Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 19 Maret 2026

Roger Duterte, Presiden Terpilih Flipina dengan Beragam Julukan

- Minggu, 15 Mei 2016 21:15 WIB
1.280 view
Roger Duterte, Presiden Terpilih Flipina dengan Beragam Julukan
Roger Duterte
Manila (SIB)- Mereka memanggilnya "Dirty Harry" atau "The Punisher", adapun majalah TIME menyebutnya sebagai pria pengendara motor besar, sebuah kegiatan yang kerap dilakukan sebagai Wali Kota Davao. Sementara warga Davao menjulukinya Digong. Sedangkan komunitas radio komunikasi memberinya call sign Charlie Mike, tapi banyak teman-teman dekatnya memberi nama pangggilan singkat, Rody.

Rodrigo Duterte adalah  Wali Kota Davao, sebuah wilayah terbesar di Filipina, yang memenangkan pemilihan Presiden Filipina pada Senin, 9 Mei 2016. Selama berkarier di politik, Duterte meraih sukses dengan jabatan penting di Kota Davao, antara lain pernah menjadi Kepala Eksekutif Politik Mindanao 1988-1998, 2001-2010, sebelum diambil alih oleh putrinya, Sara, pada 2010-2013. Belakangan, Sara mengundurkan diri hingga jabatan itu kembali ke Digong. Hidup Duterte penuh warna, pendidikannya melompat-lompat dari satu sekolah ke sekolah lain. Meskipun ibunya seorang guru, tapi Si Bengal ini kerap pindah sekolah karena diusir gurunya.

Ketika masih belia, Duterte menempuh pendidikan di  Davao tapi dia sering membolos untuk jalan-jalan, sehingga dua kali dikeluarkan dari sekolah. Ayahnya, Vicente Rodrigo, seorang gubernur Davao pada 1950, marah melihat perilaku anaknya sehingga mengungsikannya ke sebuah kota kecil, Digos City, sekitar 57 kilometer dari Davao, untuk menempuh pendidikan.

Rekam jejak lulusan Universitas Filipina tahun 1968 ini seperti cerita-cerita Cowboy yang sarat dengan adegan tembak-tembakan. Tangan besi Duterte bisa dilihat ketika ia pertama kali memimpin Davao tahun 1988 setelah sebelumnya menjadi wakil wali kota pada tahun 1986. Kejadinya terjadi di sebuah penjara militer di Davao, sekitar 1.000 Km arah tenggara Manila, Filipina.

Penjara itu berubah ramai pada Agustus 1989, ketika Nasser Samparani, bekas sersan angkatan udara Filipina yang masuk penjara karena membunuh, bersama kawannya menyandera 15 penginjil yang mengadakan kebaktian di penjara.

Nasser Samparani meminta disediakan bus menuju Zulu. Sedangkan para sandera dijadikan perisai hidup, termasuk Hamill, seorang penginjil kewarganegaraan Australia. Ketika penyanderaan sudah berlangsung dua hari, tiba-tiba militer Filipina menyerbu masuk penjara tanpa mempedulikan nasib sandera. Akibatnya, semua sandera tewas di tempat. Banyak pihak mengecam operasi pembebasan sandera itu. Tidak bagi Duterte, ia mengaku dirinya yang memerintahkan penyerbuan. Ia beralasan cara itulah yang akan melumpuhkan semangat penyandera.

Lain waktu Duterte membuktikan kampanyenya, yaitu ingin memberantas kejahatan tanpa ampun. "Rumah-rumah duka akan penuh, saya akan memasok mayat," kata Duterte dalam salah satu kampanye, yang langsung disambut sorak-sorai pendukungnya.

Selama memimpin Davao, salah satu prestasi Duterte adalah menurunkan angka kejahatan. Sejak tahun 2001, para bromocorah, pencuri, pemerkosa, pengedar narkotik, dan pelaku kriminal lainnya di kota Davao banyak ditemukan tewas di jalan-jalan. Pemburu kriminal itu menamakan dirinya Davao Death Squad (DDS).
Hasilnya lumayan setiap bulan bisa 15 orang pelaku kriminal tewas. Tingkat kejahatan di Davao pun menurun sampai 50 persen.

Namun aktivis hak asasi manusia menuding dia melakukan pembunuhan terhadap para penjahat tanpa peradilan melalui pasukan pemberantasan kejahatannya. "Saya tidak bisa menemukan jalur yang menghubungkan ke DDS," katanya kepada para wartawan ketika itu.

Toh bukan Duterte kalau tidak mau mengakui kesalahanya termasuk ketika dituduh menggunakan bahasa tak pantas terhadap sandera yang terbunuh. "Jangan membuat saya meminta maaf untuk sesuatu yang telah saya lakukan," kata Duterte kepada wartawan 18 April 2016.

Meskipun dikenal bengal dan temperamental, tapi ada sisi humanis dalam diri Duterte. Jika dia memiliki masalah yang sulit dipecahkan, Duterte suka pergi ke kuburan orang tuanya. Di pusara kuburan tua Kota Davao itu, Duterte berdoa untuk kedua orang tuanya seraya menyampaikan keluh kesahnya.

Dalam laporan Rappler, Duterte memiliki sejumlah rekam jejak kenakalan semasa remaja. Di antaranya adalah ketika berusia 14 tahun, Duterte menerbangkan pesawat kecil di atas rumah tetangganya tanpa sepengetahuan orang tuanya.

Ketika menginjak dewasa dan lulus dari akademi penerbangan, Duterte menerbangkan sebuah pesawat di atas sekolah lamanya sambil melemparkan bebatuan di atas genting sekolah. "Namun beberapa saat kemudian dia minta maaf ke pengurus sekolah," tulis Rappler. Meskipun dijuluki pula sebagai "Lelaki Jelek" tapi dia pandai dalam merangkai kalimat. Bahkan teman-teman dekatnya kagum atas berbagai topik buku yang dibacanya termasuk sejarah Filipina, ekonomi, dan politik.

Duterte juga suka membaca biografi orang-orang besar, di antaranya Napolen Bonaparte, Lee Kwan Yew, dan Barack Obama. Kini, pria 71 tahun itu akan dilantik sebagai Presiden Filipina menggantikan Benino Aquino pada 30 Juni 2016. (T/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru