Jakarta (SIB)-Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan selama menjadi Presiden RI, dirinya telah melakukan banyak terobosan, termasuk mengambil alih aset yang dikelola oleh asing. Dia menegaskan, dia siap untuk mempertaruhkan jabatan dan reputasinya untuk kebaikan Indonesia.
Hal itu disampaikan Jokowi saat deklarasi 'Alumni SMA Jakarta BerSATU' di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (10/2). Awalnya Jokowi mengatakan pemerintah telah mengambil alih beberapa aset tambang yang dikelola oleh asing, di antaranya Blok Mahakam dan Blok Rokan.
"Dipikir, mengambil alih barang seperti itu mudah? Dipikir mengambil alih aset besar seperti itu gampang? Kalau mudah dan gampang dari dulu sudah diambil alih," kata Jokowi.
Ribuan alumni SMA Jakarta yang memenuhi gedung Istora bergemuruh mendengar apa yang disampaikan Jokowi.
"Saya pertaruhkan seluruh jabatan saya, reputasi saya untuk kebaikan negara ini, kebaikan bangsa ini, kebaikan bangsa kita," kata Jokowi.
Dia juga menegaskan dirinya tidak memiliki beban masa lalu. Sehingga tugasnya menjadi Presiden tidak terkekang.
"Saya tidak memiliki beban masa lalu. Tidak apa-apa anak saya jual martabak, anak saya jual pisang nugget goreng," tegas Jokowi disambut tepuk tangan.
Jangan Bikin Resah
Jokowi juga menanggapi soal tudingan APBN yang disebut bocor. Dia pun mempertanyakan kembali tudingan itu.
Sebelumnya, capres Prabowo Subianto menaksir anggaran bocor 25 persen. Nilai itu setara sekitar Rp 500 triliun.
"Saya sampaikan, anggaran kita di 2018 itu Rp 2.000 lebih triliun. Kalau 25 persen bocor itu kan artinya Rp 500 triliun. Itu duit Rp 500 triliun ada di mana? Saya bertanya, hitungannya dari mana?" kata Jokowi.
Jokowi pun menilai tudingan seperti itu bisa membuat masyarakat menjadi resah. Padahal, kata dia, setiap tahunnya APBN itu selalu disahkan oleh persetujuan semua fraksi yang ada di DPR.
"Jangan membuat pernyataan yang membuat masyarakat menjadi resah. Iya ndak? Yang namanya anggaran itu, setiap tahun digodok, disetujui oleh semua fraksi yang ada di DPR, semua fraksi sudah tanda tangan. Artinya, sudah menyetujui, sudah setuju semua," katanya.
Dia juga mengatakan, realisasi anggaran tersebut juga dipertanggungjawabkan dan disetujui oleh semua fraksi di DPR.
"Itu mekanisme politik. Jangan sampai semua sudah tanda tangan, kemudian baru ngomong Rp 500 triliun bocor, bocor, bocor, bocor, bocor, bocor, bocor, bocor, bocor, bocor, bocor, bocor, bocor, bocor, bocor, bocor, dari mana?" kata Jokowi yang disambut teriakan dan tepuk tangan.
Dia juga mengatakan, setiap tahun Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) juga selalu mengaudit penggunaan anggaran oleh pemerintah. Dia mengatakan, hasil audit BPK terhadap kementerian dan lembaga, sekitar 80 persen mendapat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).
"Kalau tidak ada yang benar pasti juga sudah ditangkap yang namanya KPK. Hasil pemeriksaan oleh BPK hampir 80 persen itu WTP, kementerian-kementerian itu. Seingat saya 80 dari 87 kementerian dan lembaga yang ada, sudah berapa persen itu? Sudah 80 persen lebih. Inilah perbaikan yang perlu kita lakukan agar uang rakyat betul-betul bisa kita amankan dan kita pakai untuk pembangunan-pembangunan," jelas Jokowi.
Bukan Diktator
Sementara itu, sehari sebelumnya, sejumlah alumni Trisakti dan Sahabat Trisakti mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin di Pilpres 2019. Deklarasi ini disebut untuk menggelorakan semangat reformasi.
"Semangat reformasi harus tetap menggelora. Namun pelanggaran HAM telah tertoreh dan belum dituntaskan hingga sekarang. Deklarasi ini juga merupakan suatu momen untuk membuka wawasan mereka yang tidak paham apa yang terjadi pada 12 Mei 1998 itu," kata Ketua Alumni Trisakti Pendukung Jokowi, Muhanto Hatta, di Basket Hall GBK, Senayan, Jakarta, Sabtu (9/2).
Muhanto mengatakan deklarasi ini bukan pernyataan biasa, melainkan bagian dari ideologi mempertahankan Pancasila dan Republik Indonesia.
"Karena itu, kita harus menang atau menang mutlak," tegasnya.
Muhanto mengklaim banyak alumni perguruan tinggi seluruh Indonesia yang menyatakan dukungan kepada Jokowi-Ma'ruf. Selain itu, ia mengatakan didukung oleh organisasi massa pro-Jokowi.
"Bersama ini, kami sepakat dan dengan keteguhan hati akan memenangkan pasangan nomor 01 Ir H Joko Widodo dan Ma'ruf Amin," ucapnya.
Pada kesempatan tersebut, diputarkan film dokumenter tentang Tragedi Trisakti 12 Mei 1998 karya Nia Dinata. Saat ada foto Prabowo Subianto muncul dalam ilustrasi pemberitaan, hadirin kompak berteriak 'huuu'.
Seusai pemutaran film, para alumni lalu mengucapkan deklarasi dukungan kepada Jokowi. Capres petahana ini juga diberi jaket dan megafon berwarna merah. Jokowi pun lalu bergaya seperti akan berorasi.
"Bapak-Ibu dan Saudara-saudara sekalian, saya bukan diktator, saya juga bukan pelanggar HAM dan saya juga bukan...," ujar Jokowi melalui megafon.
Pada bagian ini, Jokowi terdiam sejenak. Hadirin lalu menyahut dengan 'penculik'. Jokowi hanya terdiam lalu melanjutkan orasinya.
"Saya tidak memiliki beban masa lalu. Itu saja dan terima kasih atas pemberian megafon ini kepada saya," tegasnya.
Deklarasi ini juga dihadiri Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Erick Thohir, putri mantan presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Yenny Wahid, Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi, Wakil Ketua TKN Abdul Kadir Karding, Wakil Direktur Komunikasi Politik TKN Irfan Wahid, Sekretaris Kabinet Pramono Anung; hingga Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.(detikcom/d/f)