Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 19 Maret 2026

Prof Dr Drs Himpun Panggabean MHum Makes the Impossible Possible

- Minggu, 20 Maret 2016 20:13 WIB
2.317 view
Prof Dr Drs Himpun Panggabean MHum Makes the Impossible Possible
Medan (SIB)- Saya sangat bahagia dan bersyukur kepada Tuhan karena dalam perjalanan hidupku, banyak hal yang tidak mungkin atau hampir tidak mungkin dapat saya buat menjadi mungkin dan nyata, kata Prof Dr Drs Himpun Panggabean MHum yang baru saja menerima SK pengangkatan menjadi guru besar dengan Golongan IV/d.

Menjadi doktor dalam kurun waktu sekitar 3,5 tahun dan guru besar  sekitar 1,5 tahun kemudian merupakan hal yang hampir tidak mungkin pada saat syarat menjadi doktor dan guru besar semakin sulit. Berbeda dari sebelumnya, sekarang untuk menjadi doktor, seseorang harus mempunyai karya ilmiah yang dimuat di jurnal internasional dan untuk dapat mengusulkan jabatan guru besar (profesor) seseorang harus minimal 3 tahun mempunyai gelar doktor kecuali mempunyai karya ilmiah tambahan yang dimuat dalam jurnal internasional bereputasi (terindeks Scimago JR).

Walaupun syarat pengusulan terpenuhi, evaluasi sangat ketat mulai dari PTS dan Kopertis (untuk dosen PTS dan dosen Kopertis) sampai ke PAK  Pusat  serta tim IT dan Validasi yang memungkinkan banyak calon guru besar yang tidak berhasil, kata Dekan Fakultas Sastra Universitas Methodist ini seraya menambahkan bahwa masih banyak temannya satu angkatan di Program Doktor (S3) belum mengikuti seminar hasil.

Hal lain yang dianggapnya tidak mungkin adalah fakta bahwa meskipun dilahirkan di desa terpencil yang tidak dapat dimasuki kenderaan bermotor, Janjiangkola, Pahae, Tapanuli Utara di tengah keluarga miskin,  ia dapat menjadi guru besar. “Bayangkan, karena uang kiriman orang tua tidak cukup ketika kuliah di USU pada Semester 1 sampai 3, saya terpaksa menarik becak dayung dan menjadi tukang parkir,” katanya. 

Didorong kerja keras, keinginan mengubah keadaan, dan ketekunan, pada semester 4, ia berjuang mencari pekerjaan yang lebih baik dan akhirnya diterima menjadi staf pengajar di sejumlah kursus bahasa Inggris; Vidya, Khalsa, dan PPIA. Setelah itu, ia diminta mengajar di berbagai tempat, termasuk di tempat-tempat orang asing dengan bayaran yang lebih tinggi sehingga ia bisa terbebas dari kemiskinan.  

Ditempa keinginan untuk terus lebih baik dari sebelumnya, ia bekerja sebagai penerjemah/wartawan  di Harian SIB serta sejumlah media lainnya, kemudian menjadi dosen Kopertis Wilayah I dpk Universitas Methodist Indonesia, profesi yang mendorongnya untuk melanjutkan studi Program S2 di UNPAD dan S3 di USU.

Selain mengajar di UMI, ia pernah menjabat sebagai PR IV US XII, Dekan FS US XII, PR I UNITA di mana dia menerima banyak pelajaran hidup dan perjuangan dari DR GM Panggabean.

Kesibukannya di luar kampus tetapi tetap mampu secara maksimal melakukan tugas Tridarma Perguruan Tinggi dipandang sebagai  sesuatu hal yang membuatnya  tidak mungkin mampu mengumpulkan KUM yang dibutuhkan untuk kenaikan jabatan akademik.

Prof Panggabean aktif menulis di koran-koran dan jurnal terbitan Medan, Jakarta dan mancanegara. Jumlah artikel yang ditulisnya berskala lintasbidang seperti politik, sosial, ekonomi, pembangunan dan ilmu pengetahuan telah mencapai ratusan yang memungkinkannya diundang berbagai pihak di dalam dan di luar negeri menjadi nara sumber.

Berkat karya seperti ini, pakar Linguistik Diakronis ini mempunyai jaringan yang sangat luas sehingga ia sering diundang sejumlah kepala daerah untuk berdiskusi serta menjadi calon Gubernur Sumut tahun 2003 dan Bupati Taput tahun 2004  sampai tahap uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test). Aktif dalam berbagai kegiatan sosial, Himpun juga pernah menjadi staf ahli DPRD Sumut selama dua periode.

Sepintas, dengan kegiatan-kegiatan seperti itu tidak ada lagi waktu melakukan tugas Tridarma Perguruan Tinngi, tetapi alumni SMA Negeri Tarutung ini justru mengumpulkan KUM untuk bidang penelitian dan pengabdian pada masyarakat dari kesibukan seperti itu.

PESAN KEPADA GENERASI MUDA
Pengalaman ini mungkin sangat berguna bagi generasi muda, khususnya yang miskin dan yang berasal dari desa. Semua hambatan, termasuk kemiskinan dan keterbelakangan tidak bisa melemahkan tetapi justru bisa jadi pendorong mencapai keberhasilan luar biasa yang kelak akan berguna bagi penduduk Indonesia.

Keinginan kuat mengubah kemiskinan, kerja keras, ketangguhan, jaringan luas, minat membaca/menulis, kemampuan berbahasa Inggris, dan pemanfaatan teknologi informasi, yang didukung oleh doa,  akan memampukanmu mengubah  yang tidak mungkin menjadi mungkin dan nyata. (Rel/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru