara.

Tak pikir panjang, langsung menjajal salah satu bukit yang ada di sisi pantai ini untuk menikmati indahnya Pantai Seger dari atas.
Rupanya, saat menjajal bukit yang kemudian diketahui bernama Bukit Merese ini bukan hanya jatuh cinta, tapi langsung benar-benar merasa sayang dengan Lombok.

Jika Pantai Seger menyajikan kesegaran, maka Bukit Merese menyajikan kekaguman.

Sepanjang mendaki bukit disuguhi pemandangan sapi dan domba milik warga yang sedang merumput. Ketika tiba di atas, rasanya seperti berada di surga dunia.

Pemandangan deburan ombak, batu-batu di tengah lautan, pasir putih di pantai, dan jernihnya air laut membuat berkali-kali berucap syukur dan merasa kagum.

Pengalaman hari pertama saya di Lombok ditutup dengan orgasme mata atas keindahan Pantai Seger dan Bukit Merese.

Teluk Nare dan Berkeliling di Gili Trawangan
Setelah beristirahat semalaman di Hotel Katamaran, Senggigi, Lombok, saya diajak untuk menjajal sensasi 30 menit menuju Gili Trawangan, salah satu dari tiga Gili paling terkenal di Lombok.

Gili sendiri adalah bahasa lain dari pulau di daerah ini. Dan Trawangan adalah gili paling diminati oleh wisawatan dari seluruh negeri di pelosok dunia.

Sekitar pukul 09.30 waktu setempat, menaiki bus menuju Teluk Nare. Rencananya dari Teluk Nare akan menumpang speedboat menuju Gili Trawangan.

Sekitar 10 menit perjalanan dari hotel tempat menginap untuk menuju ke Teluk Nare. Saat tiba langsung berburu sandal jepit dan topi lebar demi menghalau sinar matahari di Trawangan nanti, mungkin juga berniat agar lebih seperti turis alih-alih jurnalis yang sedang mencari berita.

Tak perlu lama, langsung bertolak menuju Gili Trawangan dengan menumpang speedboat. Di titik ini saya kemudian sadar ketika perahu yang saya tumpangi perlahan meninggalkan bibir pantai, bahwa Lombok benar-benar indah tak hanya dipandang dari perbukitan tapi dari tengah lautan.

Teluk Nare dikelilingi perbukitan yang benar-benar hijau, rasanya mata saya benar-benar kagum akan pemandangan yang terhampar hijau.

Tiga puluh menit perjalanan tiba di Gili Trawangan. Diputuskan untuk berkeliling pulau, alih-alih ikut snorkeling.

Karena tak bisa bersepeda, pengunjung bisa memutuskan menaiki delman untuk keliling Gili Trawangan.

Trawangan yang pernah didengar adalah salah satu Gili dengan pengunjung terbanyak. Bahkan pengunjung wisatawan asing bisa mencapai 3000 orang setiap harinya jika dalam suasana low season atau bukan masa liburan.

Sempat berbincang dengan salah satu pedagang di Trawangan. Malik (32) bercerita bahwa Trawangan saat ini berada di masa-masa paling buruk karena kekurangan pengunjung.

"Ya ini enggak sampai setengahnya, sepi. Habis gempa kemarin makin sepi," kata Malik.

Memang benar, saat saya berkeliling tak banyak turis baik asing maupun domestik yang ada di Trawangan.

Meski begitu, Gili Trawangan sudah mulai berbenah. Walau masih banyak puing bekas reruntuhan bangunan akibat gempa, namun keindahan pulau ini tetap yang utama. Deburan ombak, warna air hijau, pasir yang putih tetap menjadi suguhan menarik buat para pencari kebahagian dari berlibur di pinggir pantai.

Dua jam saya berkeliling, Gili Trawangan tetap membuat terhipnotis akan keindahannya.

Menikmati Pisang Goreng di Pantai Selong Belanak
Hari terakhir di Lombok banyak dihabiskan untuk berbincang dengan rekan jurnalis lain. Tapi karena penerbangan malam hari, diputuskan untuk menunggu flight dengan menikmati hari terakhir Pantai Selong Belanak.

Perjalanan dari hotel kira-kira membutuhkan waktu dua jam. Karena kelelahan diputuskan untuk tidur di dalam bus selama perjalanan.

Ketika tiba di Pantai Selong Belanak, langsung terkesima, pantai yang didatangi serasa pantai milik sendiri. Lagi-lagi karena hampir nihilnya turis.

Hanya segelintir orang yang menikmati indahnya pantai dan deburan ombak besar untuk bermain snorkeling, itu pun kebanyakan wisatawan asing.

Karena hari itu akan pulang, jadi diputuskan untuk sekadar makan pisang goreng dan minum teh di pinggir pantai.

Seperti pantai-pantai lainnya di Lombok yang dikunjungi sebelumnya, Selong Belanak juga menyuguhkan eksotisme pantai dengan pemandangan bukit sebagai latarnya, serta pasir putih mirip butiran merica yang segar di mata saat di pandang. (CNNI/h)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru